Black Swan: Sang Ratu yang Melabrak Kesempurnaannya Sendiri

 

black-swan_highlight

Sepuluh tahun yang lalu, sutradara Darren Aronofsky pernah membuat Requiem for a Dream, film yang mengisahkan tentang Harry Goldfarb, pemuda yang selalu disiksa halusinasi karena kecanduannya pada narkotika. Halusinasi itu diejawantahkan dalam wujud penampakan surreal yang ikut menghantui  layar bersamaan dengan kisah keseharian Harry Goldfarb. Penampakan surreal tersebut tidak hanya menyiksa Goldfarb, tetapi juga menganiaya penonton yang ikut menjadi saksinya. Di beberapa sudut, kita melihat dengan mata kepala sendiri dalam kapasitas sebagai penonton, sambil dengan cepat mata kita selalu ditukar menjadi mata Harry yang tengah berjuang menghadapi teror-teror surreal tersebut. Bagi Harry Goldfarb, kekerasan yang berasal dari luar tak pernah mendera dalam raut fisik, melainkan lewat bangun kekerasan psikis. Siksaan fisik justru datang dari diri Harry sendiri. Tidak hanya dalam Requiem for a Dream, motivasi karakter serupa juga dipakai Aronofsky dalam film-filmnya yang lain, seperti Pi (1998) dan film terbarunya, Black Swan (2010).

Lewat Black Swan, Aronofsky berusaha keluar dari sudut pandang yang sering ia pakai yakni teropong dengan gaya maskulin nan kental. Sekarang ia meminjam gadis rapuh Nina, seorang penari balet yang lulus audisi untuk memerankan karakter Ratu Angsa dalam pertunjukan balet Swan Lake. Memerankan Ratu Angsa tidaklah mudah, sebab Nina harus bisa menampilkan Ratu Angsa dalam dua wajahnya yang berlawanan: White Swan dan Black Swan.

Jangankan memerankan karakter bipolar rumit macam Ratu Angsa, mengontrol dirinya saja rasanya Nina tak mampu. Matanya selalu berkaca-kaca menyiratkan betapa merana hari-harinya, suaranya pelan nyaris berbisik dan jauh dari rasa percaya diri. Ia melarikan diri ke dalam dunia balet justru karena disana kerapuhannya bisa dilatih dan kerentanannya bisa menjadi terpuji. Bagi Nina, tari balet adalah satu-satunya ruang dimana dia bisa bercakap-cakap sekilas dengan pikirannya sendiri. Sebab dalam dunia nyata, ia lebih sering (harus) melihat dirinya lewat penilaian orang lain. Memerankan figur Ratu Angsa adalah pilihan yang beresiko sebab Nina harus mengontrol tiga kepribadian sekaligus. Sementara selama ini, mengontrol satu kepribadian saja rasanya mustahil baginya.

Nina harus menerima bahwa balet adalah seni yang tertutup terhadap improvisasi sehingga menjadi sempurna adalah satu-satunya cara untuk memerankan dua wajah Ratu Angsa. White Swan adalah karakter balet dan musik klasik konvesional dimana ukuran keberhasilannya adalah  kontrol khas klasik atas kesempurnaan, dan Nina telah terbiasa. Black Swan kemudian menjadi tantangan mistis bagi Nina sebab ia dituntut untuk melampaui kesempurnaan itu. Black Swan is about Perfection, and Perfection is not just about control, it’s also about letting go. Ia harus berani merusak sang kesempurnaan untuk menerjemahkan Black Swan secara sempurna.

Hampir semua nuansa thriller dalam Black Swan di bangun lewat konstruksi prasangka, baik prasangka Nina terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang di sekitarnya. Prasangka inilah yang membuatnya selalu ditindas oleh penampakan Surreal di kutub-kutub ekstrim sebelum terjungkir cepat untuk kembali normal. Arus prasangka Nina yang deras dari kutub yang satu ke kutub yang lain ini yang memberi peluang besar bagi ambiguitas untuk tampil menyela. Karena ambiguitas itu, Nina hanya bisa menjadi seorang gadis yang tak pernah berani berkenalan dengan dirinya sendiri.

Sama dengan Harry Goldfarb dalam Requiem for a Dream, siksaan eksternal juga tak pernah datang mendera Nina secara fisik, ia lebih takut menghadapi isi kepalanya sendiri dan Aronofsky menyeret penonton untuk keluar masuk kepala Nina secara kasar demi menyaksikan semua penganiayaan itu. Penonton didesak untuk menelusuri setiap hal yang terlihat atau bahkan yang tak terlihat oleh Nina. Mana yang nyata? Mana yang metafora belaka? Mana yang penting? Mana jalan keluarnya?

Sudut pandang dan model penceritaan yang pernah di pakai dalam Requiem for a Dream kembali dipakai dalam Black Swan, kali ini dengan sudut pandang perempuan. Aronofsky melengkapi sudut pandang itu dengan menyertakan kembali kebiasaan teknis yang dipakainya dalam The Wrestler (2008), yakni kegemaran meletakkan kamera  di belakang punggung karakter utamanya, sehingga dalam satu tautan durasi, penonton bisa mengamati dua hal sekaligus, dunia yang dilihat Nina sekaligus reaksi Nina dalam merespon dunia itu.

Black Swan kemudian mengaburkan batas-batas sebab akibat dengan bertanya, “Mana yang mengakibatkan mana?” Apakah mungkin Nina berhasil mendapatkan peran Ratu Angsa karena memang ketaksaan hidupnya yang persis dengan karakter itu? Atau justru hidup Nina mengalami kekacauan karena peran Ratu Angsa yang menginvasinya hingga ke wilayah yang paling privat? Apakah Nina manusia normal? Apakah bila Nina berhasil memertalkan misteri Black Swan maka hidupnya juga akan ikut bahagia? Black Swan punya segudang gerak tipu untuk menyesatkan penonton di dalam kepala Nina.

Black Swan | 2010 | Sutradara: Darren Aronofsky | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Natalie Portman, Vincent Cassel, Mila Kunis, Barbara Hershey, Winona Ryder

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (9)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (3)
  • Lupakan (3)
Share

Send this to a friend