Karsa

Hari Film yang Lain

Selebrasi film Darah dan Doa dan sosok Usmar Ismail pada hari film nasional menyamarkan keragaman gagasan tentang identitas kebangsaan, bahkan mematikan sejumlah warisan sinema Indonesia. Di tengah dinamika sosial-politik dan pasar global yang terus berkembang, kelahiran dan kehadiran film di Indonesia tak sesederhana gagasan rasis seputar status ‘pribumi’ atau ‘orang asli’. Kita perlu memeriksa kembali bab-bab yang selama ini belum atau kurang terbahasakan dalam sejarah sinema Indonesia.... Baca

Manifesto I Sinema, Dua Puluh Tahun Kemudian

Manifesto I Sinema ditandatangani oleh tiga belas orang pembuat film Indonesia pada Oktober 1999. Setahun sebelumnya, melalui film Kuldesak, sebagian dari mereka terlibat dalam sebuah ‘pemberontakan’ kecil-kecilan dalam dunia film Indonesia. Dua puluh tahun kemudian, Manifesto I Sinema menjadi penanda penting sekaligus sejarah tersembunyi dalam perfilman Indonesia pasca Reformasi.... Baca

Melihat Sinema Korea Selatan Bekerja

Bong Joon-ho pulang dari Cannes dengan kepala tegak. Ia menjadi sutradara Korea Selatan pertama yang memenangkan Palme d’Or. Ia membawa sejarah baru bagi sinema Korea Selatan, juga bagi sinema Asia. Parasite melanjutkan kejayaan sinema Asia di Cannes—setahun sebelumnya, Shoplifters karya Hirokazu Kore-eda membawa pulang Palme d’Or. Lantas, bagaimana kemenangan beruntun ini bisa kita maknai dalam konteks tumbuh-kembang sinema di Asia pada umumnya dan Korea Selatan pada khususnya?... Baca
Send this to a friend