The Songstress and the Seagull: Dunia Kecil Milik Tika dan Vina

the-songstress-and-the-seagull_highlight

Dalam 46 menit durasi The Songstress and the Seagull, ada banyak adegan Kartika Jahja berlatih bersama The Dissidents menyanyikan Surat Cinta-nya Vina Panduwinata. Hal tersebut mengingatkan saya akan pemikiran Dan Hofstadter tentang surat cinta. Dalam buku The Love Affair as a Work of Art (1997), yang menganalisa sejumlah korespondensi antara sastrawan Prancis abad 19 tersebut, Hofstadter menjelaskan bahwa surat cinta sejatinya adalah sebuah cara bercerita yang tertutup. Surat cinta tak bicara pada banyak orang. Ia hanya bicara pada dua protagonis utamanya: penulis dan penerima, “aku” dan “kamu”. Dalam penceritaannya, surat cinta selalu mengandaikan sebuah dunia kecil milik berdua, di mana “aku” dan kamu” menjalani kehidupan yang lebih sederhana dan berwarna. Maklum, dalam dunia kecil tersebut, satu-satunya takaran yang berlaku adalah ekspresi dan emosi. Realita sekitar dianggap hampir tidak ada, sehingga apapun yang ditulis dalam surat cinta selalu kembali ke “aku” dan “kamu”. Oleh karenanya, jarang sekali ada surat cinta yang bisa melibatkan pembacanya secara emosional, kecuali kamu sendiri subyeknya.

The Songstress and the Seagull dalam banyak hal bercerita layaknya sebuah surat cinta. Ia hanya bicara pada protagonis utamanya: Tika dan Vina. Pada perkembangannya, ia mengandaikan sebuah dunia kecil milik berdua. Bedanya dengan surat cinta, The Songstress and the Seagull tidak dimaksudkan untuk korespondensi, dan tidak ditulis oleh Tika untuk Vina. Film tersebut ditulis dan disutradarai oleh Paul Agusta. Si sutradara sebelumnya menghasilkan dua film panjang, Kado Hari Jadi (2008) dan At the Very Bottom of Everything (2010). The Songstress and the Seagull adalah dokumenter musik pertamanya, di mana ia merekam sebuah mimpi yang kesampaian, dan bagaimana mimpi tersebut kesampaian.

Premis filmnya begini: Tika begitu mengidolakan Vina Panduwinata. Di bagian pembuka film, dijelaskan bahwa Tika tumbuh besar mendengarkan lagu-lagunya Vina. Ketika Tika mendapat kesempatan untuk kolaborasi dengan Vina, tentu saja pucuk dicinta ulam tiba. Film kemudian menampilkan adegan-adegan Tika & The Dissidents berlatih membawakan Surat Cinta­­, yang diselingi sejumlah adegan wawancara Tika dan para anggota band, tentang harapan dan perasaan mereka perihal kolaborasi akbar tersebut. Film lalu berjalan dengan cara yang kurang lebih sama, sampai momen klimaks dimana Tika dan Vina bernyanyi bersama di atas panggung. Praktis, sampai film berakhir, hampir tidak ada elemen dalam film yang membuka relasi ke realita di sekitar subyek. Apa yang penonton lihat di layar adalah dunia kecil milik Tika dan Vina.

Cakupan penceritaan The Songstress and the Seagull yang eksklusif kentara di tingkah laku kameranya. Kamera terlihat hanya menyorot Tika, Vina, dan orang-orang yang terlibat dalam kolaborasi keduanya. Orang-orang di luar kolaborasi Tika dan Vina, seperti penonton konser, jarang sekali terekam oleh lensa kamera. Sekalinya terekam, orang-orang tersebut berada di posisi catatan kaki bagi Tika dan Vina. Salah satu contohnya adalah saat Tika dan Vina pertama kali latihan bersama. Ada satu adegan dimana kamera membingkai Tika dan Vina, yang sedang menyanyi bersama, dalam medium shot. Jauh di belakang mereka ada sejumlah orang duduk di kursi. Di belakang orang-orang tersebut, ada sebuah kaca lebar yang memantulkan penampilan Tika dan Vina. Jadinya, dilihat dari depan, orang-orang tersebut seperti terjepit di antara dua “Tika dan Vina”: satu nyata, satu fana. Contoh lainnya adalah saat Tika dan Vina menyanyi bersama di atas panggung waktu penampilan puncak. Sambil membelakangi penonton, kamera secara gradual menyempit dan membingkai kedua biduanita. Penonton konser berada di luar bingkai layar, dan hanya teridentifikasi oleh riuh suaranya.

Sepanjang The Songstress and the Seagull, kamera juga seperti tidak ambil pusing melakukan perkenalan. Setiap ganti adegan, kamera sudah berada di tengah kegiatan Tika, di ruang-ruang yang lanskapnya mengisolasi subyek dari dunia luar. Menariknya, dari awal sampai akhir film, peran kamera seperti mengalami pergeseran. Di segmen persiapan dan latihan, kamera masih terbagi perannya, yakni sebagai perekam di adegan non-wawancara dan penanya di adegan wawancara. Menjelang penampilan puncak hingga akhir film, kamera bertindak layaknya suatu karakter tersendiri, layaknya seorang teman. Para narasumber sadar akan keberadaan kamera dan turut berinteraksi dengannya. Sebelum naik ke atas panggung, salah seorang narasumber menitipkan telepon selulernya ke seseorang di balik kamera. Dalam dua adegan, seseorang di balik kamera tersebut (si sutradara tepatnya, yang sepanjang film terlihat tiga kali lewat pantulan cermin) bahkan menjawab balik ke narasumber.

Pergeseran peran kamera menjadikan The Songstress and the Seagull sebagai sebuah karya yang ketat dan koheren. Narasi film jadinya tidak meluas ke mana-mana, tapi menautkan dirinya makin erat ke dalam. Dunia kecil milik Tika dan Vina jadi semakin solid terbangun di layar, karena film pada akhirnya menunjukkan sebuah dunia kecil dimana orang-orang di dalamnya (termasuk perekamnya) turut berbahagia akan sebuah mimpi yang kesampaian. Efek sampingnya: dunia kecil mereka jadi tidak punya banyak pintu masuk untuk penonton netral. Pasalnya, keseluruhan narasi The Songstress and the Seagull bertumpu pada sebuah fakta personal, yang signifikan hanya pada dirinya sendiri. Setiap adegan dalam film disetir oleh fakta bahwa Tika mengidolakan Vina, dan kolaborasi keduanya adalah suatu momen yang penting bagi Tika. Mengingat narasi film lebih berorientasi ke dalam, menjadi aneh melihat The Songstress and the Seagull tidak meneropong lebih ke dalam dua subyeknya. Sampai akhir film, penonton tidak tahu apa yang membuat perasaan Tika ke Vina begitu personal, begitu unik dari banyak penggemar Vina lainnya di muka bumi ini. Apakah Vina berpengaruh bagi Tika sebagai penyanyi? Sebagai seorang individu? Atau, memang hanya sebatas kenangan masa kecil?

Pertanyan-pertanyaan di atas penting mengingat masing-masing subyek di luar film ini punya reputasinya sendiri. Di satu sisi, ada Kartika Jahja dan grup musik Tika & The Dissidents, sekelompok anak muda yang seringkali direpresentasikan media sebagai semangat independen di belantika musik nusantara. Di sisi lain, ada Vina Panduwinata, penyanyi legendaris yang sukses bertahan lama di industri musik nasional. Fakta-fakta di luar film tersebut yang kurang disambungkan The Songstress and The Seagull ke dalam narasinya. Hanya ada satu pernyataan narasumber, yang menjelaskan bahwa Tika dan Vina punya pendekatan yang berbeda dalam bermusik, mengingat dekade-dekade yang memisahkan keduanya. Selebihnya tidak ada lagi. Padahal, fakta-fakta  tersebut yang dipakai penonton untuk memahami betapa pentingnya segala yang terjadi dalam The Songstress and the Seagull bagi diri Tika. Bagian pembuka film memantik antisipasi tersendiri kalau film akan menginvestigasi kedua subyek, dan menampilkan informasi lebih perihal perasaan Tika ke Vina. Sayangnya, antisipasi tersebut tidak banyak dijawab oleh narasi film, yang sangat fokus dalam mengkronologikan kegiatan, namun kurang mendalami masing-masing subyek.

Apabila ditakar dari hal-hal yang tidak ditunjukkan di layar, The Songstress and the Seagull baru sukses sebagai dokumentasi suatu event musik. Ia belum sukses sebagai dokumentasi suatu event musik yang penting dalam hidup seseorang. Apabila ditakar dari hal-hal yang ditunjukkan di layar, The Songstress and the Seagull adalah film yang sukses untuk dirinya sendiri. Ia sukses mengeksekusi premis awalnya secara koheren, sukses mengkronologikan kejadian-kejadian di balik kolaborasi Tika dan Vina, dan sukses membangun rangkaian visual yang tepat untuk kedua subyeknya.

The Songstress and the Seagull | 2011 | Durasi: 46 menit Sutradara: Paul Agusta | Produksi: Kinekuma Pictures Negara: Indonesia | Narasumber: Kartika Jahja, Vina Panduwinata, Nikita Dompas, Iman Fattah, Muthiara Rievana, Iga Massardi

Tulisan ini merupakan resensi salah satu film yang diputar selama Bulan Film Nasional 2011 di Kineforum DKJ.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend