Narnia – The Voyage of the Dawn Treader: Serbuan Alegori di Segala Lini

narnia_the_voyage_of_the_dawn_treader_highlight

Berpetualang bersama seri Narnia berarti harus selalu siap beradu pandang dengan misteri yang terbuka. Meskipun selalu mengherankan sebab bagaimana mungkin masalah seterbuka itu bisa menjadi kemustahilan buat orang – orang lain berderet abad lamanya. Keterbukaan misteri dalam seri Narnia menjadi begitu menarik karena ia mewakili teka-teki yang sedimikian tertutupnya. Penampakan petunjuk justru muncul sebelum kita mengetahui seberapa enigmatik sebuah tanda tanya. Anda tentu mengerti maksud saya, ketika petunjuk ditemui oleh para karakter, kuartet Peter-Susan-Edmund-Lucy, maka bersiaplah, sebab apapun yang tertutup sejak lama akan segera dibuka kehadapan penonton. Setertutup apapun misteri itu bagi orang lain.

Entah berasal dari mana, novel atau sutradara, struktur penceritaan seri Narnia selalu berbentuk kamar yang harus dimasuki satu persatu oleh para karakternya. Kamar itu berwujud bilik dongeng dimana segalanya begitu mudah berbalik, tingkatannya berlapis-lapis hingga hanya logika dongeng pulalah yang kuasa melonggarkan simpulannya. Kamar-kamar inilah sebenarnya yang membuat siklus cerita seri Narnia menjadi begitu menyenangkan.

Cara bercerita itu dipertahankan dalam film ketiga seri Narnia yang diangkat ke layar lebar, The Voyage of the Dawn Treader. Di mana Edmund dan Lucy datang menemani Pangeran Caspian menelusuri misteri nenek moyangnya. Dalam film ini, seri Narnia semakin menampakkan hierarki makhluk-makhluk didalamnya. Bahwa yang akrab dengan raja adalah mereka yang berjasa, dan yang akrab dengan sang adiduniawi (Aslan) adalah mereka para raja. Logika dan standpoint moral kristen khas C.S Lewis memasuki fase yang begitu eksplisit di film ketiga ini. Bahwa tidak sekedar menelusuri nenek moyangnya, Pangeran Caspian sebenarnya tengah berpetualang dalam dunia konotatif, mendekati Aslan dan bahkan mengunjungi negeri ayah transendentalnya itu. Kematian tidak digambarkan secara fisik, dengan cakap Narnia mengantar penontonnya memasuki logika kematian dalam ajaran Kristen lewat narasi dongeng yang memukau. Tak ada degradasi fisik, hanya perpisahan kekal yang mengharukan. The Voyage of the Dawn Treader berhasil menginterpretasi pucuk alegori tertinggi di semua lini.

Kembali ke masalah hierarki. Supaya raja tak dianggap tiran dengan pergi sendiri menghadap sang sosok adikodrati, diciptakanlah sosok Gael, figur rakyat jelata dengan problema pribadinya yang merupakan representasi sosial masyarakat Narnia, ia ikut berjuang bersama para raja dan ratu kuno beserta Pangeran Caspian. Lewat Gael, gap politis antara raja dan rakyat bisa jauh berkurang. Bila tak ada Gael, maka rakyat dalam logika dongeng Narnia akan menjadi rakyat pasif yang hanya bisa bergantung pada kadar heroisme sang raja, dan itu tentu tidak sesuai dengan persona raja dalam rasio hikayat Narnia sendiri.

Narasi dongeng Narnia di film ketiga tanpa basa-basi menitis menjadi kiasan yang mencolok. Bila di dua dongeng sebelumnya, musuhnya dijelmakan kedalam ikon material yang jelas (Wanita Penyihir dalam seri pertama dan Lord Miraz dalam seri kedua), di seri ketiga, sang musuh mulai menjauh dari dunia material. Ia membimbing karakter dan para penonton untuk memasuki wilayah eksistensial. Musuh yang dimaksud menjadi kompleks dan meragukan. Visi C.S Lewis menjadi begitu sulit untuk dikesampingkan, The Voyage of the Dawn Treader akhirnya menuruti beliau untuk memilah dunia menjadi baik dan buruk, hitam dan putih, dengan modifikasi slapstick di tengah-tengahnya yang kebetulan disandang oleh karakter Eustace Scrubb. Entitas tengah-tengah ini juga pada akhirnya berubah menjadi, kalau tidak hitam ya putih.

Dalam The Voyage of the Dawn Treader, elemen moralis bisa kita amati pada pola kubu “baik”. Kebaikan menular seperti sawan. Ia menjangkiti mereka yang bahkan tak mau mengenalnya sama sekali, lewat perjalanan dan pelajaran, lewat nasihat verbal maupun cemoohan. Bila kebaikan dan keburukan kita umpamakan sebagai iseutas benang yang hitam bercampur putih. Maka lama kelamaan, warna hitam akan berkurang dijajah oleh warna putih. Logika ini tentu dalam mengakar pada motivasi semitik cerita ini.

The Voyage of the Dawn Treader adalah perwujudan logika Kristen yang paling eksplisit dibanding dua pendahulunya. Dalam seri pertama, penonton “sekedar” diperkenalkan pada dunia Narnia. Dunia spiritual yang segregatif dengan dunia nyata bahkan hingga ke satuan terkecilnya: waktu. Tentu semua masih ingat bahwa ratusan tahun di negeri Narnia berimbang sekejap mata di dunia nyata. Dalam dunia Narnia itu, penonton diperkenalkan pada unsur moral dasar yang mewujud dalam benda-benda dan atribut mereka. Ambil contoh binatang yang fasih berbicara, bukankah mereka adalah nasihat yang lembut bagi anak-anak agar memperlakukan binatang sebagaimana mereka memperlakukan manusia? Selanjutnya, penonton lalu diberitahu bahwa dunia Narnia (spiritual) ini tentunya tak lepas dari antagonisme. Ada sesuatu yang harus diatasi di sana, dialah The Witch.

Dalam seri kedua, dilantunkan kisah kelam bagi mereka yang tak mau menghargai spiritualitas dunia Narnia dan memilih untuk buta. Lord Miraz, siapa lagi dia kalau bukan perwakilan orang-orang yang tak peduli agama. Bangsa Telmarine membunuh takhayul dan mengusir rakyat Narnia dari negeri mereka, sebagaimana aktifis Renaissance mengebiri kuasa gereja dan mengasingkan peran mereka dari struktur negara-bangsa modern. Meskipun lebih gelap dan galau (karena saya curiga, seri kedua memang dirancang sebagai antitesa dari seri pertama. Bila seri pertama adalah janji, maka seri kedua adalah ancaman), tetapi sisi hitam yang harus diatasi tetaplah dipersonifikasikan secara konkret: Lord Miraz.

Kebiasaan inilah yang membuat saya menganga ketika menonton seri ketiga, penyaruan spirit itu sudah tak lagi berwujud sesuatu yang bisa diraba atau diperlihatkan. Dengan tegas, dongeng Narnia mengungkapkan namanya, “Evil”. Bahwa “Evil” adalah sesuatu yang harus kita atasi dan ia berada sangat dekat dengan urat leher sendiri. Struktur bercerita yang sangat mirip dengan The Thin Red Line (1998), dimana musuh konkret tak menampakkan diri tapi pengaruhnya begitu digdaya. Itulah mengapa saya menilai bahwa, The Voyage of the Dawn Treader adalah interpretasi visi C.S Lewis yang paling mencolok.

Terakhir, saya menemukan tabrakan-tabrakan dasar yang konstan dalam arus pikir dongeng Narnia ini. Epistemologi yang terang selalu ditabrakkan dengan kemenjadian ontologi yang gelap. Kerasnya tabrakan itu bahkan hampir menutup jalan bagi gaya naratif dongeng untuk masuk mengantar lalu menyelimuti. Saya kagum dan selalu tak habis pikir, bahwa dongeng Narnia secara stabil berhasil memanfaatkan metode dongeng sebagai landasan aksiologisnya, lengkap dengan segala alegori yang tak masalah mau semoralis ini atau senihilis apa, tetap menjadi pesona tersendiri di sanubari penggemarnya.

The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader | 2010 | Sutradara: Michael Apted | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Georgie Henley, Skandar Keynes, Ben Barnes, Will Poulter, Gary Sweet

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend