Film Pendek Indonesia

Another Colour TV: Penonton Bukan Benda Mati

Logika yang ingin ditawarkan film ini tidak berada pada tataran mikro yang kausalistik, seperti misalnya, karena menonton tayangan-tayangan sinetron sarat kekerasan, keluarga fulan menjadi penuh pertengkaran. Bukan seperti itu. Another Colour TV menarik level dokumentasinya jadi lebih luas. Caranya dengan menjabarkan khasanah acara-acara televisi dalam negeri dan memposisikan subjek dokumentasi sebagai anonim.... Baca

Maryam: Demi Tuan, Aku Rela Menyelundup Ke Gereja

Pada Maryam, Sidi Saleh berhasil menggiring protagonis ke gereja dengan menggunakan sosok tuan yang psikopatologis dan titah “jangan menelepon”-nya sang nyonya (kakaknya si pria). Maryam juga tidak ujuk-ujuk ada di atas panggung bikinan pembuat film. Ia naik bajaj dulu, ia tanya-tanya satpam dulu, ia sempat enggan untuk masuk gereja dulu, dan akhirnya ia mengganti model jilbabnya dulu sebelum ikut misa.... Baca

Horison: Ngopi Atau Psikoterapi?

Secara keseluruhan, karakterisasi dan teknis film Horison mungkin baik. Tapi pertanyaan yang lebih penting adalah jalur seperti apa yang mereka tempuh? Ke mana kemudian mereka berlabuh? Seperti apa cerita filmnya? Dan bagaimana logika pada film dapat terpenuhi saat film berakhir? Sayangnya, sulit sekali merangkum cara Horison memenuhi logikanya, karena film ini bahkan tidak memiliki dasar logika yang jelas.... Baca

Paradoks Pembangunan Manusia dalam Film Pendek Indonesia

Ketika istilah “pembangunan” menjadi semacam mantra magis yang memesona rakyat di rezim orde baru, sebetulnya pernahkah kita benar-benar tahu apa yang tengah “negara” (baca: penguasa) bangun? Lantas di mana posisi kita sebagai rakyat pada “perihal membangun” tersebut? Saat modernitas diasosiasikan dengan pembangunan, apakah dengan menjadi (seolah-olah) modern berarti manusia Indonesia telah sukses terbangun?... Baca

Tikus: Semiotik Setengah Hati, Slapstick Sampai Mati

Khusnul Khitam, sutradara film ini, jelas mengambil risiko besar ketika memutuskan untuk melakukan permainan logika ganda. Sayangnya, mengemas-ringkas slapstick dan semiotik menjadi nasib sial tersendiri bagi Tikus. Dua lapisan dalam Tikus pada akhirnya saling tubruk, saling melemahkan, dan saling mematikan. Penonton pun terjebak antara lawakan fisik nan harafiah yang jayus (paling banter: komedi sekali tawa) atau permainan tanda yang dangkal.... Baca

Kritik untuk Film Pendek? Catatan Selepas Festival Film Solo 2014

Bagaimana kemudian kritik film masih bisa dianggap penting ketika proses kreatif pembuat film dan keasyikan menikmati film justru akan lebih “menantang” jika keduanya mengambil jarak terhadap teks-teks kritik tersebut? "Menantang” bisa dimaknai sebagai nikmat yang tidak bisa disangkal dalam proses membuat film ataupun menonton film. Artinya membuat ataupun menonton film tidak terbatas sebagai sekadar proses menerima, tetapi menemukan dan mengolah gagasan.... Baca

Onomastika: Kepo Nama yang Sia-sia, Tapi Tak Apa

Menyaksikan Onomastika dapat ditempuh dengan dua opsi. Pertama, dengan rasa iba melihat pesimisme orang-orang terpinggirkan yang diwakili bocah tanpa nama. Kedua, dengan rasa suka melihat ademnya ambience film sembari menepis pertanyaan-pertanyaan teknis yang muncul di kepala. Yang mana saja, yang jelas saat credit title berjalan, Onomastika lebih meninggalkan pesan daripada kesan.... Baca

Indie Bung!!: Bedanya Independen dengan Belum Mapan

Indie Bung!! ingin menyindir mereka yang selalu menambahkan embel-embel indie dalam berkarya hanya sebagai dalih untuk kabur dari kerumitan produksi. Ada batas yang jelas antara independen dan belum mapan, dan batas itu yang Indie Bung!! secara jenaka coba gariskan. Syukurnya film ini tidak mendikte kita untuk memufakatkan makna indie. Atau mungkin memang sebenarnya sudah tidak relevan lagi untuk mendebatkan apa itu film indie.... Baca
Send this to a friend