Esai

Hari Film yang Lain

Selebrasi film Darah dan Doa dan sosok Usmar Ismail pada hari film nasional menyamarkan keragaman gagasan tentang identitas kebangsaan, bahkan mematikan sejumlah warisan sinema Indonesia. Di tengah dinamika sosial-politik dan pasar global yang terus berkembang, kelahiran dan kehadiran film di Indonesia tak sesederhana gagasan rasis seputar status ‘pribumi’ atau ‘orang asli’. Kita perlu memeriksa kembali bab-bab yang selama ini belum atau kurang terbahasakan dalam sejarah sinema Indonesia.... Baca

Manifesto I Sinema, Dua Puluh Tahun Kemudian

Manifesto I Sinema ditandatangani oleh tiga belas orang pembuat film Indonesia pada Oktober 1999. Setahun sebelumnya, melalui film Kuldesak, sebagian dari mereka terlibat dalam sebuah ‘pemberontakan’ kecil-kecilan dalam dunia film Indonesia. Dua puluh tahun kemudian, Manifesto I Sinema menjadi penanda penting sekaligus sejarah tersembunyi dalam perfilman Indonesia pasca Reformasi.... Baca

Adaptasi Novel ke Film: Praktik Ekranisasi di Nusantara, 1927-2014

Praktik adaptasi novel ke film, biasa disebut ekranisasi, sudah berlangsung di Indonesia sejak zaman kolonial. Sayangnya, sejarah praktik ekranisasi kurang terdokumentasi. Kekurangan dalam dokumentasi dan tinjauan sejarah praktik ekranisasi jadi terasa semakin mengganjal di tengah lumrahnya dan berbagai capaian praktik tersebut sepanjang sejarah film di Indonesia.... Baca
Send this to a friend