Map of the Sounds of Tokyo: Menggali Kesendirian Lewat Tafakur Suara

map-of-the-sounds-of-tokyo_highlight

Map of the Sounds of Tokyo adalah salah satu film yang paling banyak diantisipasi oleh penonton ditahun 2009. Ini Isabel Coixet, sutradara perempuan yang sungguh menawan dalam mengumbar keintiman. Ia pernah sukses lewat sinema melankolia-nya, My Life Without Me, lalu juga Elegy, yang menampilkan keintiman memesona antara dua aktor, Ben Kingsley dan Penelope Cruz.

Map of the Sounds of Tokyo dirancang untuk mendekati eksperimentalisme. Coixet menanggalkan banyak sekali tools andalannya ketika bekerja di film ini. Pertama, ia mengambil setting di Tokyo. Sebuah kota besar dengan budaya yang asing nan kuat, nun di timur jauh sana. Cutting non-tematik dipermulaan film memaksa saya memutar balik ingatan pada Sans Soleil (Chris Marker, 1983), dimana  seorang filmmaker berpetualang dari Guinea ke Jepang untuk mengumpulkan footage lalu dinarasikan. Map of the Sounds of Tokyo pun dinarasikan dari seorang tokoh yang berada dipinggir kejadian. Narrator bukanlah orang yang terlibat paling jauh, justru ia terlibat paling sedikit dalam pusaran peristiwa. Demikian juga yang dilakukan Marker pada Sans Soleil.

Kenapa Coixet memilih untuk memetakan suara yang ada di kota Tokyo? Kenapa harus suara? Tidak hal yang lain lagi yang bisa digali? Pertanyaan saya sedikit mengendur ketika mengamati bahwa Coixet memang melakukan percobaan pada sound untuk menceritakan sebuah kasus tipikal bagi orang-orang di kota besar seperti Tokyo: kesendirian. Narator (tak disebutkan namanya), adalah seorang tua yang berteman dengan Ryu. Ia adalah satu-satunya teman Ryu. Mereka kerap makan dan mengaso bersama. Ryu mulai jarang menemui narrator ketika ia berkenalan dengan David, pemilik toko anggur yang baru saja ditinggal mati kekasihnya.

Ada dua tipe kesendirian yang diperkenalkan Coixet lewat Ryu dan David. Ryu telah meresapi kesendirian sedari mula hidupnya, ia tak pernah bergaul dan bicara dengan banyak orang. Temannya hanya satu, narator. Sementara David pernah mengalami hidup yang ramai sebelum akhirnya dihantam katastrofi, ia kehilangan kekasihnya dan tiba-tiba menjadi sendiri. Coixet menceritakan semua itu lewat absurditas percobaan sound yang ia lancarkan: overlapping cut suara dengan montase gambar, peleburan antara sound diegetik dan sound non-diegetik, serta bagaimana Coixet dengan cerdas menggunakan “bahasa” untuk menggali kesendirian para karakternya.

Begini, bahasa adalah fenomena bunyi (fonetik). Manusia bisa berkomunikasi dengan lancar sehari-hari karena kesamaan bunyi yang keluar dari mulut mereka. Ketika seorang asing lewat didepan dan bicara dalam bahasa asing, kita tak bisa mengenalinya sebab bunyi yang tersuar tak sama dengan bunyi yang kita kenali. Itu yang dialami oleh Ryu ketika bertemu David dan bercakap-cakap. Ryu adalah gadis Jepang berbahasa Inggris pas-pasan sementara David adalah pria Spanyol. Keterbatasan kosakata dalam bahasa menghalangi mereka untuk menebus kesendirian yang telah sekian lama berkecamuk.

Betapa riuh-rendahnya bunyi di kota besar, ternyata tak bisa berbuat apa-apa dalam membasmi kesendirian. Ryu dan David memutuskan menggunakan bahasa selanjutnya, Seks, sebelum akhirnya mereka harus mencari lebih jauh, obat apa yang bisa menyembuhkan mereka. Pertemuan dua orang dengan tipe kesendirian yang tidak sama, tak bisa membantu banyak atas kesendirian satu sama lain. Ryu adalah seorang penyendiri bawaan, dan David adalah penyendiri yang terpaksa harus sendiri. Pertemuan mereka dalam bahasa seksual harusnya bisa membayar apa yang selama ini tak mereka dapatkan lewat bahasa tutur. Tapi apakah itu mencukupi? Apakah mereka harus mencari lebih jauh? Atau apakah mereka harus kembali pada bahasa suara seperti semula?

Lewat Map of the Sounds of Tokyo, Coixet mengangkat keintiman berjarak yang disampaikan dalam bahasa eksperimental, “suara dan bebunyian” adalah korbannya.

Map of the Sounds of Tokyo | 2009 | Sutradara: Isabel Coixet | Negara: Spanyol | Pemain: Rinko Kikuchi, Sergi López, Min Tanaka, Manabu Oshio, Takeo Nakahara

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend