Winter’s Bone: Dingin, Hening, dan Keras

winters-bone_highlight

Dulu saya sempat berfikir, apakah masih ada pedesaan di Amerika Serikat? Kisah-kisah pedesaan yang berasal dari negeri itu biasanya selalu berlatarkan jaman dahulu: kisah tentang petani kapas di selatan pada masa Perang Sipil, kisah sheriff yang melindungi desanya dari onar para bandit, atau kisah orang kulit hitam yang bekerja pada keluarga kulit putih dengan segala kritik dan dekonstruksinya. Dengan anggapan macam itu, tentu saya penasaran dengan Winter’s Bone, film rilisan 2010 yang baru saja menuai sukses di Sundance Film Festival. Ia berangkat dari pedesaan di dataran tinggi Ozark, wilayah yang konon sedikit sekali bersentuhan dengan modernitas khas Amerika Serikat, yang kerap diobral di layar-layar besar Hollywood.

Pegunungan Ozark membentang dari negara bagian Missouri hingga Arkansas dengan sedikit meluapi tepian Illinois dan Oklahoma. Ia dikenal karena tekstur etnografinya yang berbeda. Masyarakat didataran tinggi itu masih hidup berdekatan dengan budaya muasal mereka berabad tahun lewat: Jerman, Appalachea (salah satu rumpun ras Indian), dan suku-suku dari Irlandia Utara yang  datang menghuni tempat itu beratus tahun silam. Budaya tua ini masih teraut jelas dikehidupan warga sehari-hari karena tak terlalu “dipimpin” oleh peradaban kota. Filmmaker Debra Granik menggelar filming-on-location di Taney dan Christian County di Missouri untuk menceritakan kisah yang memang berasal dari tempat tersebut.

Mengangkat diri dari novel berjudul sama karya Daniel Woodrell, Winter’s Bone menggelar kisah adu kuat antara yang publik (negara dan masyarakat secara mekanis) dan yang domestik (keluarga) di daerah puak Ozark. Ceritanya, Ree Dolly harus mencari ayahnya yang buron dan menyerahkannya pada kepolisian untuk diadili. Sebab bila tidak, kepolisian akan menyita rumahnya yang ternyata telah dijadikan jaminan oleh si ayah apabila kelak ia mangkir dari hadirat pengadilan. Dan ternyata ia mangkir!

Dimulailah kisah resah orang-orang yang enggan bergerak namun dipaksa, hari-hari mendung menemani Ree berkeliling dari satu rumah ke rumah yang lain, dari sanak karib hingga yang renggang,  bertemu dengan orang-orang tak dikenal dan tak sudi ambil peduli. Lewat situ Granik mengangkat pandangan kita ke atas panggung sosio-kultural masyarakat Ozark yang paling biasa. Bagaimana mereka bergaul, berdialek, menyelesaikan masalah, bertikai dan kembali berdamai. Sungguh, Ozark adalah tanah tinggi yang dingin, cokelat, dan keras. Pohon-pohon tertidur sepanjang waktu, begitu pula dengan masyarakat yang selalu bekerja dalam diam, hanya irama country sayup-sayup mendengung dari dalam bar-bar kecil berdinding kayu.

Saya tidak tahu dari mana Granik memperoleh ide ini, ia menambah kompleksitas kehidupan para karakternya dengan menghilangkan peran para lelaki. Keluarga Ree Dolly adalah keluarga tanpa “lelaki”, dimana Ree harus menanggung kehidupan dua adiknya Sonny (12 tahun) dan Ashlee (6 tahun). Sonny tentu belum bisa kita kategorikan sebagai laki-laki; ia lebih lumrah disebut sebagai anak-anak. Belum lagi ibu mereka yang sakit, benar-benar sakit sehingga diajak bicara saja mustahil.

Dalam Winter’s Bone, lelaki hanyalah beban bagi keluarganya. Ia menebar benih lalu pergi menghilang, meninggalkan susah derita sehingga para perempuan yang lebih domestik harus menanggung semuanya. Ada karakter bernama Teardrop, paman Ree, tetapi tak bisa menghidupi keluarga Ree dan tak pernah mau terlalu pusing. Ia tampak seperti Viggo Mortensen dalam film seram A History of Violence.

Tak hanya di keluarga domestik, penggambaran perempuan sebagai representasi utama keluarga tergambar hingga ke ranah altruisme, yang justru membuat kadar perempuan sedikit melampau laki-laki bila diperbandingkan dengan standar gender masyarakat umum. Winter’s Bone benar-benar tak melibatkan laki-laki dalam perasaan: perasaan cinta romantik maupun kasih altruistik. Ree, dalam pencariannya akan ayahnya, selalu dibantu oleh para perempuan. Laki-laki ke mana? Mereka lempem nun disana, terkantuk-kantuk di bar, mabuk dan meracau hingga jauh malam. Film ini mengusir laki-laki hingga ke ranah publik yang benar-benar mekanis, dan tentu saja tak berguna untuk berdrama ria.

Granik juga berusaha meminjam kacamata masyarakat Ozark dalam melihat pemerintah. Bagi masyarakat rural seperti ini, wacana kritik terhadap pemerintah masih dua langkah berada di depan mereka. Negara adalah entitas yang (masih) sempurna di mata masyarakat Ozark, dimana negara selalu dewasa dalam menyikapi masalah dan tak pernah mengesampingkan keluhan warganya. Rakyat sangat sayang pada negara. Tidak hanya lelaki, bahkan para perempuan juga ingin melayani negara dengan bergabung menjadi tentara. Bagi mereka, negara adalah orang tua yang senantiasa takzim menyimak kesah hati rakyatnya.

Bagi saya, Winter’s Bone adalah film yang menggunakan konfliknya sebagai prioritas kedua setelah pengenalan kultur. Saya bahkan tak berani menyebut bahwa proses Ree mencari ayahnya adalah sebuah konflik dalam terminologi drama klasik, kejadian itu hanyalah fenomena yang terjadi ketika kebiasaan masyarakat sudah mulai terusik oleh kebijakan pemerintah modern yang disamaratakan dari pantai timur hingga ke barat, dari Alaska dingin nun di utara hingga gurun Arizona yang membara di selatan. Tentu kurang bijak jika saya menceritakan juga bagaimana konflik tersebut akhirnya ditangani oleh Ree dan keluarganya, tetapi percayalah, ia bukan pemecahan konflik yang biasa kita lihat. Kisah Ree bukanlah kisah berorientasi karakter, melainkan cerita yang berpayung pada awan-awan mendung Missouri, mengantarkan kita berkeliling desa tanpa obrolan, syukur-syukur kalau bisa membuat kita memahami mereka dalam waktu kurang dari dua jam durasi film. Film ini adalah rekomendasi bagi mereka yang menyenangi antropologi.

Winter’s Bone | 2010 | Sutradara : Debra Granik | Negara: Amerika Serikat | Pemain : Jennifer Lawrence, Kevin Breznahan, John Hawkes, Isaiah Stone, Ashlee Thompson

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend