Francois Truffaut: Mimpi Seorang Kritikus Film, Bagian 1

francois-truffaut-01_highlight

Suatu hari di tahun 1942, aku sangat penasaran dengan Les Visiteurs du Soir, film Marcel Carne. Ketika akhirnya film tersebut tayang di bioskop dekat rumahku, aku pun bolos sekolah. Aku sangat suka film itu. Sorenya, tanteku mengajakku ke bioskop untuk menonton Les Visiteurs du Soir. Karena tidak berani bilang kalau aku sudah menonton film itu, aku pun menyanggupi tawaran tanteku. Pada saat menonton filmnya Carne untuk kedua kalinya, aku tersadar. Ternyata sangat menyenangkan menggali lebih dalam ke dalam sebuah karya, apalagi kalau karya tersebut kita sukai. Rasanya seperti menghidupi kembali karya tersebut dalam pikiran sendiri.

Setahun kemudian, Le Corbeau karya Henri-Georges Clouzot masuk bioskop. Dari waktu film tersebut dirilis pada bulan Mei 1943, sampai film tersebut dilarang tahun 1945, saya yakin sudah menontonnya lima atau enam kali. Ketika film tersebut diijinkan untuk diputar lagi, saya menontonnya beberapa kali tiap tahun. Ujung-ujungnya saya hapal mati dialog film tersebut. Dialognya jauh lebih dewasa dibanding film-film yang biasanya aku tonton. Ada sekitar seratus kata yang aku baru paham jauh setelah aku menonton Le Corbeau. Mengingat plot film tersebut berputar sekitar surat-surat yang mengutuk aborsi, perzinahan, dan bentuk-bentuk penyelewengan lainnya, Le Corbeau di mataku terlihat seperti potret yang cukup akurat perihal kehidupan di Prancis saat dan setelah Perang Dunia II; suatu periode di mana kolaborasi, pengkhianatan, perdagangan gelap, pemaksaan, dan penghinaan banyak terjadi.

Aku menonton dua ratus film pertamaku dengan cara mengendap-endap. Aku menunggu orang tuaku keluar malam-malam, dan aku pun kabur ke bioskop. Sampai di bioskop, aku menghindari penjaga loket bioskop, dengan menerobos masuk lewat pintu darurat atau jendela kamar mandi. Sekembalinya ke rumah, aku langsung masuk kamar dan pura-pura tidur, kalau-kalau orang tuaku sudah pulang sebelum aku sampai rumah. Ganjarannya: aku sering sakit perut, keram dan sakit kepala karena gugup dan merasa bersalah. Bagusnya: setiap pengalaman menonton menjadi pengalaman yang tak terlupakan.

Kebutuhan terbesarku adalah masuk ke dalam film. Aku selalu memilih tempat duduk dekat layar, supaya tidak terganggu dengan orang lain dalam bioskop. Perhatianku hanya untuk film. Tidak seperti penonton seumuranku, aku tidak suka dengan figur pahlawan. Aku lebih suka dengan underdog, karakter-karakter yang berada di pihak yang tidak menguntungkan. Aku menghindari film perang dan film koboi, karena aku tidak bisa mengidentifikasi diriku dengan karakter film-film tersebut. Sebaliknya, aku sangat suka film misteri dan drama romantis. Oleh karena itu, aku mengidolai Alfred Hitchcock. Film-filmnya bicara tentang ketakutan manusia yang sangat mendalam. Selain Hitchcock, aku juga suka Jean Renoir, karena karya-karyanya ditujukan terhadap pemahaman hidup. Satu kutipan yang aku ingat dari La Règle du Jeu, “Sangat menakutkan ketika setiap orang punya alasannya sendiri-sendiri.” Kedua figur tersebut membuka wawasanku. Berkat mereka, aku siap melahap karya-karya Jean Vigo, Jean Cocteau, Sacha Guitry, Orson Welles, Marcel Pagnol, Ernst Lubitsch dan Charlie Chaplin. Mereka adalah orang-orang yang meragukan moralitas orang lain, dengan cara yang etis.

Sering sekali aku ditanya kapan sebenarnya aku berniat jadi seorang sutradara atau kritikus film. Jujur saja, aku tidak tahu. Aku hanya tahu kalau aku ingin terus mendekat dengan apa yang aku cintai: film.

Langkah pertamaku adalah menonton banyak film. Kemudian, aku mulai mencatat nama sutradara dari film-film yang aku baru tonton. Berikutnya, aku mulai menonton film yang sama berulang kali, dan mulai membayangkan apa yang akan aku lakukan bila aku menyutradarai film tersebut. Waktu itu, film buatku tidak ada bedanya dengan candu. Pada tahun 1947, aku mendirikan sebuah klub film bernama Movie-Mania Club. Konyol memang kedengarannya, tapi nama itu sesuai dengan apa yang aku jalani waktu itu. Aku menonton film yang sama empat sampai lima kali dalam sebulan, karena sulit menghafal keseluruhan cerita suatu film. Perhatianku selalu tersedot oleh satu bagian dari film yang aku tonton. Suatu adegan yang bagus, musik yang menyenangkan, atau gestur lakonnya kadang begitu menarik perhatian, sehingga aku lupa apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya.

Pada bulan Agustus tahun 1951, aku marah-marah karena suatu berita di koran. Beritanya tentang Orson Welles yang ditekan oleh produsernya untuk menarik Othello dari seksi kompetisi festival film Venezia. Menurut beberapa sumber, produsernya merasa filmnya Welles pasti akan kalah bersaing dengan Hamlet karya Laurence Olivier. Resiko sebesar itu seharusnya tidak perlu ditanggung oleh sutradara sekelas Welles. Waktu itu aku sedang sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit militer. Waktu itu juga dunia film sedang indah-indahnya. Orang-orang, termasuk aku, lebih peduli dengan nasib idolanya ketimbang nasibnya sendiri. Dua dekade kemudian, aku masih mencintai film, tapi pikiranku terlalu dipenuhi oleh film-film yang pernah aku resensi atau produksi. Aku telah kehilangan kemurahan hati seorang pecinta film. Aku jadi terlalu sombong dan banyak pikiran, sehingga kadang aku malu dan bingung sendiri.

Sampai sekarang aku tidak berhasil melacak keberadaan artikel pertamaku. Aku ingat tulisan itu terbit tahun 1950 di buletin klub film di Latin Quarter, sebuah distrik kota Paris. Isinya tentang La Règle du Jeu. Waktu itu versi asli dari film tersebut baru saja ditemukan dan dirilis ke publik. Ada empat belas adegan tambahan, yang tidak ada di versi La Règle du Jeu yang didistribusikan selama ini. Dalam tulisanku, aku secara teliti merunut perbedaan antara kedua versi La Règle du Jeu tersebut. Artikel terseubt yang mendorong André Bazin untuk mengajakku membantunya dalam suatu riset. Waktu itu dia sedang mempersiapkan sebuah buku tentang Jean Renoir.

Dengan mendorongku untuk menulis, Bazin berjasa besar dalam meluncurkan karierku. Menulis membuatku harus menganalisa dan menjelaskan kesenanganku terhadap film secara objektif. Kegiatan tersebut jelas belum cukup untuk mengangkat statusku, dari kritikus amatir ke profesional. Namun, kegiatan tersebut membawaku kembali ke hal-hal yang konkret, area abu-abu tempat kritikus bekerja. Resiko jadi kritikus film adalah kehilangan antusiasme terhadap film. Untungnya, hal tersebut tidak terjadi padaku. Dalam sebuah artikel tentang Citizen Kane, aku mencoba melihat bagaimana bila film tersebut dilihat dari tiga sudut panang: penggemar film, jurnalis, dan pembuat film. Metode analisa yang sama aku terapkan ke film-film Renoir maupun karya-karya besar Hollywood.

Apakah aku seorang kritikus yang baik? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu kalau aku berada di pihak mereka, pihak yang selalu dicerca, tapi selalu siap untuk melawan balik. Aku juga tahu kalau kesenanganku berasal dari hal-hal yang orang lain tidak amati, seperti perubahan gaya film Renoir, kosmetik sinematik dalam film-filmnya Welles, keteracakan dalam karya-karyanya Pagnol dan Guitry, serta kejujuran dalam gambar-gambarnya Bresson. Aku rasa seleraku tidak ekslusif dan bisa dinikmati semua orang. Aku sangat sependapat dengan Audiberti. Menurutnya, karya yang paling tidak populer sekalipun sebenarnya ditujukan untuk semua orang. Komersil maupun non-komersil, semua film aku rasa adalah komoditas yang bisa diperjualbelikan. Sebagai sebuah komoditas, film dibedakan oleh kualitasnya, bukan jenisnya. Singin’ in the Rain dan Ordet aku rasa sama-sama mengagumkan dengan caranya masing-masing.

Bagiku, setiap usaha pengkategorian film itu menggelikan sekaligus menjijikkan. Waktu Hitchcock merilis Psycho, sebuah film tentang pencuri kelas teri yang ditikam waktu mandi oleh seorang penjaga motel, hampir semua kritikus setuju kalau subjek film tersebut remeh dan tidak signifikan. Di tahun yang sama, terpengaruh oleh Kurosawa, Ingmar Bergman membuat film dengan subjek yang sama persis (The Virgin Spring), tapi ia pindah lokasinya ke Swedia abad 14. Hasilnya: semua orang memuji film tersebut, dan Bergman menang Oscar untuk film asing terbaik. Aku tidak masalah dengan kemenangan Bergman di Academy Award. Aku hanya ingin menunjukkan kalau Bergman dan Hitchcock membuat film dengan subjek yang sama. Faktanya, entah sadar atau tidak, keduanya berhutang dengan Charles Perrault. Keduanya mengambil struktur dasar dongeng Si Kerudung Merah, dan mengembangkannya sekaligus membebaskannya dengan pendekatan artistik mereka masing-masing.

Contoh lainnya adalah Bicycle Thief karya Vittorio De Sica. Sampai sekarang film tersebut didiskusikan sebagai sebuah tragedi tentang pengangguran di Italia pasca perang. Padahal, pengangguran jarang sekali didedah dalam mahakarya tersebut. Bicycle Thief sekadar menunjukkan seorang pria yang harus menemukan sepedanya, sama seperti perempuan dalam The Earrings of Madame de… yang harus menemukan anting-antingnya. Aku menolak opini yang menyatakan The Virgin Spring dan Bicylce Thief sebagai film serius, sementara Psycho dan Madame de… hanyalah film hiburan. Menurutku, keempatnya tidak ada bedanya. Mereka sama-sama film serius dan menghibur, tergantung sudut pandangnya apa.

Waktu masih bekerja sebagai kritikus film, aku beranggapan bahwa film yang sukses adalah film yang dapat mengekspresikan ide tentang dunia dan sinema secara bersamaan. La Règle du Jeu dan Citizen Kane cocok dengan standarku tersebut. Sekarang, aku menuntut para sutradara untuk mengekspresikan dalam filmnya kebahagiaan atau penderitaan dalam produksi film. Aku sama sekali tidak tertarik dengan yang berada di antara keduanya. Aku hanya tertarik dengan film-film yang mampu membuat jantungku berdetak kencang.

Artikel ini merupakan bagian pertama dari terjemahan tulisan Francois Truffaut yang berjudul What Do Critics Dream About? (1975). Rencananya akan ada empat bagian.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (6)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend