Politik Hollywood dalam Star Wars VII

star-wars-politik-hollywood_00Silakan baca apabila Anda tidak alergi spoiler atau sudah menonton Star Wars: The Force Awakens.

Star Wars: The Force Awakens (2015) adalah pesta atas pencapaian umat Hollywood dalam menciptakan brand dan budaya film fantasi. Bayangkan, dalam produksi episode ketujuh Star Wars tersebut, ada orang-orang kondang Hollywood yang rela jadi cameo demi merasakan set produksi di Star Wars—beberapa bahkan tidak kelihatan wajahnya, seperti Simon Pegg atau Daniel Craig. Wajar saja. Jika Anda pencinta film, hampir tidak ada alasan untuk tidak mau berada di set Star Wars.

Saya tidak punya pernyataan apa-apa yang saya pikir berguna untuk memuja atau mencemooh The Force Awakens. Malas saya untuk iseng menuduh orang-orang yang tak nonton Star Wars punya masa kecil yang suram, atau memulai perang twit karena mengidentikkan diri sebagai Trekker dan mencemooh penggemar Star Wars seperti impor konflik Syiah-Sunni.

Debat-debat seperti itu tidak membuka jalan apapun. Itu debat sampah nan menjijikan—yang herannya dilakukan oleh orang-orang kelas menengah berpendidikan kota. Walaupun begitu, saya juga tidak mau memuja-muja Star Wars seakan-akan dunia bakal kiamat kalau film itu jelek, seperti geng Big Bang Theory—minus Sheldon Cooper yang rela melepaskan premier Star Wars demi melepaskan keperjakaannya.

Jika ada yang perlu dikritik dari The Force Awakens, saya rasa ada pada bagaimana film itu begitu merepresentasikan Hollywood dan generasi penontonnya saat ini dalam plot, karakterisasi, dan treatment yang dibangun—khususnya dalam menuturkan political correctness atau kepatutan politik. Political correctness yang dimaksud adalah cara orang Amerika mempraktikkan kepercayaan bahwa bahasa dan praktik yang dapat menyinggung orang atau golongan lain (misalnya dalam seksualitas atau ras) harus dihilangkan, sebagai propaganda zaman baru atas humanisme universal.

star-wars-politik-hollywood_01Terror dan Remaja Galau

Plot yang dibangun Lawrence Kasdan dan kawan-kawan cukup menghormati George Lucas. Banyak benang merah tematik, selain tentunya tokoh, yang mengaitkan The Force Awakens dengan para pendahulunya—faktanya, Lawrence Kasdan sendiri terlibat dalam penulisan naskah Empire Strikes Back (1980) dan Return of the Jedi (1983). Para penonton, yang sudah mengikuti semua episodenya, saya rasa bisa cukup terhubung (kalau bukan puas) dengan referensi-referensi yang bisa dibagi bersama.

The First Order, antagonis baru dalam semesta Star Wars, hadir dalam konteks dunia nyata yang sedang diteror ISIS—aktor non-state dengan senjata dan taktik perang modern yang diambil dari negara maju. Plot Kylo Ren membunuh bapaknya pun ada dalam konteks kontemporer remaja  galau yang bergabung dengan gerakan terorisme atas dasar pencarian eksistensi diri, dan membuat orang tua mereka sedih seperti ibu-ibu yang ditinggal anaknya yang bergabung dengan ISIS. Ini berbeda dengan Luke Skywalker yang awalnya ingin balas dendam karena Paman dan Bibinya dibakar hidup-hidup. Plot The Force Awakens benar-benar mengejawantahkan teori Freud soal penis envy dan eksistensi diri yang pada akhir dekade 60an diteriakkan Jim Morrison: “Kill the father, f**k the mother.”

Kita juga bisa melihat campur tangan korporasi, sutradara, serta ideologi Hollywood hari ini, yang membuat filmnya penuh dengan political correctness. Dulu tradisi rasis Star Wars begitu mendalam—ketika trailer The Force Awakens dengan wajah John Boyega beredar untuk publik, para fans Star Wars rasis di Amerika langsung bergerak di media sosial, memprotes aktor kulit hitam sebagai pemeran utama yang melanggar tradisi Star Wars. Tapi Disney tentu tak akan melanjutkan tradisi tersebut. Menjadi politically correct, bagi kawula kapitalis, adalah hal penting untuk memaksimalkan jumlah penonton. Terlebih lagi Hollywood punya banyak dosa pada masa lalu terkait konstruksi politik dari penggambaran suku asli Amerika (Native American), yang membuat Marlon Brando pada 1973 menolak Oscar untuk perannya dalam The Godfather, sampai representasi orang negro (African-American).

Selain itu, Disney punya segmentasi penonton anak-anak yang ingin ia pertahankan, tapi juga ingin meraih penonton dewasa yang baru. Karena itulah Disney harus berpikir bagaimana cara menghadapi orang tua hari ini yang cenderung lebih cerewet daripada orang tua masa lalu. Dalam The Force Awakens, tidak ada perempuan berbikini, adegan mutilasi, dan mayat terbakar—yang lumayan banyak ditemukan di film-film Star Wars terdahulu.

Di Amerika, penyesuaian macam ini bukan hanya dilakukan Disney, tapi juga stasiun televisi Amerika. Dragon Ball Z, kartun pujaan anak 90an, juga disensor agar adegan-adegannya menjadi politically correct: dari warna kulit Mr. Popo yang diubah menjadi biru agar tidak menyinggung orang Afrika-Amerika, sampai pemotongan hampir semua adegan yang melibatkan celana dalam Bulma. Tidak seperti Amerika, Indonesia masih beruntung, karena Komisi Penyiaran Indonesia melarang Dragon Ball ketika serialnya sudah tamat beberapa kali.

star-wars-politik-hollywood_02Keterwakilan Gender dan Ras

Political correctness cara Amerika dalam The Force Awakens bisa dilihat juga dalam penokohan. Jagoan utamanya perempuan, dan sidekick-nya seorang desertir Stormtrooper kulit hitam. Perempuan sebagai tokoh utama adalah platform baru gerakan feminis dalam film produksi Hollywood. Masih ingat Mad Max: Fury Road (2015), yang tokoh utamanya bukan Mad Max tapi Furiosa si perempuan buntung? Itu kesuksesan besar. JJ Abrams sempat dipermasalahkan ketika ia bilang Star Wars cuma buat anak cowok, yang kemudian ia ralat. Jika The Force Awakens benar-benar berusaha menjadi politically correct soal perempuan, mari kita lakukan tes sederhana untuk menentukan seksisme dalam film, Bechdel test.

Bechdel test adalah perangkat uji sederhana untuk melihat apakah sebuah film seksis-misoginis (merendahkan perempuan) atau tidak—dirumuskan oleh Alison Bechdel dalam strip komiknya, Dykes to Watch Out For, pada 1985. Tes ini dilakukan dengan memenuhi tiga syarat: (1) film tersebut minimal punya dua karakter perempuan, (2) dua karakter tersebut bicara satu sama lain, dan (3) pembicaraannya tidak menyangkut laki-laki. Enam episode pertama Star Wars tidak lolos tes ini. Tokoh perempuan hanya sedikit dan jarang bicara, kecuali tokoh perempuan utama. Apalagi dalam Return of the Jedi, kita takkan pernah lupa Bikini Emas yang dipakai Leia—salah satu bentuk eksploitasi yang sempat digunjingkan orang tua masa kini, dan dibantah dengan apik oleh Carrie Fisher karena pada akhirnya Leia membunuh Jabba the Hutt.

Untungnya, The Force Awakens lolos Bechdel test. Pertama, banyak sekali perempuan berpengaruh dalam The Force Awakens, dari aktor (Daisy Ridley, Carrie Fischer, Lupita Nyong’o, Gwendoline Christie) hingga produsernya (Kathleen Kennedy). Dialog antara tokoh perempuan juga banyak dan ada dialog antara Rey (Ridley) dan Maz Kanata (Nyong’o), yang membicarakan masa depan Rey, bukan membicarakan laki-laki seperti film Hollywood kebanyakan. Dalam perspektif gender dan feminisme, film ini politically correct.

Kedua, masalah rasisme. Di Episode I-III, bapak dari semua klon adalah Jango Fett yang diperankan Temuera Morrison, seorang aktor Selandia Baru keturunan suku asli Maori. Samuel L Jackson, yang pernah memerankan negro miskin pembunuh redneck pada 1996, bermain sebagai Mace Windu. Keduanya, Jango dan Mace akhirnya mati mengenaskan—lagi-lagi adegan menyenangkan untuk para rasis Amerika. Di Episode IV-VI, kita menemukan Lando Calrissian yang diperankan Billy Dee Williams, juga aktor kulit hitam, tapi ia berawal sebagai pengkhianat. Semua aktor non-putih ini tidak pernah menjadi tokoh utama.

The Force Awakens mendobrak tradisi itu. Orang kulit hitam ditempatkan sebagai salah satu tokoh sentral, bukan pemeran pembantu atau pemeran antagonis pembantu. Lantas, bagaimana cara mengukur rasisme sebagaimana kita menakar keterwakilan perempuan dengan Bechdel test?

Sosiolog Matthew Hughey memaparkan bahwa kita bisa melihat rasisme dalam film melalui karakterisasi tokoh kulit berwarnanya, dalam hal ini kulit hitam. Dalam film-film produksi Hollywood, ada dua ekstrim terkait penokohan orang kulit hitam. Di satu titik ada kulit hitam sebagai budak, orang miskin, preman, gembel, orang gila. Di titik lain ada tokoh kulit hitam sebagai manusia super di titik lain—beberapa contohnya: Vampir pembunuh vampir (Blade), Jin (Kazaam), hingga Tuhan (Bruce Almighty).

Di antara dua ekstrim itu, ada tokoh kulit hitam yang menjadi dokter, pengacara, bahkan presiden. Rasisme, dalam spektrum di ‘antara’ semacam itu, bisa dilihat dari representasi ultra-positif seorang tokoh kulit hitam. Seorang kulit hitam, dalam layar cerita yang realistis, bisa setara dengan kulit putih tanpa ada masalah rasial sama sekali—sebagai propaganda untuk menutupi kenyataan yang sebaliknya. Contoh rasisme ultra-positif ini bisa dilihat, misalnya, dalam The Cosby Show.

Finn bebas dari stereotipe-stereotipe dan rasisme itu karena, dalam The Force Awakens, dia bukan penjahat, pemeran pembantu, tidak sempurna, dan tidak mati mengenaskan. Finn adalah karakter yang aneh karena penuh kontradiksi. Pertama, ia Stormtrooper yang bisa berempati—ini premis utama yang mendasari Captain Phasma untuk merehabilitasinya. Kedua, walau memiliki empati, ia masih sanggup membunuh, bahkan membunuhi mantan koleganya sendiri. Dan ketiga, untuk seseorang yang diprogram menjadi prajurit sejak lahir, ia terlalu komikal dan terkadang bodoh—seakan ia sempat hidup di luar kamp tentara dan cukup gaul. Ini adalah cara lain untuk membuat Finn menjadi tokoh utama yang tidak ultra-positif—lagi-lagi demi political correctness.

star-wars-politik-hollywood_03Pasar

Orang-orang yang sudah biasa dengan film-film action Hollywood ala Michael Bay, pasti akan sedikit mengantuk ketika menyaksikan enam episode pertama Star Wars—apalagi The Phantom Menace (1999), film keempat sekaligus episode pertama, yang selalu ditahbiskan sebagai film Star Wars terburuk. Pendekatan naskah George Lucas, yang sarat dialog panjang dan gaya bahasa, sudah sulit dicerna penonton Hollywood zaman ini—bahkan trailer film pertamanya sulit ditonton orang zaman dulu karena begitu membosankan.

Penonton hari ini begitu dimanjakan special effect dan koreografi perkelahian. Mereka cenderung malas dengan film berdialog panjang, yang sebenarnya bisa menjelaskan banyak hal dalam cerita. Melihat tren pembuatan film fantasi atau laga Hollywood akhir-akhir ini, nampaknya para pembuat film sadar bahwa penonton hari ini tidak suka digurui.

Kontras dengan para pendahulunya, The Force Awakens adalah sebuah film yang padat aksi, dengan dialog-dialog yang cenderung pendek. Durasi 136 menit seperti sangat kurang untuk menjelaskan keseluruhan cerita, dan hubungan antara karakter kadang terlalu cepat dekat. Hubungan antara Poe dengan Finn, juga Finn dengan Rey, terasa begitu terburu-buru, tanpa ada bumbu yang cukup untuk membuat mereka dekat. Han Solo dan Leia saja butuh dua episode untuk bisa bilang I love you tanpa saling memaki. Saya jelas kaget. Cepat sekali. Padahal bukankah Disney, lewat Frozen pada 2013, sudah mengajarkan untuk jangan buru-buru jatuh cinta apalagi menikah? Para putri Disney pun hari ini sudah lebih dewasa untuk bilang, “Saya tidak butuh laki-laki.”

Walau begitu, saya sependapat dengan Henry Jenkins, ahli media asal Amerika Serikat, yang mengatakan bahwa The Force Awakens sangatlah fun. Film besutan JJ Abrams itu membawa semangat zaman baru, yang menjembatani generasi lama dan generasi baru. Bagi Jenkins, permasalahan Kylo Ren dan Han Solo adalah permasalahan orang tua terdidik yang tidak bisa mengerti anaknya. Orang tua hari ini, yang besar pada era 80an dan menikmati pendidikan liberal, cenderung menjadi orangtua pasca-modern, yang membebaskan anak-anaknya untuk menjadi apapun yang mereka mau. Hal ini membingungkan karena, mengutip Slavoj Žižek, “anak dipaksa untuk bebas.” Dalam keadaan semacam ini, konsekuensi yang biasa terjadi adalah pencarian terhadap struktur, totalitarian, dan pendiktean. Cara membunuh kebebasan adalah dengan memaksakan kebebasan.

Seperti Episode-episode sebelumnya, The Force Awakensmembawa semangat zamannya—bukan sekedar fiksi, tapi juga ideologi. Ia sesuai dengan ramalan dan harapan saya ketika menganalisa ketujuh film Star Wars. Saya cukup puas dengan apa yang dilakukan Abrams dan banyak pendukungnya. Kita diajak untuk mengucapkan selamat tinggal pelan-pelan kepada tokoh-tokoh lama, termasuk pada George Lucas, dan selamat datang kepada tokoh-tokoh baru. Kita bahkan bisa menanti The Rogue One—prekuel pertama Star Wars yang sama sekali tak melibatkan keluarga Skywalker, yang rencananya akan beredar pada penghujung 2016. Di satu sisi, kita membuat Disney jadi makin kaya raya dengan membeli tiket film dan merchandise-nya yang seksis—itulah the dark side dari Star Wars. Menurut kritikus film Jonathan Rosenbaum, serial Star Wars sejak awal tidak bertujuan mengubah dunia, tapi menciptakan pasar untuk kaos, komik, poster, mainan, action figure, dan berbagai cendera mata lainnya. Inilah awal film menjadi industri-industri kultural totalitarian, yang menggunakan The Force secara masif.

Tapi, menurut saya, ada juga sisi lain yang membuat kita sadar bahwa Star Wars adalah cerminan dunia kita hari ini—yang bisa memantik perubahan sosial yang nyata dari sekadar pengumpulan sumbangan hingga perang melawan kebijakan politik tertentu. Bagi saya pribadi, bisa berbagi ke-kutubuku-an dengan teman-teman sudah cukup menjadi sumbangan besar Star Wars.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (57)
  • Boleh juga (14)
  • Biasa saja (4)
  • Lupakan (10)
Share

Send this to a friend