Rock N Roll: Jakarta Selezat Laksa, Senyaman Nostalgia

rock-n-roll-2015_hlgh

Jakarta dan kampung halaman adalah dua tempat yang saling berseberangan arah. Jakarta hari ini dikenal sebagai kota arena tarung nasib. Berbondong-bondong orang dari berbagai belahan bumi Indonesia meninggalkan kampung halamannya untuk menimba rezeki di Jakarta. Seperti misal dalam film baru-baru ini berjudul Bulan di Atas Kuburan yang mengisahkan karakter-karakternya yang bertolak dari Samosir, Sumatera Utara untuk merantau ke Jakarta. Melalui petualangan karakter-karakternya, Jakarta tampil layaknya kota urbanisasi yang penuh rintangan dan ketidakpastian, sementara Samosir sebagai kampung halaman adalah tempat dengan segala kenangan yang dirindukan.

Rock N Roll karya Wisnu Surya Pratama menerjemahkan Jakarta dalam sosok yang berkebalikan. Kali ini Jakarta berperan menjadi kampung halaman itu sendiri. Ibukota jadi tempat untuk kembali, tidak lagi sekadar tempat singgah untuk perjudian ekonomis. Jakarta dipotret layaknya kampung halaman yang dipenuhi dengan kenang-kenangan, tempat sepasang sahabat bernostalgia setelah dua tahun lamanya tak bersua: Asti, yang baru pulang ke Jakarta selepas menyelesaikan studi S2 di Belanda, dan Indra, sahabatnya yang menetap di Jakarta dan kini telah beralih profesi dari jurnalis ke petani sayur.

Berkemudikan mobil losbak Indra, keduanya seharian melepas kangen sambil menikmati kuliner-kuliner ibukota favorit mereka. Bersama Asti dan Indra, penonton diajak berkuliner lewat kudapan lokal yang berada di sisi-sisi ibu kota. Mulai dari sarapan bubur ayam A Guan, berjalan mengitari pasar, berisitirahat sambil minum-minum di kedai kopi Tak Kie, makan siang Laksa Assirot, sampai nongkrong sore sambil minum es alpukat pinggir jalan di atas losbak.

Kuliner biasanya merupakan perangkat yang digunakan sebagai ajang promosi suatu kota. Menariknya, dalam film ini, lokasi tempat-tempat kuliner ini tidak dilafalkan ataupun ditunjukkan secara spesifik. Visual film juga tidak serta-merta menjadi pornografi kuliner layaknya banyak akun Instagram para penghuni ibukota. Rock N Roll bukanlah film bermodalkan pesan sponsor “Visit Jakarta!” semata. Kuliner yang dipilih adalah kuliner yang memiliki taste personal bagi kedua karakter tersebut. Asti waktu tinggal di Jakarta dulu setiap minggunya selalu makan bubur A Guan, Laksa Assirot adalah laksa ‘terenak’ buat Indra, dan es alpukat yang ternyata adalah saksi bisu atas ‘sejarah penting’ yang terjadi dalam kenangan keduanya.

Sajian utama dari sebuah hidangan seringnya datang dari perbincangan yang menyahut kala menikmati hidangan tersebut. Rock N Roll mengemas sajian kulinernya bersama obrolan-obrolan ringan antara Asti dan Indra, seputar kehidupan masa lalu dan masa kini. Dialog-dialognya mengalir alami, yang terekspresikan lewat kebiasaan-kebiasaan yang sering dilakukan orang-orang yang mengobrol sembari makan. Asti bertanya tentang mengapa Indra mengganti profesinya menjadi petani sayur. Belum sempat Indra menjawab, Asti sudah beralih fokus pada kelezatan bubur A Guan. Pertanyaan ini baru dijawab Indra saat Asti menyakan kembali ketika mereka minum di kedai kopi. Ada juga jenis “obrolan sembari berjalan kaki” yang dibingkai dengan efektif dengan shot-shot pendek yang memperlihatkan keduanya berjalan di pasar, muncul bergantian dilatari voice over percakapan keduanya.

Kesan Jakarta sebagai kota nostalgia dalam Rock N Roll semakin terasa melalui hubungan Asti dan Indra yang seiring berlanjutnya film topik obrolanya terus mengungkit masa lalu, masa -masa kedekatan mereka—dan obrolan-obrolan semacam ini tidaklah lengkap tanpa renungan akan perubahan-perubahan yang sudah berlalu. Asti tak habis pikir dengan Indra yang kini menjadi seorang petani sayur dan meninggalkan profesinya sebagai juru warta. Sementara bagi Indra, pertanyaan Asti menyiratkan semacam skeptisisme atas profesi petani sayur, tetapi penonton dibuat mafhum bahwa maksud Asti ini tak lebih dari spontanitas afeksinya terhadap Indra.

Tak seperti Indra, Jakarta sepertinya tak berubah sama sekali di mata Asti. Saat Asti dan Indra terjebak macet di dalam mobil Indra yang tak ber-AC, Asti menyadari bahwa Jakarta masih sama dengan segala masalah klasiknya. Kemacetan dan udara lembab berpolusi membuat Jakarta bergerak sebagai klona-klona kemenotonan. Sosok Jakarta yang seperti ini adalah Jakarta khas ibu kota yang jauh dari pesona kenyamanan untuk dijadikan tempat tinggal—Jakarta yang kerap dianulir penghuninya, untuk memisahkan jarak selebar mungkin dari kepadatannya.

Indra adalah figur yang berusaha menyiasati Jakarta dengan berganti profesi, karena dengan menjadi petani sayur berarti ia beraktivitas di luar jam kerja orang kantoran. Dengan begitu Indra tetap bisa hidup dan menikmati Jakarta. Sedangkan Asti memilih untuk pergi berkuliah ke Belanda karena baginya, itu adalah cara untuk menghindari Jakarta dan keruwetanya. Pada akhinya sejauh apapun Asti buang muka dari Jakarta, Jakarta dengan segala memori di dalamnya termasuk kuliner dan orang yang berarti untuknya, membuat Asti kembali terkenang dan pulang lagi ke kota itu. Di dalam mobil Indra, sambil terus mengeluhkan kemacetan dan kepanasan Jakarta, Asti mengaku, “Tapi gue kangen sama macetnya Jakarta, sama panasnya Jakarta, kangen sama lo.”

Momen ini memperlihatkan cara Rock N Roll membuat Jakarta terasa seperti rumah justru melalui masalah-masalah klasiknya. Ambisi Rock N Roll sebagai film memang tidak tinggi-tinggi amat: meneropong Jakarta dari lensa berona nostalgia, dari pojok-pojok kota beralas memorabilia, dan pembuat film bagusnya mengeksekusi itu semua tanpa pretensi apa-apa. Kepolosan inilah yang menjadikan Rock N Roll lebih dari sekadar perkara kuliner dan jalan-jalan keliling ibukota. Ada penerimaan, dan mungkin pengakuan, bahwasanya pertemuan dan momen-momen berkesan dengan orang-orang terdekat kita di ibukota sesungguhnya dimungkinkan karena Jakarta tidak sempurna—bahwasanya justru karena bermasalah itulah suatu tempat, atau suatu kota, kita kenali sebagai rumah.

Rock N Roll | 2015 | Durasi: 20 menit | Sutradara: Wisnu Surya Pratama | Produksi: Tanakhir Films | Negara: Indonesia | Pemain: Anggun Priambodo, Putri Ayudya

Tulisan ini merupakan hasil dari lokakarya Mari Menulis! edisi #KolektifJakarta 2015, program pemutaran yang diselenggarakan Kolektif dan babibutafilm pada 4-26 April di Kineforum DKJ.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (5)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend