Les Porteurs D’espoirs: Pembelajaran, Bukan Pengajaran

les-porteurs-despoir_highlight

Permasalahan lingkungan nampaknya masih menjadi topik yang menarik untuk diangkat. Kebutuhan terkini adalah bagiamana membangun masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Murid-murid kelas enam sekolah dasar La Farandole, Kanada, dalam Les Porteurs D’espoirs bisa dijadikan contoh. Melalui bimbingan guru mereka, Domenique Leduc, mereka mengidentifikasi sejumlah masalah di lingkungan tempat tinggal mereka. Beberapa sudut taman bermain yang dipenuhi coretan, wahana dan fasilitas taman rusak, serta jalan di hutan kecil kurang pencahayaan sewaktu malam. Masyarakat sekitar hampir acuh terhadap masalah-masalah ini. Anak-anak bimbingan Leduc ini pun sepakat untuk melakukan penelitian lebih lanjut, yang berujung pada aksi langsung guna menangani permasalahan-permasalahan lingkungan tersebut.

Leduc menamai penelitian ini research action. Garis cerita Les Porteus D’espoirs menjadi pembuktian apakah penelitian jenis ini bisa diterapkan secara efektif atau tidak oleh anak-anak sekolah dasar. Dalam tatanan yang lebih luas, film ini mencoba menyampaikan pada penonton kalau masih ada harapan bagi dunia, asalkan generasi penerus kita bisa lebih peka terhadap lingkungannya. Harapan ini yang disampaikan melalui narasi suara di awal dan akhir film.

Penelitian ini tak selamanya mulus. Ada sejumlah kendala-kendala yang membuat murid-murid La Farandole harus berpikir masak-masak akan langkah lanjutan yang sebaiknya diambil. Misalnya, ketika mereka sudah yakin tentang urgensi permasalahan lingkungan, mayor kota di mana mereka tinggal ternyata tidak memprioritaskan masalah tersebut dalam rancangan kerja pelayanan publik. Mereka pun menemui kepala bagian pekerjaan umum daerah, yang mengatakan bahwa kondisi lingkungan yang buruk justru akan semakin menyedot anggaran daerah. Rasa percaya diri mereka pun pilih. Mereka kembali percaya apa yang mereka lakukan baik untuk komunitas.

Permasalahan yang paling krusial adalah pembiayaan penelitian. Setelah menghitung dengan detail terhadap setiap pos pengeluaran, murid-murid La Farandole memutuskan untuk mengadakan pertemuan akbar dengan beberapa pemangku kepentingan. Ada instansi pemerintah, yang dalam kasus ini adalah eksekutif kota dan dinas pekerjaan umum. Ada juga instansi swasta yang akan diajak kerjasama sebagai sponsor. Tak lupa juga para orang tua murid. Dalam pertemuan akbar tersebut para murid menjelaskan apa yang mereka kerjakan dan harapan bahwa penelitian ini akan memberikan hasil positif bagi komunitas setempat. Harapannya, mereka tersadarkan akan kondisi lingkungannya dan mau turut berkontribusi.

Pola kerja anak-anak bimbingan Leduc ini mengingatkan akan apa yang dijelaskan Alice McIntyre tentang Participatory Action Research (PAR). Salah satu poin yang dikedepankan McIntyre adalah “a joint decision to engage in individual and/or collective action that leads to a useful solution that benefits the people involved” Pertanyaannya kemudian: bagaimana PAR mampu mendorong kepedulian dan keterlibatan subyek penelitian yang sebelumnya acuh dengan permasalahan yang ada? Bagaimana melakukan penelitian tersebut secara metodis?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, sekiranya perlu untuk mengklarifikasi terlebih dahulu apa itu penelitian, terutama penelitian sosial. Penelitian sosial berbeda dengan penelitian positivistik dalam ilmu alam. Dalam khazanah positivistik, seorang peneliti diwajibkan berjarak dengan obyek penelitiannya untuk mendapatkan hasil yang obyektif. Namun pertanyaan moralis mencuat di ranah kelimuan sosial. Bagaimana jika seorang peneliti sosial menemukan fakta yang “tidak menyenangkan” di lapangan? Apakah dia harus berdiam diri untuk mendapatkan hasil yang obyektif? Atau melakukan intervensi dengan konsekuensi mensubordinasi potensi subyek untuk memecahkan masalahnya sendiri?

Dilema serupa terkuak apabila kita menilik film ini lebih dalam. Ada dua lapisan yang harus dipahami, terkait dengan posisi peneliti dan subyek penelitian. Lapisan pertama menempatkan para murid bersama Leduc sebagai peneliti masalah yang sedang mereka hadapi. Lapisan kedua menempatkan kamera Dansereau dan Leduc sebagai peneliti, sedangkan para murid adalah subyek aktif yang sedang menyelesaikan sebuah masalah. Posisi Leduc yang mendua ini secara kasar merupakan gambaran dari dilema dan kemajemukan posisi subyek dalam problematika metode penelitian sosial.

Dalam PAR, istilah peneliti bisa diganti dengan fasilitator, yang tanggungjawabnya adalah membimbing subyek penelitian untuk memecahkan masalahnya sendiri. Dalam film, Leduc tidak secara langsung terlibat. Apa yang ia lakukan hanya sekedar memancing dan menkonseling jika ada perihal personal yang menganggu jalannya riset. Pilihan kerangka riset dan aksi yang dijalankan ada di tangan para anak-anak. Wacana yang timbul dari semua ini: mereka yang merasa memiliki ilmu tak selalu berada di strata lebih tinggi dari mereka yang kurang. Murid boleh jadi belum setara dengan gurunya dalam segi keilmuan, tapi tak berarti mereka tak bisa memahami permasalahan yang mereka hadapi.

Upaya Leduc serupa dengan tokoh Jacotot dalam buku Ignorant Schoolmaster karangan Jacques Ranciere. Jacotot adalah seorang guru yang mengajar anak-anak kaum buruh yang semuanya bicara dalam bahasa Belanda. Jacotot sendiri adalah seorang Prancis yang tak bisa berbahasa Belanda. Ia pun memberikan buku dwibahasa Prancis-Belanda pada murid-muridnya, lalu meminta mereka menceritakan kembali apa yang mereka baca dalam bahasa Prancis. Di luar dugaan, mereka mampu memahami tata bahasa Prancis tanpa Jacotot harus mengajarkannya. Sederhananya, menurut Ranciere, “something must be learned and all the rest related to it, on this principle: everyone is of equal intelligence.”

Les Porteurs D’espoirs mampu menjabarkan cara memunculkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar tanpa harus mengajari mereka yang sebelumnya acuh. Namun, jika diperkenankan memberi kritik, pesan tentang permasalahan lingkungan, dan metode penelitian PAR sesungguhnya bukan hal yang baru, apa lagi dalam khazanah keilmuan sosial. Hampir setiap kurikulum, khususnya dalam lingkup keilmuan sosio-humaniora, mencantumkan kedua hal tersebut sebagai materi ajar setiap tahunnya. Salah-salah, film ini bisa jadi cuma dianggap sebagai pemanis di buku tahunan murid-murid Leduc.

Les Porteurs D’espoirs (Hope Builders) | 2010 | Sutradara: Fernand Densereau | Negara: Kanada

Film ini diputar di Festival Film Dokumenter 2012, Taman Budaya Yogyakarta, 10-15 Desember. Jadwal pemutaran selengkapnya dapat diakses di sini.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend