Francois Truffaut: Mimpi Seorang Kritikus Film, Bagian 2

francois-truffaut-02_highlight

Opini André Bazin bahwa “semua film terlahir bebas dan sama derajatnya” kini sudah tidak berlaku lagi. Produksi film, layaknya percetakan buku, kian terdiversifikasi dan terspesialisasi. Selama perang, Clouzot, Carne, Delannoy, Christian-Jaque, Henri Decoin, Cocteau dan Bresson menghadapi kelompok penonton yang sama. Kondisinya sekarang sudah berbeda. Sedikit sekali film jaman sekarang yang ditujukan untuk khalayak luas. Hanya poster film yang ditujukan untuk menarik perhatian seluas-luasnya. Karena jejeran poster film di pintu masuk, orang-orang masuk ke biosop dan menonton film.

Hollywood jaman sekarang memproduksi film untuk kelompok minoritas. Ada film untuk kelompok ras tertentu, seperti penonton keturunan Afro-Amerika dan Irlandia. Ada film untuk penggemar genre tertentu, seperti film silat. Ada juga film untuk kelompok umur tertentu, seperti film anak-anak dan remaja. Satu perbedaan besar industri perfilman dulu dan sekarang adalah ambisi para produser. Jack Warner, Darryl F. Zanuck, Louis B. Mayer, Carl Laemmle dan Harry Cohn mencintai film yang mereka produksi. Mereka bangga akan hasil kreasi mereka. Sekarang, para produser menaruh sebanyak mungkin seks dan kekerasan dalam film mereka. Mereka mengaku kalau mereka terganggu dengan semua itu. Kenyataannya: mereka hanya takut kalah bersaing menjual tiket.

Waktu aku masih jadi kritikus, film terasa lebih hidup, walau tidak se-“pintar” film-film sekarang. Aku memberi tanda kutip di kata “pintar”, bukan karena tidak ada sutradara pintar waktu jaman saya. Sutradara jaman dulu memilih untuk menahan kepribadian mereka supaya film-film mereka terasa lebih universal bagi penonton. Kepintaran ada di belakang kamera. Mereka tidak memaksakan kepribadian mereka muncul di layar. Konsekuensinya: film jaman dulu terlihat sangat menyederhanakan kenyataan. Kita semua tahu kalau hanyak hal yang lebih penting yang dibincangkan di meja makan sehari-hari, ketimbang dialog dalam adegan meja makan di film-film. Lebih banyak juga hal yang lebih berani terjadi dalam kamar tidur setiap harinya, ketimbang dalam adegan percintaan di film-film. Kalau kita memahami kehidupan hanya lewat film, kita mungkin percaya bahwa bayi bisa lahir dari kecupan bibir.

Selama enam puluh tahun lamanya, sinema telah membohongi penontonnya. Cinta terlihat lebih sederhana dalam sinema, dan terasa lebih vulgar dalam pornografi dan film-film erotis. Aku adalah satu dari ribuan pembaca Henry Miller yang tidak saja terpana, tapi juga tercerahkan oleh kedekatan tulisan Miller dengan realita. Miris rasanya membayangkan apa jadinya apabila sinema tidak bisa menyamai tulisan Miller. Kenyataan dalam sinema mungkin sebatas angan-angan saja. Sampai sekarang aku tidak bisa menyebut film erotis yang menyamai tulisannya Miller. Hanya filmnya Bergman dan Bertolucci yang mendekati, namun film-film tersebut sama pesimisnya dengan pembuatnya.

Semua yang aku sebutkan tadi sudah banyak berubah. Sinema tidak saja makin akurat dalam mereplika kehidupan, tapi juga melampauinya. Film terlihat lebih “pintar”, atau lebih intelektual, dibanding penontonnya. Sering sekali kita butuh panduan untuk mengetahui apakah yang teradi di layar bioskop itu fana atau nyata, masa lalu atau masa sekarang, aksi atau hanya imajinasi. Kita jelas sedang memasuki fase baru dari perkembangan sinema, di mana sinema makin bebas dalam memotret realita. Aku yakin akan ada masalah yang timbul dari fenomena ini, mengingat realita dalam wujud gambar dapat lebih mudah dipermasalahkan ketimbang realita dalam wujud tulisan. Namun, itu cerita lain untuk waktu yang lain.

Sementara produksi film makin terspesialisasi, apresiasi mengalami hal serupa. Satu kritikus sangat ahli dalam membedah film-film politik. Kritikus lainnya mahir dalam menganalisa adaptasi novel ke film. Sementara itu, ada kritikus yang hanya bisa menonton film-film eksperimental. Kualitas film-film sekarang jelas mengalami perkembangan, walau belum setingkat dengan harapan beberapa kritikus. Dalam menganalisa, seorang kritikus sebaiknya mempertimbangkan kemungkinan adanya kesenjangan antara ambisi dan pencapaian suatu film. Bila seorang kritikus hanya mempertimbangkan ambisi suatu film, dia akan memuji film tersebut setinggi langit. Bila seorang kritikus punya kesadaran akan bentuk dan cara kerja estetika film, dia akan mengkritisi pencapaian suatu film, lalu membandingkannya dengan ambisi film tersebut.

Kesepakatan antar kritikus hanya mungkin terjadi di masa lampau. Industri film jaman dulu lebih berorientasi ke hiburan. Oleh karenanya, dari sepuluh film yang diproduksi, hanya satu yang punya ambisi artistik. Satu film itu yang dipuji para kritikus, walau belum tentu laris di kalangan penonton. Sembilan film lainnya murni hiburan, namun kritikus akan memuji dua atau tiga di antaranya supaya ada variasi. Sekarang, hampir semua film ambisius. Para produser mulai tidak terlalu khawatir dengan keuntungan filmmnya. Mereka yang pusing soal profit kebanyakan sudah pindah ke bisnis lain, seperti real estate. Sayangnya, fenomena di kalangan produser tersebut baru terjadi di Eropa.

Fungsi kritikus makin ke sini makin seimbang. Aku tidak menyesal telah pindah peran, dari yang mengkritik jadi pihak yang dikritik. Sekarang ini, dalam kapasitasnya masing-masing, semua orang bisa jadi kritikus film. Di Hollywood, ada semacam kepercayaan bahwa setiap orang punya dua pekerjaan: pekerjaannya sehari-hari dan meresensi film. Menjadi kritikus film hanya butuh sepersepuluh dari pengetahuan yang diperlukan untuk menjadi kritikus sastra, musik, dan lukisan. Seorang sutradara harus siap kalau-kalau karyanya dinilai oleh seseorang yang belum pernah menonton Murnau. Seingatku, waktu masih bekerja di koran, setiap orang di redaksi merasa opininya lebih benar dari apa yang ditulis kolumnis film. Aku ingat melihat seorang editor menghardik kolumnis filmnya. Dia bilang, “Kamu benar-benar membantai film terbaru Louis Malle di resensimu. Istri saya sama sekali tidak setuju. Dia sangat suka film itu.”

Beda dengan kompatriot mereka di Amerika, kritikus film di Prancis bekerja dengan misi yang mulia. Setidaknya, mereka beranggapan kalau mereka sedang menjalankan sebuah tugas suci. Mereka mau membuat orang-orang besar terlihat kecil, dan membesarkan orang-orang yang selama ini terlihat kecil. Lihat saja cara mereka menulis. Ada ketidakpercayaan akut dalam tulisan-tulisan mereka terhadap kesuksesan nama-nama besar. Aku curiga mereka sebenarnya hanya ingin terlihat telah mengerjakan sesuatu.

Sejak era new wave di Prancis dan beberapa negara lainnya, film-film bagus tidak saja datang dari lima atau enam negara saja, tapi dari semua belahan dunia. Para kritikus harus berusaha semaksimal mungkin untuk mengekspos film-film tersebut. Satu film bisa jadi hanya diputar di dua puluh bioskop di Paris, sementara film lainnya hanya di sebuah bioskop dengan 90 tempat duduk. Satu film bisa jadi punya bujet $100.000 untuk promosi, sementara film lainnya hanya punya sepersepuluh dari jumlah tersebut. Situasi semacam ini jelas tidak adil. Para kritikus jelas paham dengan situasi yang ada, dan berusaha sangat keras untuk menyeimbangkannya, walaupun resikonya dimusuhi oleh orang-orang industri film.

Aku sangat paham dengan kiprah kritikus Prancis sebagai tukang protes. Aku ada di antara mereka. Lebih tepatnya, aku salah satu dari mereka. Waktu Festival Film Cannes tahun 1958, aku melihat ada sebaris vas bunga tepat di hadapan layar. Aku paham kenapa dekorasi itu ada. Sebuah festival jelas butuh pernak-pernik fiisik agar terlihat meriah. Aku hanya tidak habis pikir kenapa harus ditempatkan di depan layar. Penonton jadi tidak bisa melihat teks yang terletak di bagian baah layar. Aku langsung mendatangi direktur festival dan mengkritik mereka habis-habisan. Tidak tahan dengan komentar pedasku, mereka meminta editorku untuk mengirim jurnalis lainnya ke festival tahun depan. Tahun depannya jelas aku kembali lagi, sebagai sutradara yang filmnya diputar di Cannes. Waktu pemutaran filmku, Les Quatre Cents coups, aku duduk di balkon. Baru aku tersadar akan efek cantik yang dihasilkan barisan vas bunga tersebut. Aku hanya bisa diam. Sejak menjadi sutradara, aku berusaha untuk tidak terlalu lama rehat dari kegiatan tulis-menulis. Aku terus menulis sambil membuat film, karena menjalani peran ganda tersebut membuatku bisa melihat segalanya dalam perspektif yang lebih luas.

Bagiku, kritikus Amerika kualitasnya lebih baik dibanding kritikus Eropa. Aku paham opiniku tersebut terasa sangat bias. Semua orang tahu kalau kritikus Amerika lebih positif dalam menyikapi filmku ketimbang kritikus di Eropa. Namun, kalau melihat dari kenyataan yang ada, kritikus Amerika secara kualitatif memang lebih baik. Mayoritas dari mereka adalah lulusan sekolah jurnalis. Secara teknis, mereka lebih matang dan profesional ketimbang kompatriot mereka di Eropa. Lihat saja bagaimana kritikus Amerika mewawancarai narasumbernya. Selain itu, karena distribusi koran mereka yang luas, kritkus Amerika memiliki penghidupan yang lebih layak. Mereka tidak harus hidup secara serampangan. Mereka tidak perlu menerbitkan buku setiap tahunnya, dan tidak perlu punya pekerjaan tambahan di samping pekerjaan utamanya. Konsekuensinya: mereka tidak merasa terkucilkan dari orang-orang yang berada di industri film. Mereka adalah bagian dari industri film. Oleh karena itu, mereka tidak perlu menjauhi diri dari produksi film besar macam The Godfather. Mereka punya relasi yang baik dengan orang-orang di arus utama industri. Dalam waktu yang bersamaan, mereka dapat menggandeng tangan sesama penulis, yang mati-matian berjuang melawan raksasa industri perfilman.

Keluhan terbesar pembuat film di Hollywood adalah preferensi kritikus Amerika terhadap film asing ketimbang film negeri sendiri. Film-film asing tersebut hanya ditonton oleh segelintir orang, mayoritas mahasiswa dan para borjuis di kota-kota besar. Sementara itu, film-film negeri sendiri diputar di jaringan bioskop nasional, yang jelas menyedot lebih banyak penonton. Para pembuat film di Hollywood merasa film-film mereka pantas mendapat respons yang lebih positif. Keluhan tersebut aku rasa terkait secara erat dengan respons penonton pada umumnya pada film asing. Buktinya, film-film Amerika banyak dipuja oleh kritikus dan penonton di Eropa. Seusai Perang Dunia II, kami warga Prancis sangat terpukau waktu menyaksikan film Hollywood untuk pertama kalinya. Aku rasa itu reaksi yang umum terhadap film asing. Kita selalu mengapresiasi apapun yang datang dari luar secara positif, bukan saja karena terlihat eksotis, tapi juga karena kita tidak bisa menemukan hal serupa dalam kehidupan sehari-hari kita. Oleh karenanya, kita terpukau oleh segala hal yang terlihat asing di mata kita.

Coba bayangkan skenario berikut. Film terbarunya Claude Chabrol dirilis untuk pertama kalinya di Paris. Para kritikus di Prancis menulis tentang film tersebut. Mereka menjadikan penampilan Chabrol di media, gosip tentangnya, kesuksesan maupun kegagalannya di industri film nasional sebagai tolok ukur. Enam bulan kemudian, film yang sama dirilis di New York. Para kritikus Amerika tidak tahu menahu soal reputasi Chabrol di negaranya. Mereka hanya menilai film Chabrol murni dari apa yang mereka lihat dalam filmnya. Tidak heran kalau kami sutradara Prancis merasa lebih diakui di luar sana ketimbang di rumah sendiri.

Artikel ini merupakan bagian kedua dari terjemahan tulisan Francois Truffaut yang berjudul What Do Critics Dream About? (1975). Rencananya akan ada empat bagian. Bagian pertama bisa diakses di sini.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend