Sehabis Gerimis di Layar Misbar

kineforum-misbar_hlgh

Pada dekade 70 hingga 80an, pergi menonton dengan berpenyejuk angin malam dan beratap langit pernah populer di kalangan warga dengan istilah layar tancap atau misbar alias gerimis bubar. Di wilayah sub-urban, biasanya kegiatan layar tancap menjadi salah satu alternatif sajian hajatan di samping penampilan hiburan yang bercirikan kedaerahan, seperti wayang dan ketoprak. Melalui layar tancap, film-film Indonesia yang ikonik dinikmati secara cuma-cuma (atau setidaknya dengan harga terjangkau) oleh penduduk. Cukup sediakan gocek secukupnya untuk membeli jajanan kaki lima yang tersedia di area layar tancap, kita sudah bisa menonton film dengan budget minimal, yang membuat bioskop ini diidentikkan sebagai bioskop rakyat. Sayangnya, bioskop layar tancap sudah jadi pertunjukan langka yang meredup bersama dengan merebaknya bioskop modern (dan tayangan televisi).

Dewasa ini, bagi pemukim ibukota, hiburan bagi warga kian terkungkung oleh tuntutan ekonomi. Tak terkecuali menonton film. Kegiatan itu kini lebih akrab sebagai satu dari sekian banyak ritual kelas menengah: berkendara menuju pusat keramaian, disambut oleh pintu otomatis, memencet tombol lift, membeli tiket yang kuotanya diproses secara digital, lalu duduk menunggu jadwal sambil memeluk berondong jagung, hingga menonton sambil kedinginan di dalam studio. Pergi menonton film pun juga satu paket dengan kewajiban mengunjungi pusat perbelanjaan di mana perangkat hiburan seragam diperangkap. Di sisi lain, untuk menikmati film dengan murah meriah pun harus merasa puas cukup dengan kualitas perangkat pertunjukan yang tak mumpuni.

Lalu, bagaimana jika di tengah pola itu hadir ruang menonton dengan pendekatan alternatif yang, katakanlah, lebih kontemporer?

gambar_Kineforum-misbar_02

Layar Sepanjang Masa

Pada 10 sampai 16 Desember 2013 yang lalu, bioskop layar tancap muncul di pusat kota Jakarta. Adalah Kineforum Dewan Kesenian Jakarta yang menghadirkan kembali pengalaman menonton di ruang terbuka melalui Kineforum MISBAR yang menancapkan layarnya di Lapangan Futsal Monas. Bekerjasama dengan perhelatan seni rupa internasional, Jakarta Biennale 2013, yang mengusung tema ‘Siasat’, Kineforum MISBAR hadir sebagai salah satu bentuk siasat di ruang kota dalam memberikan alternatif menonton bagi warganya.

Menurut Sugar Nadia Azier, manajer Kineforum, MISBAR hadir sebagai tanggapan atas kurangnya bioskop yang dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat. Sebagai salah satu program satelit dari Jakarta Biennale, MISBAR hadir sebagai sebuah instalasi kesenian yang turut menawarkan alternatif atas terbatasnya akses masyarakat Jakarta.

Kineforum sendiri adalah bioskop pertama di Jakarta yang menawarkan ragam program, meliputi: film klasik Indonesia dan karya para pembuat film kontemporer. Bioskop yang tidak mencari keuntungan finansial ini dikelola oleh Dewan Kesenian Jakarta dan relawan muda, dan berlokasi di belakang Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki.

Gagasan akan Kineforum MISBAR berawal dari pertemuan Sugar dengan duo-arsitek Melissa Liando (Indonesia) dan Laszlo Csutoras (Hungaria) dari Csutoras & Liando Studio. Keduanya memiliki ketertarikan dalam merancang arsitektur yang bersentuhan dengan agenda sosial. Dalam pengamatan Laszlo, kultur menikmati hiburan di Jakarta telah tereduksi menjadi kultur untuk mengkonsumsi. “Yang kita temui hanya mal, mal, dan mal; sementara ruang untuk sajian kebudayaan dan hiburan yang terjangkau begitu terbatas.”

Sistem pipa scaffolding bongkar pasang pun menjadi pilihan sang arsitek atas pelbagai pertimbangan, seperti: biaya yang terjangkau, fleksibilitas, perakitan yang cepat, dan material yang dapat dipergunakan berulang kali. Pelapis rangkanya pun menggunakan material yang sederhana: tripleks atau kain netting berlubang. Sifat bioskop layar tancap yang ‘terbuka’ pun dipertahankan dengan penggunaan tirai fasad tembus cahaya sebagai garis batas area MISBAR. MISBAR meruangkan kembali keluangan menonton film yang berpadu dengan kultur mengguyub lewat area sinema yang ‘lapang’.

Dibandingkan dengan kota-kota besar di negara lain, ruang menonton alternatif yang terkenal dengan sebutan pop-up cinemas tak mendapat ruang di kota sebesar Jakarta. Padahal, film merupakan salah satu bentuk hiburan yang merangkap media kebudayaan sedikit banyak berperan dalam membentuk komunitas masyarakat yang menikmatinya.

gambar_Kineforum-misbar_03

Pertemuan, Peleburan

Kineforum MISBAR menyajikan pengalaman menonton sebagai momen mengalami pertemuan dan peleburan. Siasat-siasat pertunjukan film di tengah Monas, salah satu ruang publik tersohor ibukota, mewujudkan aktivitas menonton sebagai alternatif yang sekiranya menjembatani renggang kerutinan antara kelas sosial dalam mengakses hiburan.

Kineforum MISBAR mempertemukan generasi penikmat layar tancap era 70-80an dengan generasi 2000an. Kineforum MISBAR menempatkan kelompok muda-mudi yang mungkin tak begitu ambil pusing apa serunya dialog Ambisi terus mengulang kata “demokrasi” dengan sepasang opa-oma yang mesra berlindung dari hujan sepayung berdua dalam ruang sinema yang sama. Bagi keduanya, Kineforum MISBAR mungkin sama ajaibnya. Pengalaman menonton di MISBAR tak luput menghadirkan pengalaman “kejut-kultur”.

Tengok saja ritual untuk ikut serta dalam menonton. Di MISBAR, kita diharuskan untuk melakukan registrasi untuk menyesuaikan kapasitas tempat duduk. Tentu saja, registrasi ini tak dipungut biaya. Begitu melakukan registrasi untuk film yang akan diputar, panitia langsung ‘mempersenjatakan’ kita dengan jas hujan sekali pakai untuk menonton di bawah langit terbuka; di mana pada bioskop misbar konvensional, gerimis hanya dapat dilawan dengan adu jitu pawang hujan, payung lebar, atau daya tahan tubuh yang kuat.

Pengalaman peleburan lain bisa kita rasakan begitu duduk di bangku penonton MISBAR yang berkapasitas 150 hingga 200 orang dan didesain bertangga layaknya bioskop modern. Bagi yang terbiasa menonton di bioskop modern, posisi duduk dengan lutut menekuk ke depan pun otomatis menjadi perintah otak penonton, sedang beberapa orang memilih duduk bersila sebagaimana menonton di bioskop layar tancap pada umumnya.

Ajaibnya lagi, meski bertajuk ‘gerimis bubar’ dan bertajuk ‘bioskop untuk rakyat’, MISBAR tetap dilengkapi dengan elemen pendukung selayaknya bioskop sungguhan: layar proyeksi kualitas bioskop komersil, proyektor digital 10.000 lumens, dan surround sound system Dolby 5.1. Meski antusiasme pengunjung begitu besar, gagasan bioskop open-air yang sempat tertahan selama setahun ini sayangnya harus terbentur dengan perijinan dan proses konstruksi bangunan sehingga hanya dapat berjalan selama satu minggu.

gambar_Kineforum-misbar_04

Sinema untuk Warga

Pemilihan film sebagai elemen utama dalam Kineforum MISBAR pun juga dipenuhi dengan siasat pertemuan dan peleburan. Jika di bioskop layar tancap konvensional kita hanya dapat menyaksikan film-film jadul nan ikonik seperti film-film Warkop DKI (genre komedi sebagai pembuka), Brama Kumbara (genre laga), atau film-film Suzanna (genre horor menjelang tengah malam), di MISBAR ini kita dapat menonton film dengan rentang tahun produksi yang panjang.

MISBAR memutar mulai dari Apa Yang Kau Tjari, Palupi? yang diproduksi tahun 1969 hingga Sinema Purnama yang diproduksi tahun 2012. Jadwal pemutarannya pun hampir mirip dengan jadwal pemutaran misbar konvensional, yakni pemutaran pukul 19.00 hingga pemutaran pukul 24.00. Kineforum MISBAR ini pun menjadi momen peluncuran hasil restorasi Darah dan Doa (Usmar Ismail, 1950), restorasi film Indonesia pertama yang dilakukan oleh orang Indonesia dan dengan dana dari dalam negeri.

Lingkup calon penonton MISBAR yang beragam latar belakangnya menjadi pertimbangan utama bagi Adrian Jonathan dan Mahardhika Yudha selaku kurator film untuk menghadirkan film klasik dan kontemporer. “Melihat pengunjung Monas yang beragam, kami memilih film yang populis: yang tidak menuntut banyak untuk dinikmati (dan dipahami), tapi juga punya konten yang sangat sangat sangat bisa dipertanggungjawabkan, sehingga siapapun yang lewat bisa ikut nonton walau telat beberapa menit atau sekuens cerita. MISBAR dibangun untuk warga, maka filmnya pun harus bersemangat itu. Sederhananya, pop tapi juga bukan pop yang imbisil,” tutur Adrian.

Pemilihan jadwal film per harinya, menurut Vauriz Bestika selaku pelaksana proyek MISBAR, disesuaikan dengan tema setiap film yang dipilih. “Seperti Badut-badut Kota dan Nagabonar yang ringan dan mengandung unsur komedi kami putarkan di Minggu malam yang santai.”

Selain itu ketersediaan materi film pun turut serta menjadi bahan pertimbangan keduanya. Kualitas high definition yang menjadi keinginan penyelenggara membatasi opsi materi film yang dapat diputarkan. Hal ini yang menjadi alasan mengapa film-film populer yang tadinya ingin disajikan macam Ada Apa Dengan Cinta?, Petualangan Sherina, film-film Warkop DKI, Badai Pasti Berlalu, atau Jelangkung tidak jadi diputar di layar MISBAR.

“Materi film digital jelas bisa langsung dipakai, tapi film-film bermateri digital kan terbatas tahun 2010 ke atas saja. Untuk materi film non-digital alias seluloid, perlu film-film yang materi 35 mm lalu dialihmediakan ke digital HD. Apabila kurang dari 35 mm, terpaksa dengan berat hati kami lewatkan. Alih-media makan waktu, sehingga kami harus strategis dengan waktu persiapan yang ada. Sebisa mungkin tak banyak film 35 mm yang harus dialihmediakan,” jelas Adrian.

Selama seminggu perhelatan, MISBAR sukses mengumpulkan 1700an penonton. “Sebenarnya orang nonton layar tancap kadang gak peduli juga filmnya apa; apa tuh pentingnya Darah dan Doa, siapa itu Usmar Ismail, siapa Asrul Sani,” komentar salah seorang pengunjung yang sempat mengalami maraknya layar tancap di kampung halaman.

Karenanya, tidakkah tertegaskan cukup jitunya siasat MISBAR sebagai upaya mendekatkan film-film Indonesia yang telah terkurasi dengan seksama kepada publik yang selalu terbuka terhadap hiburan alternatif. Maka sepertinya, setelah habis gerimis di akhir tahun ini, kita harus berujar: lekaslah merentang kembali, wahai layar(-layar) MISBAR!

Edisi perdana tulisan ini terbit di Snack Kreavi. Disunting dan diterbitkan ulang dengan izin penulis.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend