Cold Weather: Diam Sebagai Modus Berkeluarga

cold-weather_highlight

“Satu gambar bercerita seribu kata atau lebih.” Sampai sekarang belum diketahui siapa yang pertama kali menyebutkan adagium tersebut. Namun, setiap dipraktikan dalam analisis produk budaya visual, adagium tersebut selalu terbukti kebenarannya. Salah satu contohnya adalah Cold Weather, film tahun 2010 yang ditulis dan disutradarai oleh Aaron Katz. Film tersebut dibuka dengan gambar tetesan air hujan di sebuah kaca jendela. Sebelum ganti adegan, kamera bergeser fokus, menyajikan pemandangan sebuah taman yang tadinya terhalang oleh tetesan air hujan. Secara visual, sekuens pembuka tersebut mewakili apa yang terjadi sepanjang 96 menit durasi film. Katz mendesain Cold Weather sedemikian rupa, sehingga ada satu lapisan cerita yang menyamarkan lapisan cerita lainnya. Di satu sisi, narasi film bercerita tentang investigasi seorang detektif amatir terhadap lenyapnya seorang teman. Di sisi lain, ada sebuah eksplorasi hubungan kakak-adik, yang membongkar bagaimana diam menjadi cara untuk bertahan dalam lingkungan keluarga.

Protagonis Cold Weather adalah Doug, seorang mahasiswa dropout jurusan Ilmu Forensik. Tak ada niat untuk kembali bersekolah, Doug kembali ke kampung halamannya. Di sana, ia bertemu kembali dengan kakak perempuannya, Gail, yang setiap harinya kerja di kantor dari pagi sampai sore. Doug kemudian melamar sebagai buruh di sebuah pabrik es lokal, hanya untuk sekadar punya penghidupan. Di tempat kerja barunya tersebut, Doug berkenalan dan berteman dengan Carlos. Doug juga bertemu kembali dengan mantan pacarnya, Rachel. Doug memperkenalkan Rachel dengan Carlos, sementara ia sendiri menjalani kehidupan pasca kuliah dengan santai. Saking santainya, Doug bahkan mengajak Gail untuk main ke pantai saat jam kerja, tanpa ada pertimbangan regulasi kantor maupun kewajiban karyawan. Kenyamanan hidup tersebut yang terusik ketika Rachel mendadak hilang. Ditemani oleh Gail, Doug turun ke jalan dan menghidupi profesi idolanya saat kuliah dulu: Sherlock Holmes.

Hilangnya Rachel menjadi rambu yang mengarahkan narasi Cold Weather hingga akhir film. Pasalnya, ketika Rachel menghilang, film sudah berlangsung kira-kira selama empat puluh menit. Sepanjang durasi tersebut, kejadian-kejadian dalam cerita terjadi begitu acak, mengikuti kehidupan sehari-hari protagonis. Karena alur cerita yang sifatnya sehari-hari tersebut, narasi film seakan-akan berjalan tanpa pola yang jelas. Tidak ada penekanan pada satu kejadian tertentu, sehingga satu-satunya hal yang dapat dipetakan adalah hubungan protagonis dengan orang-orang di sekitarnya. Ketika sudah terdefinisikan jelas, hubungan interpersonal tersebut diuji ikatannya melalui sebuah kejadian, yang menyokong narasi film hingga klimaks cerita. Strategi naratif tersebut sejatinya sudah diterapkan Aaron Katz dalam dua filmnya sebelumnya. Dalam Dance Party USA (2006), Katz mengajak penonton mengikuti seorang anak muda nongkrong bersama teman baiknya setiap hari. Dalam Quiet City (2007), Katz menyorot sepasang laki-laki dan perempuan menghabiskan 24 jam bersama di kota New York.

Dalam Cold Weather, fokus Katz adalah relasi darah antara Doug dan Gail. Meski terlihat nyaman dengan satu sama lain, mereka berdua sebenarnya tidak cukup dekat. Relasi tersebut terjelaskan dalam satu adegan di awal film, via interaksi Doug and Gail di sebuah makan malam keluarga. Sembari makan dan minum, keduanya terlibat percakapan bersama orang tua mereka. Saat Doug sedang nostalgia tentang masa kecilnya, Gail langsung ganti topik waktu mendengar namanya disebut. Ketika ditanyai ibunya tentang kehidupan dan pekerjaannya sekarang, Gail hanya diam, mengibas pelan tangannya, sembari mengalihkan pandangan ke piring. Inti dari adegan tersebut bukanlah informasi yang Gail coba tutupi, melainkan keengganan Gail untuk bicara. Keengganan tersebut yang Doug balas dengan tatapan penasaran.

Bagi Gail, diam merupakan modus berkeluarga yang ideal. Ikatan darah sudah cukup menjadi alasan baginya untuk mengakrabi anggota keluarganya, terutama adiknya, tanpa perlu ada pertukaran informasi lebih lanjut. Seabsurd apapun kondisi yang adiknya jalani, Gail tak pernah banyak bertanya dan selalu berusaha membantu semampunya. Dari sini, dapat dilihat dua hal yang menjalin hubungan Doug dan Gail selama ini. Pertama adalah sejarah kata-kata yang tak terucap di antara mereka berdua, yang dibarengi dengan komitmen penuh Gail terhadap tugas moralnya sebagai seorang kakak. Kedua hal tersebut terjewantahkan dalam dua adegan kunci Cold Weather. Adegan pertama adalah saat Gail mengiyakan ajakan Doug main ke pantai saat jam kerja, dan yang kedua adalah saat Gail meladeni keinginan impulsif Doug untuk membeli pipa cerutu. Sejatinya pipa cerutu tersebut sama sekali tak punya fungsi praktis. Doug menginginkannya karena ingin meniru apa yang Sherlock Holmes biasa lakukan saat investigasi: merokok demi kelancaran berpikir.

Kesunyian Gail tersebut yang kemudian menjadi titik temu antara dua lapisan cerita yang berkembang dalam Cold Weather. Di sinilah letak kesuksesan naskah yang disusun oleh Aaron Katz. Ada sejumlah tautan antar elemen cerita yang memuluskan progresi narasi, meski ada dua lapisan cerita yang berkembang bersamaan. Di satu sisi, kesunyian Gail menjadi basis bagi sebuah hubungan kakak-adik yang saling melengkapi, walau di permukaan kesannya hanya menguntungkan satu pihak. Ketika cerita film mulai masuk bagian investigasi, Doug berusaha keras mewujudkan mimpinya menjadi Sherlock Holmes, sementara Gail tetaplah berperan sebagai orang biasa dengan segala rutinitas sehari-harinya. Doug bolos dari kerjanya di pabrik es dengan alasan sakit, supaya bisa melanjutkan investigasi. Ia bahkan sampai meminjam mobil yang biasa dipakai kakaknya untuk kerja. Gail tentu saja mengiyakan, lalu pergi kerja dengan naik kendaraan umum. Sepulang kerja, ia menemui adiknya di lokasi investigasi dan menemaninya sampai tuntas. Dalam lapisan ini, Cold Weather menjabarkan bagaimana relasi kakak-adik terwujud antara Doug dan Gail.

Di sisi lain, kesunyian Gail menambah bobot dalam proses investigasi yang Doug jalani. Secara teknis, keberadaan Gail dalam investigasi murni karena tugas moralnya sebagai seorang kakak. Berbeda dengan Doug yang memang punya ambisi menjadi detektif, Gail tak punya ambisi apa-apa dalam investigasi yang ia turut lakoni. Doug punya pengetahuan soal investigasi, sementara Gail tidak. Perbedaan-perbedaan tersebut menciptakan relasi kerja yang menuntut keduanya untuk saling mempercayai satu sama lain. Sebagai konsekuensinya, setiap adegan investigasi dalam film mengandung sejumlah pertanyaan, yang menghadirkan momen-momen ketegangan tersendiri. Bisakah Doug dan Gail bekerja sama dalam investigasi ini? Mampukah Gail melakukan apa yang Doug minta dengan benar? Ketika Gail bicara, apakah Doug akan mempercayai masukan dari seseorang yang tak berpengalaman, walaupun orang tersebut adalah kakaknya sendiri? Dalam lapisan ini, Cold Weather menarasikan proses saling percaya antara sepasang kakak-adik yang tak banyak bertukar kata, dalam kemasan sebuah kisah detektif.

Dalam eksekusinya, Cold Weather jelas akan menuntut kesabaran tersendiri dalam diri penonton. Keteracakan narasi di empat puluh menit pertama film, walau memiliki fungsi dalam kerangka besar cerita, adalah benang kusut yang perlu diuntai penonton satu per satu. Belum lagi kecenderungan Aaron Katz menyelipkan sejumlah gambar pemandangan, yang lebih dekat dengan kata “indah” ketimbang “berguna bagi penceritaan” di sepanjang narasi film. Meski begitu, Cold Weather adalah perjalanan sinematik yang pantas ditempuh. Aaron Katz sukses menarasikan perjalanan karakter-karakternya dalam sebuah semesta cerita yang unik, melalui nilai-nilai universal perihal ikatan keluarga.

Cold Weather | 2010 | Sutradara: Aaron Katz | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Cris Lankenau, Trieste Kelly Dunn, Raul Castillo, Robyn Rikoon

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend