The Social Network: Sebuah Film (Bukan) Tentang Facebook

social-network-film_hlgh

“You’re not an asshole, you’re just trying so hard to be,” ujar seseorang pada Mark Zuckerberg

Produser Scott Rudin bukanlah orang bodoh. Menilik pengguna Facebook yang mencapai 500 juta orang, ia harus membuat film yang berkaitan erat dengan 500 juta orang tersebut dan tempat nongkrong mereka: Facebook.  David Fincher bertugas mengarahkan.

The Social Network berfokus pada Mark Zuckerberg, anak muda yang membuat Facebook pertama kali dari kamar asramanya di Harvard University. Dan karena Zuckerberg akhirnya menjadi miliarder termuda sepanjang sejarah, maka ia menjadi sangat terkenal. Pertalian Zuckerberg dan Facebook tak pelak menjadikan Rudin dan Fincher semakin bersemangat.

Ada dua ekspektasi penonton yang harus dipenuhi oleh film yang menceritakan kisah sosok tenar. Pertama, penonton ingin mengetahui kisah sosok tersebut dari perspektifnya yang paling personal. Zuckerberg harus digambarkan bukan sebagai penemu aplikasi Facebook dan pemimpin Facebook, Inc, melainkan sebagai manusia biasa yang berangkat dari rintangan-rintangan harian lalu menaklukkannya dengan brilian. Itulah mengapa tayangan infotainment laku keras! Sebab penonton ingin mengetahui bagaimana sosok seorang tenar ketika tidak sedang terwakili oleh media-artifisial. Infotainment akhirnya tampil dalam modus laporan berita meskipun tak ada jaminan bahwa laporan berita ini steril dari manipulasi. Film tentang orang tenar, harus menekan artifisialitasnya serendah mungkin.

Kedua, penonton ingin tahu sebanyak mungkin fakta tentang orang tenar tersebut. khususnya tentang keseharian ketika ia tengah menjadi “manusia biasa” dan insiden-insiden dramatis nan berpengaruh yang akhirnya membuat orang itu jadi “bintang”. Tentu semua orang tertarik menengarai fakta bahwa Justin Bieber memulai karir sebagai biduan Youtube, atau bahwa Klantink (finalis reality show Indonesia Mencari Bakat) dulunya adalah pengamen terminal di Surabaya. Coba bandingkan dengan cerita bahwa konon Mozart sudah menggelar konser tunggalnya di usia empat tahun, orang-orang hanya akan mencibir “Ah, itu mah emang udah bakat”, tak ada unsur dramatis. Dalam hal ini Justin Bieber berpeluang menjadi lebih menarik ketimbang Mozart.

Kedua hal tersebut hanyalah semata harapan. Penonton tak mau tahu bagaimana caranya, seberapapun mahalnya, mereka harus mendapatkan apa yang mereka tunggu. Cara dan biaya biar saja pembuat film yang memikirkan. Dan pahit-manis pengalaman membuat Fincher mafhum bahwa ia harus memenuhi tuntutan-tuntutan itu.

Zuckerberg adalah orang jenius, sungguh bodoh bila Fincher menceritakan bahwa Zuckerberg berhasil karena dia seorang jenius-sejak-lahir. Kehidupannya harus digali dari sudut bahwa ia juga pernah dilabrak cewek, dan sakit hati itu membawanya pada penemuan penting pertamanya, FaceMash, yang adalah embrio facebook. FaceMash hanya dimaksudkan Zuckerberg untuk meluahkan sakit-hati-asmaranya. Film The Social Network berangkat dari premis-premis manusiawi semacam ini. Sebab selain mujarab selaku piranti bagi penonton untuk mengidentifikasi diri,  premis ini juga memenuhi tuntutan fundamental penonton.

Fincher berusaha mati-matian untuk merumuskan bahasa sinematik yang akan ia gunakan untuk memenuhi tuntutan kedua: Ia harus mampu bercerita banyak dalam durasi yang logis. The Social Network akhirnya tampil sebagai film yang menggunakan banyak cutting, baik spasial maupun temporal. Bukan bergaya, tapi itu usaha agar penonton dapat menjumput informasi sebanyak-banyaknya.

Lantas secara cerita, tentang apa sebenarnya film The Social Network ini? Apakah ia film tentang bahasa pemrograman runyam yang akhirnya bisa membungkus dunia dengan jejaring pertemanan? Terkaan ini menguat sebab frase “The Social Network” sudah lumrah dipakai untuk mendefinisikan situs-situs semacam Facebook; frase yang sudah eksis sejak era keemasan Friendster dan MySpace. Apalagi bagi kita penonton Indonesia yang terbiasa dengan stereotip bahwa film tentang jejaring pertemanan pasti menyangkut penggunaan aplikasi secara prosedural, nanti tinggal dibumbui cerita. Ambil contoh film I Know What You Did on Facebook (2010) atau film rilis terbaru Setan Facebook (2010).

Menanggapi ini, Fincher balik lagi ke premis pertama, bahwa penonton tidak ingin melihat Zuckerberg tampil dengan facebook tertera besar-besar di jidatnya, melainkan Zuckerberg sebagia manusia biasa. The Social Network kemudian mengarahkan konflik pada pertikaian sosial yang harus dihadapi Zuckerberg demi proyeknya. Bagaimana ia bermasalah dengan hukum, ekonomi, pergaulan anak muda yang selumrahnya sedang ia lakoni, dan tentu saja asmara. Proyek Facebook mempertemukannya dengan banyak dilema: tuduhan mencuri ide orang, mengorbankan banyak waktu, sampai membuat persahabatannya dengan Eduardo Saverin (co-founder Facebook) menjadi terancam, Zuckerberg bahkan harus sampai pada semacam forum pengadilan. Frase “The Social Network” dalam film yang dibintangi Jesse Eisenberg ini tidak menghadirkan diri sebagai definisi Facebook semata, melainkan juga sebagai definisi bagi hidup dan profesi Zuckerberg sendiri.

Dalam “pengadilan” itu, Fincher dengan cermat menyulap tuntutan pendakwa sebagai pintu kilas balik untuk menceritakan kronologi karir Zuckerberg mulai dari FaceMash sampai Facebook menjadi tenar dengan jutaan pengguna.  Sehingga dalam satu tautan durasi, The Social Network bisa menceritakan dua hal secara bersamaan.

The Social Network memang bukan film terbaik Fincher, hal ini harus ditegaskan karena banyak penonton yang kesal pada Fincher karena tak pernah (bisa) lagi membuat film seperti Se7en (1995) atau Fight Club (1999). Tetapi bagi saya, Fincher tetap membuat The Social Network sesuai porsi, sesuai dengan apa yang ia dan penonton harapkan mengenai film dan orang yang difilmkan dalam film itu.

The Social Network | 2010 | Durasi: 120 menit | Sutradara: David Fincher | Produksi: Relativity Media, Trigger Street Productions Negara: Amerika Serikat | Pemeran: Jesse Eisenberg, Rooney Mara, Andrew Garfield, Brenda Song, Bryan Barter

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (3)
  • Boleh juga (2)
  • Biasa saja (2)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend