The Milk of Sorrow: Terapi Simbolis untuk Trauma Historis

milk-of-sorrow_highlight

Sinema Peru tak begitu banyak kita dengar akhir-akhir ini, suara terlantang dari Amerika Latin sewindu terakhir kerap datang dari wilayah pantai selatan, Argentina. Kabarnya, Buenos Aires memang tengah menggeliat dengan maraknya sekolah-sekolah film anyar nan berkualitas. Baru pada tahun 2009, Peru berhasil meloloskan wakilnya kedalam nominasi Oscar dan menyabet Golden Bear di Berlin Film Festival lewat Milk of Sorrow (La teta asustada). Dibuat oleh Claudia Llosa, keponakan dari penulis kenamaan, Mario Vargas Llosa. The Milk of Sorrow mendendangkan tembang sayu seorang wanita muda dalam bingkai kesenduanan nan ganjil.

Fausta namanya, ia menderita penyakit bawaan yang dilansir menjangkitinya akibat menenggak air susu ibu yang mengandungnya akibat perbuatan tak senonoh. Dalam mitos warga Peru, air susu ini disebut “la teta asustada”, air susu kesedihan. Maka hasilnya, Fausta tumbuh menjadi gadis yang selalu ragu menghadapi hidup, pendiam lagi sangat papa sehingga ia dan ibunya harus menumpang tinggal di rumah pamannya, disebuah desa berpasir dipinggir kota Lima. Fausta semakin menangis sebab ibunya meninggal dunia diwaktu keluarga mereka tak punya cukup uang untuk membeli peti mati dan menyewa lahan pekuburan. Untuk sementara, jenazah ibu Fausta disemayamkan dikolong dipan kamar tamu rumah pamannya.

Masalah bertambah ketika salah seorang anak paman Fausta ingin menikah, pasangan pengantin baru yang miskin ini harus menumpang sementara dulu di rumah tersebut. Kamar tempat jenazah ibu Fausta akan dilungsurkan pada mereka, Fausta didesak untuk segera menguburkan ibunya, atau membuangnya saja. Fausta tak rela, ia mencari uang dengan bekerja selaku pelayan di rumah Aida, pianis termasyhur dikota Lima.

Ada keseragaman jurus yang keluar dari tangan para Sineas Amerika Latin setahun terakhir, yakni jurus realisme magis (magic realism). Terutama diwakili oleh The Wind Journeys (Kolombia, 2009) dan La teta asustada (Peru, 2009). Bila dilacak dari mana datangnya, hal ini bisa kita telusuri jauh kebelakang hingga Like Water For Chocolate (Meksiko, 1992) lalu akhirnya menemukan bahwa tradisi realisme magis telah mengakar sejak seniman sastra terdahulu, seperti Isabel Allende dan Gabriel Garcia Marquez; Realisme Magis adalah bagian penting dari fragmen peradaban Spanyol yang tertinggal di Amerika Latin. Meskipun tetap klise bila kita menuduh semua film Amerika Latin berwarna realisme magis, sama “berdosa”nya dengan menuduh semua film Filipina mengangkat tema kemiskinan, atau semua film Perancis itu berat.

Claudia Llosa berangkat dari tafsirnya atas sebuah penelitian antropologis mengenai penderitaan para wanita di Peru akibat kekacauan politik setempat tahun 1980-an yang disebabkan oleh rusuhnya gerakan Sendero Luminoso (gerakan mMois yang hendak mengganti bentuk pemerintahan Peru). Llosa merespon penderitaan wanita dan menuliskannya dalam format realisme magis dimana cedera para wanita terkumpul dalam tokoh Fausta.

Fausta adalah simbol-yang-menampilkan-simbol kepada penonton dengan tujuan agar penonton bisa merasa terhubung dengan film dalam level emosional. Fausta saya nilai berhasil justru akibat interpretasi Llosa yang berani melawan interpretasi linier atas sebuah fakta historis. Dalam wawancaranya dengan kritikus Amber Wilkinson, Llosa menyatakan bahwa realisme magis menafsirkan sesuatu dengan cara yang irasional yakni serong atau bahkan terbalik dengan yang masuk akal. Premis itulah yang dipakai Llosa dalam meletakkan Fausta dan tiga antagonisnya: trauma sejarah, kelas, dan dominasi patriarkal ditengah hamparan simbol berupa mitos, nyanyian, dan kesunyian.

II

Dikisahkan bahwa terdapat “kentang” didalam kemaluan Fausta sehingga ia harus berjalan mengangkang persis orang sakit wasir menahun. “Kentang” adalah simbol penting dalam kehidupan masyarakat Peru yang kemudian disemayamkan pada badan Fausta sebagai hijab sekaligus kritik terhadap praktek kekerasan seksual dalam milieu-nya.

Nyanyian dalam bahasa Quechua adalah suara yang tak mungkin didengarkan orang bila tak disampirkan pada nada-nada. Nyanyian Fausta membantunya mengurangi jarak antarkelas antara dirinya dengan kaum aristokrat yang diwakili oleh Aida sang pianis, pemampatan jarak ini digambarkan dengan pintar oleh Llosa lewat simbol timbangan mutiara yang semakin lama semakin berat disebelah kanan, sebagai bentuk bertambahnya kepercayaan Aida pada Fausta. Mutiara yang pada akhir film berhasil direbut oleh Fausta; dengan perjuangan dan alienasi tanpa resolusi: Aida memarahi Fausta lalu menelantarkannya ditengah kota, tak ada resolusi antara Fausta dan Aida hingga film berakhir. Tapi mutiara berhasil direbut.

Fausta dan keheningannya adalah hal yang mustahil diterobos, La teta asustada hening bukan karena Fausta berpembawaan diam. Keheningan diusung sebagai simbol untuk mendekatkan diri pada apa yang tak mungkin didekati. Dalam teologia katolik, keheningan adalah bentuk doa-pasif dimana setiap keberbentukan bisa dilampaui untuk kemudian berkomunikasi dengan Sang Adiduniawi. Dalam bukunya The Law of Christ Vol. II / Life in Fellowship with God and Fellow Man, Bernard Haring menulis bahwa passive-prayer adalah upaya meletakkan aktivitas ilahiah sebelum kesadaran dan membiarkan cinta kudus memeluk hati. Sesuatu yang sangat dikenal oleh warga Peru yang mayoritas memeluk Katolik. Keheningan yang “ini” ialah commemorative silence yang manjur dalam memperingati apa saja terutama trauma; sesuatu yang juga membuat kenyang orang-orang Peru. Menonton La teta asustada berarti bercermin setiap kali hening menyelimuti layar.

Ketiga mitos ini digunakan Llosa untuk menyembuhkan protagonisnya dari tiga permasalahan yang menimpa wanita Peru. Llosa mengharapkan agar setiap penonton bisa menjumput cerita mereka sendiri setelah menonton film ini dan harapan tersebut nampaknya terwujud.

III

Claudia Llosa kini tinggal di Spanyol dengan alasan biar lebih mudah dapat budget untuk film-filmnya, masuk akal mengingat hanya terdapat satu lembaga funding di Peru, Conacine. Conacine baru menghampiri Llosa pada film keduanya dengan funding (hanya) sebesar  USD 500.000, sisanya harus ia gerilyakan sendiri lewat ko-produksi dengan lembaga-lembaga funding di Eropa. Funding untuk film debut Llosa, Madeinusa (2006), justru ia dapatkan dari Havana Film Festival dan bukan dari negerinya sendiri.

Para penggemar film feminis bisa berbangga sebab tahun 2009, setidaknya ada tiga film tentang perempuan yang dibuat oleh perempuan yang mampu mendapatkan perhatian internasional dan mereka memang pantas mendapatkannya. Selain La teta asustada, juga terdapat Home (Ursula Meier, Swiss) dan Fish Tank (Andrea Arnold, Inggris).

La teta asustada (Milk of Sorrow) | 2009 | Sutadara: Claudia Llosa | Negara: Peru | Pemain: Magaly Solier, Susi Sánchez, Efraín Solís, Bárbara Lazón

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend