Bagi saya, film yang bagus adalah ketika film itu menjadi bentuk ekspresi jujur dan liar pembuat film yang merdeka dari segala beban. Bukan film yang dibuat dengan tujuan menang di festival film manapun.
Apabila sebuah film tidak diterima di sebuah festival, bukan berarti film itu sepenuhnya buruk, karena toh masing-masing festival memiliki keberpihakan politik dan preferensinya sendiri.
Salahkanlah programmer juru program festival, terutama festival di negeri barat, karena mereka selalu memilih film-film semacam itu. Saya selalu menyertakan film-film ceria dengan banyak dialog, tapi hampir tidak pernah dilirik.
Rubrik Wacana kali ini membagi sebuah tulisan ringan yang berisi cerita-cerita mengenai bagaimana festival film sebagai ajang yang bukan saja merupakan tempat menonton dan menjual film, melainkan juga tempat bertukar visi, arena pertarungan pandangan serta sebuah ruang yang menyulap sebuah kota menjadi medan transnasional dalam satu atau dua kejap.
The Flower and the Bee karya Monica Vanesa Tedja membaca isu pendidikan seks di Indonesia, dari kacamata seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun. Isu ini dihadirkan secara ironis. Anak-anak tidak dibukakan pengetahuan tentang seksualitas manusia, tapi di sisi lain diharuskan tahu seksualitas dalam konteks yang berbeda.