Babies: Tuhan (Iseng) Bermain Dadu, Dan Hidup Kalian Berubah Selamanya

babies_highlight

Empat bayi tembem dietalasekan tanpa narator. Tentu sangat jelas efek yang dikejar, yakni efek keimutan yang akan menyergap sesiapapun yang menonton. Bayi-bayi yang dipilih memang sangat lucu, saya yakin Thomas Balmes sang sutradara takkan rela berpayah diri keliling dunia mengambil gambar kalau bayinya tak seimut ini. Balmes menghabiskan masa syuting 400 hari di empat negara berbeda untuk mendokumentasikan satu tahun dalam kehidupan empat bayi dari empat tempat: Ponijao dari sebuah desa kecil dekat Opuwo, Namibia, Bayarjargal dari tengah sebuah sabana di Mongolia, Mari dari reriuhan kota megapolitan Tokyo, dan Hattie dari sebuah keluarga kelas menengah di San Fransisco, Amerika Serikat.

Sepuluh menit durasi film berjalan, sudah mengurat jelas apa yang ingin ditunjukkan oleh Balmes dan Babies, mereka tengah berusaha mengangkat ironi. Lihatlah bagaimana bentuk pemilihan subjeknya. Kenapa ia memilih dua bayi di dunia ketiga dari desa? Ponijao dan Bayarjargal adalah bayi yang sehari-harinya dipelihara oleh alam dan tradisi pedesaan. Sebaliknya, Balmes memilih dua bayi di negara maju dari kota, Mari dan Hattie adalah warga yang terintegrasi kedalam sebuah pusat peradaban: Tokyo dan San Fransisco. Dua kutub ekstrem yang saling berseberangan ini saja sudah cukup untuk melapangkan jurang di antara mereka.

Apa yang akan terjadi bila Balmes memfilmkan seorang bayi dari keluarga kaya dari tengah kota Windhoek (yang juga di Namibia) lalu kemudian memotret seorang bayi dari pedesaan di Okinawa? Tentu jarak antara kedua kutub akan semakin sempit sehingga ironi menjadi tak terasa. Di balik keimutan bayi yang tengah diumbar, terdapat semacam political edge yang tengah ditularkan sembari berbisik.

Saya semakin yakin karena cutting yang diterapkan juga selalu mendempetkan kutub yang berlawanan. Setelah dokumentasi Mari yang tengah berada di lift, kamera dengan cepat pindah ke Ponijao yang tengah asyik bermain dengan kawanan lalat. Sedetik setelah adegan Bayarjargal dijilati gerombolan sapi, kamera langsung pindah ke Hattie yang tengah bermain di taman. Bila diperhatikan, jarang terjadi, Ponijao setelah Bayarjargal dan sebaliknya, serta Hattie setelah Mari dan sebaliknya. Hal tersebut dihindari Balmes, sebab sekali lagi, akan mengurangi ironi.

Balmes menggunakan bayi sebagai semacam pars pro toto untuk menelusupi ketimpangan dunia pertama dan dunia ketiga secara induktif. Itu pula yang menyebabkan, mengapa Balmes tidak memilih satupun subjek dari Eropa padahal  ia sendiri berasal dari Perancis. Alih-alih mengangkat benuanya, di mana terdapat banyak sekali negara dunia kedua, ia malah memilih dua negara dari Asia. Tiga bukti bahwa bayi hanya penampakan universal untuk membisikkan maksud-maksud tertentu. Dalam sebuah wawancara, Balmes mengakui bahwa ia menyukai visi sutradara Michael Moore tapi tidak dengan caranya yang terlalu manipulatif.  Balmes lebih mengakrabi gaya cinéma vérité, dengan tidak memakai narator dan berusaha menekan afeksi kamera serendah mungkin. Babies adalah contoh konkret.

Sebelum diedit, footage film Babies mencapai 400 jam. Ini yang likeable dari Babies, kameraman rela menunggu berjam-jam (hanya) untuk mendapatkan beberapa detik momen asik dari sang bayi. Tentu tak mudah, sebab si bayi belum lagi berumur setahun. Mereka bahkan bisa jadi tak sadar bahwa mereka sedang “diintai” oleh seseorang hingga mustahil untuk diarahkan.  Momen-momen asik inilah yang dipilah untuk menghuni versi final-cut film yang berdurasi kurang dari 80 menit ini.

Dalam rentang setahun, Balmes mengabadikan banyak sekali momen jenaka. Ia gemar memotret subjeknya yang sedang bermain dengan hewan. Ketika Bayarjargal tengah berendam di baskom, sekonyong-konyong datanglah seekor kambing dan meminum air mandinya. Belum lagi Ponijao yang berciuman lidah dengan anjingnya. Keberadaan karakter hewan lebih banyak dikonstruksi sebagai humor, hal ini tentunya dipengaruhi oleh komedian Alain Chabat, yang bertindak selaku produser yang darinya asal-muasal ide film ini digagas.

Selain itu, patut pula dicatat usaha Balmes mewajahkan perbedaan budaya lewat bukti-bukti kecil. Bagaimana ia menyindir para orang tua di negara-negara dunia pertama yang selalu memanjakan bayi mereka dengan mainan modern. Balmes mencibir dan berteriak betapa kuno dan tak menariknya metode itu. Ia justru lebih banyak memotret betapa magisnya anak-anak di dunia ketiga yang tumbuh dengan alam, lihatlah Bayarjargal yang berlarian bersama angin sembari bercengkerama dengan rerumputan. Lihatlah betapa akrabnya Ponijao dengan semua keledai dan mainan kecilnya yang selalu diletakkan diatas kepala. Kemudian amatilah betapa membosankannya Mari dan Hattie yang bermain dengan handphone, boneka, dan alat bantu lainnya. Hanya saja, di sini Balmes bermain riskan. Ada faktor resiko tinggi dimana penonton bukannya menangkap ironi, malah justru akan kasihan dengan Ponijao dan Bayarjargal yang terkesan kotor dan tak terurus dibandingkan dengan Hattie dan Mari yang selalu berpakaian layak.

Toh, yang disasar oleh Babies adalah penonton dewasa, penonton yang setiap hari selalu mengkonstruksi bahwa bayi adalah makhluk yang imut, yang selalu kasihan dengan bayi yang tak terurus. Padahal menurut Balmes, cara tumbuh Bayarjargal dan Ponijao itu adalah sebuah different tradition of wealth yang sangat brilian. Orang tua di negara-negara dunia pertama harusnya merasa malu.

Babies | 2010 | Sutradara: Thomas Balmes | Negara: Perancis | Pemain: Ponijao, Bayarjargal, Hattie, Mari

Cinéma vérité
Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend