Certified Copy: Bukan Dialognya, Tapi Semangatnya

certified-copy_highlight

Abbas Kiarostami selalu menyusupkan kekuatan filmnya lewat percakapan, terutama percakapan di mobil. Lihatlah Taste of Cherry (1997) dan Ten (2002) yang sekujur filmnya hanya dibaluti oleh percakapan (didalam mobil). Certified Copy adalah tantangan pribadi yang juga harus dijawab sendiri oleh Kiarostami, mampukah dia keluar Iran untuk membikin film dengan gaya khasnya?, dengan aktor profesional (melenceng dari kegemarannya berkolaborasi dengan aktor non-profesional) serta tidak menggunakan bahasa Persia yang notabene dikuasainya.

Flow bahasa adalah komponen penting dalam film yang mengandalkan dialog, sejak era 12 Angry Men (1957) sampai zaman In Bruges (2008), kekuatan dialog telah sering digunakan oleh para pembuat film untuk menjejali selongsong seluloid mereka. Ditilik dari perspektif itu, Certified Copy tidak berhasil mengulang kejayaan film-film emas Abbas Kiarostami. Rentetan dialog dalam Certified Copy tidak sama cemerlangnya dengan, misalnya, The Wind Will Carry Us (1999). Tak perlu berpikir lama untuk mendapatkan kesan tersebut.

Meski demikian, penonton tetap bisa menangkap semangat yang melatari dialog-dialog Certified Copy. Kiarostami tidak hanya melarikan diri dari Iran secara geografis, ia juga melarikan diri dari cara berfikir orang Persia dengan menyelusup kesebuah pedesaan di Tuscany, Italia. Dari tempat mungil itu, Kiarostami mengintip horizon berfikir orang Eropa lewat wacananya akan pemalsuan karya seni: sesuatu yang sama sekali tidak penting bagi orang Iran atau orang Asia pada umumnya. Di Asia, masyarakat tidak punya cukup waktu untuk meributkan perkara karya seni palsu, mereka lebih sering galau oleh prahara perut.

Pertanyaan yang dilontarkan Certified Copy sederhana, “Mana yang lebih mustajab, karya seni orisinil, tiruan, atau tiruan yang orisinil?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Kiarostami memperkenalkan James Miller, penulis yang baru saja menerbitkan buku tentang seni rupa. Dalam turnya ke Italia, ia bertemu dengan Elle, pemilik toko barang-barang seni. Certified Copy adalah topik obrolan mereka seharian. Namun tidak seperti film lain, Certified Copy tidak menempatkan karakternya pada posisi “menghakimi” semata, ia menempatkan Miller dan Elle secara akurat dalam konstelasi premis yang ia lontarkan di awal film. Tak ada yang tahu bagaimana sebenarnya hubungan antara Miller dan Elle: apakah mereka suami istri sungguhan, pernah berpacaran lama, ataukah sungguh-sungguh orang yang baru kenal?. Miller dan Elle sendiri adalah sepucuk pertanyaan penting: Apakah hubungan mereka orisinil? Palsu? Atau memang tak ada hubungan?

Miller dan Elle membahas masa lalu tanpa afeksi seolah ingatan adalah hal yang jauh dan statis. Tetapi dititik yang tak disangka, Elle tiba-tiba jatuh menangis menyesali sesuatu. Disudut yang tak dinyana, Miller tiba-tiba menggebrak meja dan memarahi Elle habis-habisan. Dari perspektif hubungan personal, Elle dan Miller tak ubahnya dua komoditas yang selalu bisa dipertanyakan keasliannya.

Semangat Kiarostami yang liar berlanjut pada “jendela” lain yang ditawarkannya kehadirat penonton, ia menantang penonton untuk menyaksikan hubungan Elle dan Miller sebagai alegori hirarkis antara penulis (yang duduk diam seharian di pusat kota Florence sembari mengamati patung zaman Renaissance) dan pembaca (yang sehari-harinya berkecimpung menjual karya seni dan senantiasa berurusan dengan para penikmat seni yang aktual). Kiarostami menggertak kita untuk menakar, ucapan siapa yang lebih kita percaya antara Miller dan Elle?

Semenjak Shirin (2008), Kiarostami memang cenderung semakin radikal dalam memperlakukan mediumnya. Dalam Shirin, ia menggelar simplifikasi radikal dengan menyumbat habis komponen visual dan mengeksplorasi kemungkinan audio secara tak terbatas. Penonton dipaksa mengikuti film dengan telinga, bukan dengan mata. Istilah ‘simplifikasi’ saya sematkan sebab secara pembuatan, produksi Shirin memang sangatlah mudah dibandingkan film Kiarostami yang lain. Ia hanya menggunakan aluminium foil dan semacam kertas karton sebagai perangkat visual serta sandiwara radio berdurasi Sembilan puluh menit sebagai perabot audionya. Pemain filmnya adalah orang-orang yang disuruh duduk diam memandangi kertas karton tersebut sepanjang film sementara cahaya pantulan aluminium foil dibingkaskan diwajah mereka. Certified Copy berupaya melanjutkan tradisi yang sama.

Certified Copy | 2010 | Sutradara: Abbas Kiarostami | Negara: Perancis | Pemain: Juliette Binoche, William Shimell, Jean-Claude Carrière, Agathe Natanson, Gianna Giachetti

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend