Yang Alternatif, Yang Dominan: Film Indonesia di Panggung Sinema Dunia

Narasi ini disusun berdasarkan riset kolaboratif dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tentang rekognisi film Indonesia di dunia internasional. Riset dilakukan melalui proses penelusuran, pengolahan, dan analisis atas hasil pengumpulan data digital dari media daring serta publikasi penyelenggara festival internasional dari dalam dan luar negeri yang dipublikasikan di internet.
Delegasi perfilman Indonesia bersama figur sinema internasional saat ramah tamah Indonesian Night di Cannes Film Festival 2025 (foto: Kementerian Kebudayaan).

Film Indonesia kian lumrah singgah di etalase film antarbangsa. Pada 2025 ada 126 film Indonesia beredar di festival internasional, dalam program kompetisi maupun nonkompetisi, serta 9 proyek film yang berproses di berbagai lab dan forum pendanaan antarbangsa. Capaian ini menandakan peningkatan kuantitatif dari dua tahun sebelumnya. Pada 2024 tercatat ada 78 film Indonesia di festival internasional dan 11 proyek di bursa sinema dunia, sementara pada 2023 ada 73 film dan 3 proyek film. Mata komunitas internasional makin akrab dengan film Indonesia, sementara film Indonesia konsisten melaju di lintasan sinema dunia.

Keterwakilan film Indonesia di tataran global mewujud lewat beragam bentuk. Untuk film yang sudah diproduksi, 48 penghargaan berhasil dimenangi 23 fiksi pendek, 18 fiksi panjang, 5 dokumenter pendek, dan 2 dokumenter panjang. Sementara untuk proyek film yang masih dalam pengembangan, total ada 4 penghargaan diperoleh untuk dokumenter panjang dan pendek, serta fiksi panjang. Rute film-film Indonesia di sirkuit internasional pun cukup melanglang-buana, tepatnya 91 festival film di 36 negara yang tersebar di wilayah Asia, Australia, Eropa, dan Amerika. Jumlah ini menunjukkan peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya, dengan 48 festival pada 2024 dan 42 festival pada 2023.

Di antara film-film yang singgah di panggung sinema dunia tahun lalu, Pangku (2025) tampak yang paling banyak diberitakan media massa. Menceritakan fenomena kopi pangku di Pantura sebagai bingkai kehidupan seorang perempuan yang berjuang untuk keluarga, debut penyutradaraan film panjang Reza Rahadian ini mencatat sederet prestasi mentereng. Di tingkat internasional, Pangku meraih empat penghargaan di Busan International Film Festival (Korea Selatan), yakni Face of the Future Award (talenta menjanjikan), FIPRESCI Award (dari International Federation of Film Critics), KB Vision Audience Award (pilihan penonton), dan Bishkek International Film Festival-Central Asia Cinema Award. Di Asia Tenggara, Pangku menerima NETPAC Jury Prize untuk Best Asian Film dari QCinema International Film Festival 2025, Filipina, beserta tayang di bioskop Malaysia TGV Pavilion Bukit Jalil. Perjalanan film ini masih berlanjut pada 2026, di Göteborg Film Festival, Swedia, untuk Ingmar Bergman Competition.

Dalam persepsi liputan media, Pangku menjadi irisan langka antara dunia festival film internasional yang kerap dicap eksklusif dengan popularitas di panggung-panggung budaya populer di Indonesia. Sejak rilis publik pada 6 November 2025 di Indonesia, film arahan Reza Rahadian itu meraih 562.332 penonton selama 41 hari mengisi jaringan bioskop komersial. Capaian ini menempatkan Pangku di lima puluh besar box office film Indonesia tahun lalu. Mungkin nama Reza Rahadian yang teramat tenar sebagai aktor kawakan menambah daya tarik, mungkin warga Indonesia ingin melihat film berlatar Pantura. Pastinya, Pangku secara umum diberitakan dan diulas positif di media-media massa Indonesia, bahkan sukses meraih empat Piala Citra di Festival Film Indonesia 2025 dan tujuh nominasi di Festival Film Tempo 2025, salah satunya untuk Film Favorit Penonton.

Pangku bukanlah satu-satunya film Indonesia yang menembus pasar internasional. Jumbo (2025), film yang jumlah penonton bioskopnya di Indonesia mencapai angka 10 juta lebih, dikabarkan tayang di bioskop-bioskop Meksiko mulai 1 Januari 2026. Jumbo juga mendapatkan hak tayang di 40 negara yang tersebar di Asia Tenggara, Timur Tengah, Amerika Latin, serta Rusia. Jumbo pun bukannya tanpa rekognisi internasional, karena film ini menjadi official selection di Sharjah International Film Festival for Children & Youth 2025 (Uni Emirat Arab). Film Indonesia lain yang juga tayang di bioskop luar negeri adalah Agak Laen: Menyala Pantiku! (2025), di Malaysia, perdana pada 4 Desember 2025 hanya seminggu setelah rilis di dalam negeri. Pada hari perdana penayangan di negeri jiran, Agak Laen meraup 272.846 penonton. Angka satu juta penonton berhasil diraih pada hari ketiga di bioskop. Capaian-capaian ini, bisa diduga, turut mendominasi liputan di media massa.

Yang masih jarang dibahas adalah keragaman bentuk rekognisi yang dicapai film Indonesia di panggung sinema dunia. Percakapan publik, yang turut banyak dipengaruhi oleh peredaran berita di semesta media, umumnya menempatkan capaian film Indonesia pada dua bentuk: kemenangan di festival film dan rekor box office di bioskop. Untuk film-film yang sukses di festival pun, sorotannya juga seringnya terbatas pada nama megah macam Cannes (sebagai panutan capaian artistik) dan Oscars (sebagai cap kualitas dari industri film paling populer di dunia). Rilis apapun yang melibatkan nama keduanya bisa dipastikan bakal ramai dikutip dan beredar di media massa, seolah keduanya terasa seperti ‘puncak’ dari rekognisi film di panggung sinema dunia. Faktanya, di Amerika Serikat dan Prancis, di negara tempat kedua acara-acara akbar ini diselenggarakan, ada ratusan festival film internasional yang namanya nyaris tidak pernah disorot media massa Indonesia. Ini baru di dua negara, dua benua. Kita belum melihat ke Afrika nun jauh di sana; ke tetangga kita Australia; ke benua besar yang menaungi negara kita, Asia; atau bahkan ke negara kita sendiri, yang juga memiliki sejumlah festival film skala internasional, dengan ceruk kuratorial yang bisa jadi berbeda pula.

Dari sini, kita perlu lebih tajam sekaligus juga lebih luwes dalam menelusuri corak rekognisi di dunia film. Rekognisi film Indonesia dalam paparan ini mengacu pada dua kategori. Pertama, keikutsertaan film Indonesia di kegiatan kompetisi, baik di kegiatan acara pemberian penghargaan film (awards ceremony) maupun di festival film. Kedua, penayangan film Indonesia di program non-kompetisi di festival film. Kedua kategori dilakukan oleh festival film internasional atau organisasi film internasional. Festival film mengacu pada kegiatan perayaan film yang berlangsung dalam periode tertentu, di tempat tertentu secara geografis dengan program penayangan film serta program-program pendukung lainnya. Organisasi film mengacu pada organisasi atau asosiasi yang umumnya sudah cukup dikenal di industri film global. Adapun cakupan internasional mengacu pada festival yang menyelenggarakan program kompetisi yang membuka dan menerima keikutsertaan film-film internasional.

Khusus untuk rekognisi di festival film, kita perlu melihat bagaimana setiap festival film memiliki identitasnya masing-masing, yang terwujud lewat fokus kuratorial, desain acara, dan pilihan film pemenang. Di antara sesama festival besar saja ada ceruk-ceruk sendiri yang hendak diisi. Cannes, misalkan, dikenal dengan karpet merah dan penghargaan Palme d’Or-nya, sementara Venice identik sebagai festival film tertua di dunia. Berlinale menawarkan desain program yang mawas isu politik dan sosial, sementara Toronto International Film Festival memiliki segmen People’s Choice Award yang sering kali menjadi indikator pencapaian suatu film menjelang Oscar. Di sisi lain, ada Sundance yang identik sebagai festival karpet merah untuk sinema independen dan talenta generasi baru, serupa nafasnya dengan International Film Festival Rotterdam (IFFR) di Belanda dan Busan International Film Festival (BIFF) di Korea Selatan.

Tidak memenangi penghargaan di suatu festival bukan berarti suatu film buruk. Rekognisi di dunia seni, dan film pada khususnya, beda sifatnya dengan kompetisi atletik, yang tajam mengerucut pada yang paling cepat, kuat, dan unggul. Dunia seni tidak melulu soal peringkat di podium. Dalam dunia seni, kesempatan untuk bisa hadir dan diwacanakan di ranah publik turut menawarkan nilai tersendiri. Oleh karena itu, apabila suatu film terpilih untuk berkompetisi atau tayang dalam program nonkompetisi di suatu festival, tandanya ada aspek dari film tersebut yang diapresiasi oleh festival terkait. Kemenangan di suatu festival sendiri tidak hitam-putih menarasikan kualitas film. Beberapa faktor di luar nilai artistik juga memengaruhi, sering kali terkait dengan karakter tiap festival itu sendiri. Dari sini, bisa dibayangkan bahwa rekognisi menarget berbagai aspek, bahkan dalam suatu kemenangan di festival. Tidak mengherankan sebetulnya, jika mengingat kembali kompleksitas film sebagai medium ekspresi.

Rekognisi lewat penayangan dan kemenangan di festival-festival film asing yang kaliber atau bioskop-bioskop luar negeri memang semarak dan tentu punya tempatnya sendiri. Namun, ada persentase besar film-film Indonesia yang menerima rekognisi internasional dari festival-festival yang mungkin namanya belum pernah kita baca di media massa nasional. Banyak dari rekognisi ini juga tidak berupa kemenangan atau pemilihan resmi di festival, melainkan penayangan di ruang-ruang alternatif atau galeri seni dan museum, atau bahkan, dijadikan bahasan di acara-acara akademis. Banyak dari rekognisi ini berupa proyek-proyek film yang beredar di program lab dan pendanaan di festival-festival di luar arus utama, yang kemudian menemukan jalurnya lewat peluang atau tawaran ko-produksi. Keragaman bentuk rekognisi ini perlu ditelusuri dan dimaknai secara lebih utuh dan saksama.

Delegasi perfilman Indonesia berbincang tentang warisan semangat Bandung dalam sinema dunia (foto: dokumentasi Gayatri Nadya).

Panggung Hadir dalam Berbagai Bentuk

Rekognisi berperan krusial dalam mendorong ekosistem film yang lebih giat, terlebih yang sumbernya internasional. Dalam tiga tahun terakhir, selalu ada perwakilan film Indonesia yang bersaing di jajaran festival film ternama di dunia. Dua yang menonjol adalah Basri & Salma dalam Komedi yang Terus Berputar (2023) dan Tale of the Land (2024) karya Loeloe Hendra. Basri & Salma berkompetisi Sundance dan Cannes, dan film pendek karya Khozy Rizal itu sukses menang di tujuh festival internasional. Sementara itu, Tale of the Land berkompetisi di Busan dan membawa pulang FIPRESCI Award, yang diberikan oleh International Federation of Film Critics kepada film yang dinilai mengagumkan.

Rekognisi dari dunia internasional ini penting dan patut diapresiasi. Namun, tak kalah penting adalah pengakuan dan apresiasi dari bangsa sendiri terhadap rekognisi tersebut. Dari sini muncul kebutuhan untuk perspektif yang menyeluruh terhadap rekognisi, bukan hanya yang mentereng dan dominan, tetapi juga yang sedikit remang-remang dan alternatif. Dalam kasus rekognisi dari festival film, artinya perlu dilihat festival-festival film yang namanya terdengar asing atau sama sekali tidak pernah melewati pelupuk mata, atau, festival-festival film ‘besar’ yang jarang disorot di media-media Indonesia. Kemudian, untuk tayang-tak-tayangnya film di bioskop, perlu dilihat juga skema-skema penayangan alternatif yang menggandeng film-film tersebut.

Ya, tidak semua film Indonesia yang tayang di festival internasional juga ditayangkan di bioskop Indonesia. Sebanyak 9 film dari total 21 film yang tayang di festival internasional tahun 2025 tidak tayang di bioskop. Dua judul yang mungkin familier di telinga khalayak umum adalah The Fox King yang dibintangi Dian Sastro dan Kitab Sijjin & Illiyyin yang merupakan sekuel dari Sijjin, yang meraih 1,92 juta penonton di bioskop Indonesia pada 2023. Sebanyak 6 di antaranya adalah film dokumenter, yang memiliki preseden tersendiri untuk penayangan di bioskop. Jika ada film dokumenter yang tayang di bioskop, kemungkinan film asing, umumnya tentang rekaman perjalanan grup musik idola. Tak ada dokumenter Indonesia yang tayang bioskop pada 2023 dan hanya satu yang tayang pada 2024, yakni Eksil karya Lola Amaria. Dari semua film-film yang tidak berhasil mendapatkan slot bioskop dalam negeri ini, tidak sedikit yang kemudian menemukan tempatnya di platform pemutaran online dan pemutaran-pemutaran alternatif. 

Membahas festival-festival film yang namanya memicu hasrat membuka ponsel dan membuka mesin pencarian, di segmen fiksi pendek, beberapa judul berhasil membawa pulang kemenangan dan nominasi dari beberapa festival film. Little Rebels Cinema Club, misalnya, menceritakan petualangan seorang remaja dan kawan-kawannya membuat filmnya sendiri karena kota mereka tidak memiliki bioskop. Pada 2025, film ini memenangi penghargaan Crystal Bear untuk kategori Generation Kplus Short Film di Berlinale atau Berlin International Film Festival (Jerman), Best Short Live Action di Kyoto International Children’s Film Festival (Jepang), serta Best Live Action Short Award di Raindance Film Festival (Inggris). Pada tahun yang sama, film ini juga lolos seleks dan tayang di tiga festival lain: Monsters – Fantastic Film Festival (Italia), Palm Springs ShortFest (AS), dan QCinema International Film Festival (Filipina). Dari deretan festival ini, Berlinale cukup dikenal di khalayak pelaku dan penikmat film. Yang masih jarang dibahas adalah Kyoto International Children’s Film Festival, yang memilih film dengan anak-anak sebagai karakter utama, dan memiliki staf anak serta juri anak dalam penyelenggaraannya. Bentuk rekognisinya boleh jadi berbeda dengan yang ada di imajinasi populer, namun value yang ditawarkan jelas tak bisa disepelekan.

Selain anak-anak kecil yang ingin membuat adegan zombi, ada juga Sammi, Who Can Detach His Body Parts. Seperti yang tersirat dari judulnya, film arahan Rein Maychaelson ini bercerita tentang Sammi, yang bisa melepas dan memberi bagian-bagian tubuhnya kepada orang-orang tercintanya. Film pendek ini memenangi sepuluh penghargaan dan terpilih sebagai film seleksi di tujuh festival asing. Menyebutkan satu per satu festival film internasional yang menayangkan Sammi jelas akan makan banyak tempat, tetapi sebagai gambaran, Maniatic – Valencia International Fantastic Film Festival 2025 (Spanyol) memenangkan Sammi di kategori Special Jury Prize/Best Jury’s Special. Festival ini berfokus pada film pendek bergenre fantastis dari seluruh dunia untuk dibawa bertemu penonton. Selain sebagai etalase talenta baru, festival dengan ceruk genre seperti ini penting sebagai laboratorium atau kesempatan bagi pembuat film untuk bereksperimen dengan genre terkait, untuk coba teknik penceritaan atau metode penyutradaraan lain, yang bisa jadi tidak atau sukar mendapat tempat di festival-festival macam Cannes atau Berlinale yang fokus kuratorialnya lebih luas atau umum.

Ada pula Daly City (2024) yang aktif beredar di sirkuit festival internasional pada 2025. Film pendek arahan Nick Hartanto ini mengangkat tema diaspora Indonesia di Amerika Serikat lewat seorang anak kecil yang mempertanyakan kebohongan keluarganya, menyajikan lapisan isu identitas dan penerimaan sosial. Daly City tayang di lima festival pada 2024 dan sepuluh festival pada 2025–sembilan di antaranya berpuncak pada kemenangan. Jumlah total penghargaan Daly City hampir menyaingi Sammi, dan salah satu festival yang dimenangi adalah Salute Your Shorts Film Festival Amerika Serikat), yang terafiliasi dengan Academy Awards. Artinya: kemenangan di festival tersebut membuat Daly City lolos kualifikasi untuk dipertimbangkan sebagai nomine Best Live Action Short Film di Academy Awards 2026.

Daly City tidak sendiri. Ia turut didampingi dua film yang dibahas di bagian ini, Little Rebels dan Sammi. Secara berurutan, Little Rebels lolos kualifikasi untuk mendaftar ke Academy Awards lewat kemenangan di Raindance sementara Sammi setelah meraih penghargaan di Krakow International Film Festival di Polandia. Bersama Sore: Istri dari Masa Depan (2025), yang secara khusus didaftarkan oleh Komite Seleksi Oscar Indonesia, ketiga fiksi pendek tersebut berpotensi mewakili Indonesia dalam penghelatan film paling bergengsi favorit media massa dan jalurnya banyak melalui berbagai tempat singgah yang masih jarang disorot.

Menjadi Bagian dari Sinema Dunia

Pemandangan gemerlap di puncak memang mudah memenuhi imajinasi, tidak mengherankan jika capaian di level tersebut seperti menyita seluruh perhatian. Namun, pohon yang tinggi, besar, dan kokoh bermula dari akar yang kuat menancap ke tanah yang subur. Tidak ada elemen yang tidak penting dalam ekosistem film, dan apresiasi terhadap rekognisi internasional yang diterima oleh karya-karya dalam negeri adalah pupuk yang bisa menyuburkan. Agar ekosistem terwujud sehat, ladang untuk berkreasi tentu harus subur merata. Persebaran pupuk perlu efisien menjangkau segala sudut tanpa terkecuali. Dalam hal ini, kita perlu turut melihat capaian film Indonesia melampaui kemenangan di festival. Faktanya, partisipasi dalam nafas kompetitif semacam itu turut dimungkinkan oleh bentuk partisipasi lain, yakni keikutsertaan dan pendirian film Indonesia sebagai bagian dari budaya dan warisan sinema dunia.

Pada 2025, sejumlah karya dan proyek film Indonesia memperluas petak di satu titik ekosistem. Turang (1957) karya Bachtiar Siagian, salah satunya, tayang di IFFR dalam program Focus: Through Cinema We Shall Rise! Program ini merayakan ulang tahun ke-70 Konferensi Asia-Afrika di Bandung, yang salah satu kesepakatannya menghasilkan jaringan seni-budaya lintas benua–salah satunya sirkuit Afro-Asian Film Festival. Turang tayang pada edisi perdana festival tersebut pada 1958 di Tashkent, Uzbekistan, dan setelahnya lama tidak beredar di Indonesia karena sutradaranya terafiliasi dengan gerakan kiri. Di IFFR 2025, Turang ditayangkan bersama film-film lain yang juga pernah singgah di Afro-Asian Film Festival, yang setelah Tashkent turut singgah di Kairo pada 1960 dan Jakarta pada 1964. Pada masanya, film-film ini menjadi simpul bagi bangsa-bangsa yang baru merdeka di Asia dan Afrika untuk menggalang solidaritas melawan kolonialisme dan imperialisme. Signifikansi ini yang didiskusikan di IFFR lewat forum dialog bertajuk The Spirit of Bandung: Co-Productions and Film Festivals as Catalysts for Collaboration.

Di sana, Turang memang tidak hadir untuk berkompetisi, namun ia mendapat rekognisi dalam bentuk retrospeksi, dalam wujud pengakuan perannya di lintasan sejarah dunia. Dalam konteks ini, film dimaknai sebagai medium yang mewujudkan interaksi. Dengan berbagai konotasi historis yang menyertainya, Turang menuntut apresiasi yang melintasi medium dan ruang. Nilainya sebagai karya, baik sebagai ekspresi artistik dan artefak sejarah, bisa terungkap sepenuhnya melalui program-program yang mendampingi penayangan film, dari pameran hingga diskusi panel. Momen kembalinya Turang di sirkuit internasional dalam konteks politik yang berbeda menjadi momentum untuk mewacanakan ulang sekaligus menegaskan posisi posisi film Indonesia dalam warisan budaya dunia. 

Presiden Soekarno di pembukaan Festival Film Asia-Afrika, Jakarta, 1964 (foto: Arsip Nasional Republik Indonesia).

Situasi Turang bisa dilihat sebagai pelajaran dan titik balik komitmen terhadap masa depan sinema Indonesia. Hal tersebut sejatinya tercermin dalam program lain di IFFR 2025, yang turut membuka ruang bagi sinema Indonesia hari ini melalui program Focus untuk karya-karya Timoteus Anggawan Kusno. Lahir di Yogyakarta dan saat ini berdomisili di Amsterdam, Timoteus lebih identik dengan karya-karya lintas medium, yang sebagian mewujud sebagai video dan film eksperimental. Karyanya lebih akrab dengan galeri seni dan museum alih-alih bioskop atau ruang penayangan sejenisnya. Di IFFR 2025, Timoteus berkesempatan menayangkan lima film pendek yang ia produksi, yang membentang dari Others or ‘rust en orde’ (2017) hingga Unreleased (2025), beserta serangkaian lukisan arang yang mengilustrasikan polemik kuasa dan sejarah–dua topik yang rutin mewarnai karya-karya film Timoteus. Sama seperti Turang, film-film ini tidak hadir untuk berkompetisi. Ia menjadi bermakna melalui rekognisi atas capaian artistiknya yang dinilai unik, yang sukar dikotakkan dalam kerangka umum perihal kekaryaan sinema. Sebagai perwakilan film Indonesia, ia menjadi bagian dari percakapan publik tentang berbagai kemungkinan pengembangan medium dan pengalaman sinema.

Rekognisi dengan nafas serupa bisa pula ditengok di La Cinémathèque française, salah perintis dan panutan lembaga arsip film di dunia. Menyediakan museum dan perpustakaan serta berbagai program penayangan film, La Cinémathèque mengundang sepuluh film Indonesia dalam program retrospeksi memperingati 75 tahun hubungan diplomatis Indonesia-Prancis. Film-film yang diundang beragam dari segi tahun produksi, genre, dan signifikansi kultural, meliputi 3 Hari untuk Selamanya (2007) karya Riri Riza, Benyamin Biang Kerok (1972) karya Nawi Ismail, Pengabdi Setan (2017) karya Joko Anwar, Daun di Atas Bantal (1998) karya Garin Nugroho, Darah dan Doa (1950) karya Usmar Ismail, Berbagi Suami (2006) karya Nia Dinata, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) karya Mouly Surya, Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982) karya Chaerul Umam, Turang (1958) karya Bachtiar Siagian, dan Before, Now & Then (2022) karya Kamila Andini. Masing-masing mewakili era dan bentuk kekaryaan yang khas dalam lintasan sejarah film Indonesia, yang melalui program ini turut dibahasakan sebagai bagian dari khazanah sinema dunia.

Beragam bentuk rekognisi asing, dan seringnya di luar jalur utama, ikut membuka jalan bagi proyek-proyek film Indonesia untuk memasuki skema ko-produksi internasional. Pada 2025, Indonesia turut ambil peran dalam Renoir karya Chie Hayakawa, yang merupakan proyek ko-produksi Indonesia bersama Jepang, Prancis, Singapura, dan Filipina. Renoir kemudian lanjut memenangi tiga penghargaan dan empat kali terpilih seleksi festival, salah satunya Cannes untuk program kompetisi utama memperebutkan Palme d’Or. Sebelum Renoir, Indonesia sudah punya rekam jejak film ko-produksi berprestasi, seperti Yuni (2021) karya Kamila Andini, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021) karya Edwin, Autobiography (2022) karya Makbul Mubarak, dan Crocodile Tears (2024) karya Tumpal Tampubolon. Sementara itu, untuk proyek yang belum diproduksi, ada Empat Musim Pertiwi milik Kamila Andini yang sudah memperoleh dua penghargaan dari Tokyo Gap-Financing Market/TGM 2025 (Jepang) yang merupakan bagian dari TIFF, yaitu Tokyo Project Award untuk film paling menonjol oleh komite seleksi dan Kongchak Studio Award untuk dukungan pengerjaan suara pada fase pascaproduksi di Kamboja. Ada pula Watch It Burn milik Makbul Mubarak, yang menerima tiga penghargaan, berupa dukungan dana produksi dari TorinoFilmLab Meeting Event 2023 (Italia), Asian Project Market di BIFF 2023, dan Red Sea Souk Awards 2024 (Arab Saudi).

Serupa pohon yang tumbuh mengikuti cahaya matahari, pemilik karya tentu berkeinginan untuk mencari rekognisi yang lebih tinggi. Saat pembuat film berkesempatan membawa karyanya ke luar, ada konteks budaya dan nasional yang dibawa lewat interaksi yang tercipta. Di alam, saat dua ekosistem bertemu, zona transisi (ekoton) yang kaya terbentuk, melahirkan interaksi kompleks seperti kompetisi, predasi, atau simbiosis, yang bisa menstabilkan atau merusak keseimbangan. Perubahan di suatu ekosistem akan selalu berdampak pada ekosistem lainnya. Lewat film dan cerita, selain aspek diri, ada aspek-aspek lain yang secara sadar atau tidak sadar dibawa. Setiap bentuk rekognisi bagi film Indonesia adalah cikal bakal interaksi yang membawa ekosistem sinema dalam negeri bersentuhan dengan ekosistem sinema berbagai negara, menciptakan ekoton-ekoton yang membentuk ekosistem sinema global. Tentu, kita menginginkan bentuk interaksi yang bersahabat: kompetisi dan simbiosis. Kompetisi bisa mewujud lewat festival-festival film yang memberi kesempatan untuk karya-karya dalam negeri bersaing di panggung dunia, sementara simbiosis bisa melalui kerja sama saling menguntungkan berdasarkan beragam bentuk rekognisi yang membuka percakapan.

Jika komitmen sudah ditegaskan, berikutnya strategi perlu dipikirkan. Apresiasi terhadap rekognisi yang diterima film-film nasional, apa pun bentuknya, membutuhkan sumber daya, sementara ekosistem yang sehat tidak bisa terwujud hanya dengan beberapa petak tanah yang menerima perhatian. Perlu ada keutuhan dalam mengapresiasi ragam bentuk rekognisi yang diterima film Indonesia di panggung sinema dunia, karena dengan begitu kita juga bisa secara utuh merengkuh kekayaan sinema di dalam negeri. Di sini, alokasi sumber daya yang merata perlu dipertimbangkan dengan baik berdasarkan target yang jelas dan efektif menjadi penting. Perhatian pada area-area potensial tetap perlu dilakukan, tetapi ‘penyuburan’ berkala secara keseluruhan tidak kalah penting untuk meningkatkan potensi dan melebarkan peluang. Jika akar-akar terawat baik di lahan yang subur, mungkin sekian tahun kemudian sinema Indonesia dapat mewujud sebagai ladang yang akar dan puncaknya sama-sama subur.

Tulisan ini merupakan proyek riset Cinema Poetica yang berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Penulis: Ukky Satya Nugrahani
Editor: Adrian Jonathan Pasaribu

Periset: Adinda Zakiah, AM
Penghimpun Data: Abidzar Ghifary Fachruddin, Karel Jefferson Ebenezer, Regita Andianti Prameswari

Manajer Proyek: Syifanie Alexander

Perancang Strategi Media: Ogi Wicaksana