Adrian Jonathan Pasaribu

Hari Film yang Lain

Selebrasi film Darah dan Doa dan sosok Usmar Ismail pada hari film nasional menyamarkan keragaman gagasan tentang identitas kebangsaan, bahkan mematikan sejumlah warisan sinema Indonesia. Di tengah dinamika sosial-politik dan pasar global yang terus berkembang, kelahiran dan kehadiran film di Indonesia tak sesederhana gagasan rasis seputar status ‘pribumi’ atau ‘orang asli’. Kita perlu memeriksa kembali bab-bab yang selama ini belum atau kurang terbahasakan dalam sejarah sinema Indonesia.... Baca

Bersinema Bersama di Temu Komunitas Film Indonesia 2018

Sudah jadi rahasia umum, mayoritas kegiatan perfilman di Indonesia berlangsung di tingkat akar rumput. Pelakunya: komunitas film. Temu Komunitas Film Indonesia 2018 menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali peran komunitas film dalam perfilman nasional, khususnya di tengah perkembangan sertifikasi profesi dan komisi film daerah.... Baca

Another Trip to the Moon: Asa Sinema Manasuka

Pada satu sisi, realita manasuka Another Trip to the Moon memungkinkan penjelajahan estetis seliar-liarnya. Dunia sendiri, logikanya so pasti beda lagi. Pada sisi lain, realita manasuka Another Trip to the Moon menjadikan gagasan dalam film ini ikutan terserak. Kecuali sketsa generik tentang perwujudan diri yang dilalui Asa, tak ada gagasan yang benar-benar ditekankan dalam film ini.... Baca
Adrian Jonathan Pasaribu

Adrian Jonathan Pasaribu

Cinema Poetica

Salah satu pendiri Cinema Poetica. Ia percaya dialektika mengatur hajat hidup warga dan, terkadang, perkara asmara. Dari 2007 hingga 2010, Adrian menjadi pengurus program di Kinoki, bioskop alternatif di Yogyakarta. Dari 2010 sampai 2015, ia bekerja untuk Yayasan Konfiden sebagai anggota redaksi filmindonesia.or.id. Pada 2013, Adrian berpartisipasi dalam Berlinale Talent Campus sebagai kritikus film, dan semenjak itu rutin menyelenggarakan atau mengisi lokakarya penulisan kritik film atas nama Cinema Poetica. Ia juga sempat menjadi kurator untuk sejumlah festival film, meliputi Festival Film Dokumenter, Jogja-NETPAC Asian Film Festival, dan Singapore International Film Festival. Saat ini, Adrian bekerja lepas sebagai editor, penulis, dan peneliti.

Send this to a friend