Love Steaks: Menu Baru Sinema Jerman

love-steaks-film_hlgh

Jika diibaratkan dengan sebuah steik, dunia sinema konvensional adalah steik yang dimasak terlalu matang: kaku dan hambar, jika tidak pahit. Dan steik ini, rupanya dimasak oleh restoran-restoran waralaba pula, yang bahan dan cara masakannya sudah dipatok hanya itu-itu saja. Rigiditas struktur, pendanaan, dan proses perfilman gaya lama yang membikin jenuh ini lantas digugat oleh mereka yang menyebut dirinya sebagai gerakan “indie”. Kaum “indie” ini mendobrak kemapanan dengan menawarkan ide dan teknik yang lebih segar dan bebas. Mereka berani mengangkat gagasan yang kadang eksentrik, kadang bahkan terlalu sepele, lalu bermain-main dengannya menjadi karya seni; mengembalikan film kepada titahnya sebagai sebuah media ekspresi, dan bukannya alat pencari kekayaan materi.

Saat Lars von Trier dan Thomas Vinterberg menginisiasi gerakan yang mereka sebut Dogme 95 hampir 20 tahun lalu, mereka sedang melawan hegemoni studio film juga dependensi yang berlebihan kepada special effect dan gimmick pascaproduksi lainnya. Dan pada tahun 2013 di Jerman, Jakob Lass mencoba membuat gerakan yang serupa. Gerakan yang diberi nama FOGMA ini (mungkin sebuah penghormatan kepada Dogme 95) melahirkan anak pertamanya dalam Love Steaks, film produksi Lass bersama Ines Schiller dan Golo Schultz.

Love Steaks adalah sebuah film komedi-tragis tentang dua orang yang sifatnya berbeda jauh, Clemens dan Lara, yang berlatar di sebuah hotel berbintang. Ceritanya cenderung minimalis saja, mirip cerita-cerita pendek Alice Munro atau Raymond Carver. Clemens (Franz Rogowski), adalah seorang terapis pijat (masseuse) baru di hotel tersebut. Selain belajar tentang teknik memijat dan tenaga dalam (kurang lebih seperti konsep aliran Qi), ia ditugasi untuk membersihkan area spa dan mengangkut pakaian dan handuk kotor ke bagian laundry.  Karena tidak punya tempat tinggal, ia diberi kebebasan untuk tidur di sebuah ruangan di dekat tempat laundry, meskipun untuk itu ia harus merelakan privasinya nyaris nihil. Lara (Lana Cooper) adalah seorang trainee juga. Ia bekerja di situ lebih dulu daripada Clemens, di bagian restoran sebagai koki.

Clemens adalah seorang pemuda yang pemalu, canggung, ceroboh, dan tidak berpengalaman secara seksual. Neurotisismenya mengingatkan saya pada Woody Allen di film-filmnya tahun 70′-80′-an. Sedangkan Lara adalah semua hal yang bukan Clemens: enerjik, pemberani, berjiwa bebas, dan bahkan cenderung suka berbuat onar. Namun di balik itu ia adalah pemabuk yang parah. Berawal pada pertemuan pertama di sebuah lift (mengingatkan saya pada salah satu bagian di 500 Days of Summer) hidup mereka semakin mendekat, apalagi sejak Clemens menyelamatkan Lara yang mabuk sampai terkapar di tepi pantai. Mereka bertukar hadiah, antara massage dan steik (yang ditolak Clemens karena dia vegetarian). Namun tak hanya itu yang mereka tukar, tetapi juga cara menjalani hidup, antara stabilitas dan kebebasan. Clemens menemukan keberaniannya lewat tantangan-tantangan konyol dari Lara (seperti untuk menepuk pantat Lara dengan keras atau mengaku pada seorang supervisor bahwa dia menjadi fantasi seksual Clemens). Lara yang pemabuk pelan-pelan mulai memperbaiki kebiasaan buruknya melalui terapi dan meditasi yang diajarkan Clemens. Adegan-adegan yang komikal membalut romantisisme mereka berdua, misalnya kecerobohan Clemens setiap kali mengepel lantai, juga kelakar Lara saat melihat ritual penyembuhan alkoholisme a la Timur yang nyeleneh.

Clemens, di satu sisi, adalah perwujudan order, keteraturan. Lara, di sisi lain adalah perwujudan chaos, kekacauan. Ini tentu adalah tema yang lumayan galib dalam dunia persinemaan. Namun, Love Steaks bukanlah cerita cinta dengan narasi “opposites attracts” yang klise. Ia bukanlah –menyitir Zizek– kisah tentang orang kaya muda dalam krisis identitas yang mendapatkan kembali semangatnya setelah berhubungan singkat dengan kehidupan orang miskin (atau liar) yang penuh gairah. Baik Clemens dan Lara tidak berasal dari keluarga yang kaya atau terpandang, tak pula sukses dalam hidup dan pekerjaan. Ini adalah kisah cinta dua orang biasa yang satu sama lain mencoba menjadi mediator perubahan hidup mereka yang sama-sama menyedihkan. Ada dua adegan berbau katarsis di sini: Lara yang mengubur flask-nya di pantai, tanda bahwa dia siap mengubur bagian terburuk dirinya. Kedua, adegan Clemens yang dilapisi dengan daging mentah oleh Lara sembari berdiskusi tentang genitalia, simbolisme Clemens yang menerima keduniawian dan seksualitasnya. Proses transformasi ini, tentu saja juga tidak sempurna. Konflik mengenai adiksi, konsep-diri (“Mengapa selalu kau yang ambil kendali, Lara?”), dan problematika dunia kerja mulai timbul dan menjadi pemisah. Dan, sama seperti di kehidupan nyata, opposites also destroy.

Selain itu, dalam salah satu fragmennya, Love Steaks memberikan sedikit potret tentang kiriarki dalam adegan pelecehan seksual yang dialami Clemens oleh seorang wanita setengah tua yang menggunakan jasanya. Clemens bingung harus bertindak seperti apa, bahkan menolak saran Lara untuk komplain secara langsung kepada wanita itu, dengan alasan wanita itu lebih berkuasa karena dia kaya. Di sini konsep gender flip tak melulu tentang Clemens yang pemalu (atribut yang secara tradisional dianggap feminin) dan tingkah Lara yang cenderung jantan. Ada pembalikan relasi kuasa, di mana laki-laki menjadi korbannya. Love Steaks menunjukkan bahwa inilah yang dihadapi oleh para wanita korban pelecehan (atau korban patriarki pada umumnya), yaitu ketidakmampuan melawan karena ketimpangan kuasa. Ia menyentil para lelaki yang secara default diuntungkan dalam masyarakat, yang secara emosional buta terhadap apa yang dialami para wanita.

FOGMA dan Inovasi dalam Film

Sesuai dengan manifesto FOGMA, Jakob Lass menggarap Love Steaks dengan menyediakan sebanyak mungkin ruang untuk fleksibilitas. Digarap dengan immersionisme a la film dokumenter, ia menggunakan hotel sungguhan sebagai setnya, lengkap dengan segala hiruk-pikuknya yang tidak dibuat-buat. Tak hanya itu, mengutip wawancara oleh Lilian Maria Pithan di situs Cafebabel, Lass menuturkan bahwa film ini dibuat dengan “tidak ada sepatah kata dari dialog pun yang ditulis”. ‘Naskahnya’, begitulah, hanya berdasarkan sebuah garis besar yang membentuk kerangka kasarnya, berfokus pada hubungan antara Lara dan Clemens dalam lima fase dan 18 adegan”. Lass juga bereksperimen dengan menggunakan artis nonprofesional: Lana Cooper mulanya melamar sebagai asisten sutradara, sedangkan Franz Rogowski adalah seorang penari. Pun juga mereka yang menjadi ekstra adalah benar-benar pegawai hotel.

Seperti Dogme 95, Lass dan Timon Schaeppi memakai kamera hand-held dan menolak penggunaan sumber cahaya tambahan. Dengan kemajuan teknologi kamera dewasa ini, kualitas gambarnya sama sekali tidak menjadi masalah. Cuts diterapkan secara ekstensif dalam film ini, baik match cuts (misalnya pada sebuah juktaposisi adegan Lara memasak steik dan Clemens memijat pelanggan) maupun jump cuts (yang digunakan hampir sepanjang film). Tidak ada shot yang berdurasi lama, baik establishing shots maupun tracking shots. Karena dibuat dengan set-up single camera apalagi hand-held, Love Steaks adalah sebuah film yang stakato dan berpotensi membosankan seandainya saja Schaeppi tidak memvariasikan sudut dan perspektif pengambilan gambar. Musik pengiring dari Golo Schultz bernada upbeat meskipun menurut saya cenderung disonan. Momen yang secara visual terlihat emosional (contohnya saat Clemens membopong Lara dari pantai) malah diberi scoring yang berdentum-dentum.

Jakob Lass mungkin saja “hanya” membangkitkan kembali Dogme 95 yang sudah lama mati dengan nama yang baru. Namun sesungguhnya FOGMA adalah lebih dari itu. Ia tidak hanya menghendaki postmodernisme stilistik atau impulsivitas proses kreatif semata. Ia juga menghendaki kebebasan dalam proses distribusi film. Selama ini di Jerman film yang didanai publik, seperti sekolah film, harus masuk ke bioskop dulu sebelum bisa didistribusikan lewat web atau DVD. Praktis, hanya sedikit film keluaran sekolah film yang mendapat perhatian publik (atau kritik). Jakob Lass hendak mengubah tren ini, meskipun sayangnya gagal melawan asosiasi bioskop AG Kino. Akan tetapi, dengan banyaknya penghargaan yang telah diraih Love Steaks, ia membuktikan bahwa film bisa dibuat dengan murah, bebas, dan tetap berkualitas tinggi. Inilah yang bisa dipakai untuk membuka jalan bagi film-film FOGMA lainnya, sehingga nantinya banyak muncul menu baru di ranah perfilman Jerman: karya-karya sinema hasil racikan bebas, yang menyegarkan dan sedap ditonton, bagi publik Jerman maupun internasional.

Love Steaks | 2013 | Durasi: 89 menit | Sutradara: Jakob Lass | Produksi: Hochschule für Film und Fernsehen ‘Konrad Wolf’, MAMOKO Entertainment | Negara: Jerman | Pemeran: Lana Cooper, Franz Rogowski

Tulisan ini merupakan Juara 1 dari Kompetisi Penulisan Resensi Film yang diselenggarakan Goethe-Institut dan Cinema Poetica, bagian dari German Cinema 2014, 23-31 Agustus. Dewan juri terdiri dari Lanny Tanulihardja (Goethe) dan Makbul Mubarak (Cinema Poetica).

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (2)
  • Biasa saja (2)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend