Ekky Imanjaya tentang pandangan dan pengalaman beliau terkait kritik film di Indonesia. Berbagai tulisannya seputar perfilman Indonesia pernah terbit di sejumlah media, salah satunya situs RumahFilm.
Tidak sedikit kalangan yang menolak ketika media mendudukkan tulisan-tulisan film di meja hiburan. Sebagai hiburan, film hanya ditulis ala kadarnya. Beberapa di antaranya menanggapi dengan membuat media sendiri terkait kajian dan telaah film. Salah satunya Hikmat Darmawan.
Bagaimana kemudian kritik film masih bisa dianggap penting ketika proses kreatif pembuat film dan keasyikan menikmati film justru akan lebih “menantang” jika keduanya mengambil jarak terhadap teks-teks kritik tersebut? "Menantang” bisa dimaknai sebagai nikmat yang tidak bisa disangkal dalam proses membuat film ataupun menonton film. Artinya membuat ataupun menonton film tidak terbatas sebagai sekadar proses menerima, tetapi menemukan dan mengolah gagasan.
Daftar ini bukanlah daftar film terbaik tahun 2013, bukan pula sebuah pembacaan menyeluruh atas film-film yang dibuat pada tahun tersebut. Daftar ini lebih mencerminkan adanya standar tertentu yang dipakai seseorang dalam memilih film-film yang berpengaruh baginya. Bagi saya, daftar ini adalah semacam cermin tempat saya mengaca dan mendapatkan dua hal yang dipantulkan dari cermin tersebut.
Catatan dan renungan selama mengikuti Berlinale Talent Press 2013, program pelatihan kritikus dan jurnalis film sepanjang perhelatan Berlinale Film Festival, 7-17 Februari. Talent Press merupakan bagian dari Talent Campus, rangkaian kelas dan forum diskusi untuk berbagai lini perfilman, meliputi produksi, distribusi, dan apresiasi.
Untuk Alexis Tioseco dan Nika Bohinc, pasangan kritikus film yang menginspirasi saya untuk menulis sepanjang ini. Untuk ayah dan ibu yang rutin mengajak saya menonton film di bioskop sejak kanak-kanak. Untuk kakek saya, mantan proyesionis sebuah bioskop tua di Sukabumi. Dan, untuk kita yang melakukan sesuatu pekerjaan dengan hati tulus.
Jonathan Rosenbaum keberatan dengan anggapan bahwa "spoiler" dalam resensi berpotensi merusak kenikmatan menonton. Debatnya: "Mereka yang meributkan spoiler adalah mereka yang secara naif ingin mempertahankan kepolosan mereka...Faktanya, kita masih perlu mengetahui beberapa hal, bahkan untuk terkejut sekalipun."