Fitri: Lari dari Alienasi, Lari dari Logika

fitri-film-pendek_hlgh

Fitri kehilangan kuasa atas dirinya sendiri. Daya produksinya terlalu berharga untuk diikhlaskan si mucikari. Ia berlari dengan pakaian minim melintasi anak-anak yang sedang takbiran. Wajah ketakutannya berada di tengah kegembiraan. Entah sejak kapan penghasilannya justru berbalik menekan dan memenjarakan.

Masih menggunakan pola yang sama dengan Full Moon (2010), Sidi Saleh kembali berbicara tentang momen yang lepas dari genggaman tuannya dalam film pendek terbarunya, Fitri. Ritus-ritus dan keriuhan momen itu direnggut dari tokoh, sehingga tokoh menjadi teralienasi. Mereka tidak berhak, bahkan terasingkan dari momen yang harusnya adalah milik mereka.

Dalam film berdurasi dua puluh menit ini, tokoh utama bernama Fitri sudah mantap untuk pulang kampung. Sang mucikari yang mencoba menahannya dengan berbagai argumen tidak dapat mempengaruhinya lagi. Kepergian Fitri menjadi masalah besar untuk si mucikari. Sebab dalam waktu yang sama, si mucikari diharuskan membayar hutang yang sudah empat bulan tidak ia bayar. Fitri pun menjadi satu-satunya aset yang dapat menutupi hutang. Atas dasar itu, si mucikari menggunakan cara keji untuk menggagalkan Fitri pulang kampung.

Kaum Lemah sebagai Ranah

Narasi pada film Fitri tidaklah luar biasa. Tokoh utama adalah dia-yang-teraniaya, sementara konflik masih di seputaran hutang, pencurian, dan lari-larian. Fitri juga tidak diwujudkan sebagai wanita yang tangguh dan cerdas, melainkan cenderung naif dan melodramatis. Ketika ia jelas-jelas dijambret, ia sama sekali tidak menggerakkan orang lain untuk membantunya, malahan masih memanggil-manggil penjambretnya dengan panggilan “Mas”, “Aduh si Masnya lari kemana?”, “Lihat Mas-mas bawa tas merah nggak?”, dan sebagainya. Fitri juga meluangkan waktunya untuk menangis di tengah jalan. Dan yang lebih naif lagi adalah ketika ia mengetahui siapa pencuri tasnya, Fitri justru memilih untuk lari bertelanjang kaki.

Di tengah maraknya logika memberdayakan, film Fitri justru kembali ke eksploitasi penderitaan. Penonton diajak menyaksikan kesialan Fitri, dari dijambret, sampai tertusuk paku. Fitri dilemahkan sedemikian rupa oleh pembuat cerita. Tujuannya satu, respon-respon emosional penonton. Penonton diarahkan untuk geram, merasa tersakiti, marah, dan sebagainya.

Tugas terberat film yang mengekspos penderitaan tokoh utama adalah memastikan penonton merespon filmnya secara emosional. Untuk menuntaskan tugas itu, cerita, konteks, logika-dalam film, pilihan pengambilan gambar, dan akting para pemain menjadi beberapa bagian yang penting. Bahkan bila di film panjang, beberapa film yang mengekspos penderitaan dapat juga dikemas secara musikal, seperti Dancer in the Dark (2000) atau Les Miserables (2012).

Kemasan menjadi begitu penting karena mempengaruhi persepsi, dan persepsi mempengaruhi respon emosional seseorang. Sebelum berbicara tentang “bagaimana responnya”, patut lebih dahulu ditanya “bagaimana persepsinya”. Ketika Fitri tertusuk paku, mungkin ada yang mempersepsikannya sebagai suatu hal yang terlalu dibuat-buat; Atau mungkin juga ada yang mempersepsikannya sebagai suatu hal yang masuk akal, mengingat tempatnya berlari memungkinkan untuk itu.

Perbedaan persepsi dapat dipengaruhi oleh banyak hal, misalnya pengalaman riil, kemampuan kognisi, atau bahkan mood. Untuk itu, keberhasilan film ini akan mutlak bila semua penonton mempersepsikan setiap adegan sebagai adegan yang layak direspon secara emosional. Karena untuk penonton yang sama sekali tidak terengkuh emosinya, dapat dikatakan film Fitri tidak berhasil untuknya. Dan bila jumlah penonton yang seperti ini lebih banyak, maka dapat dikatakan juga bahwa film Fitri tidak berhasil.

Meringis karena Tidak Logis

Titik mula penderitaan Fitri adalah ketika seorang pria menjambret tasnya. Modus pencuriannya sangat logis. Saat bisnya akan berangkat, pria ini menjambret. Penjambretannya pun tidak sekadar ditarik begitu saja , karena ada kemungkinan tas tidak terlepas dari tangan Fitri, melainkan dengan modus membantu membawakan di awal. Penjambret lalu hilang dengan cepat, mengingat konteks tempatnya adalah terminal. Di bagian itu mungkin seluruh penonton dapat meresponnya secara emosional. Begitu juga ketika Fitri terpaksa pulang ke rumah dan melayani si penagih hutang untuk berhubungan badan. Ini masih logis dan menuntut respon emosional penontonnya, namun setelah Fitri mengetahui dalang pencurian tasnya, perlahan pertanyaan terkait logika-dalam mulai bermunculan. Kenapa ia justru kembali lagi ke kamar? Kenapa ia melompat dari sana, sehingga mengharuskannya berlari telanjang-kaki? Kenapa secara kebetulan dan tanpa sepatah kata pun, seorang pria di rel kereta menolongnya?

Logis itu penting, karena itu membuat kepala penonton tidak bertanya-tanya. Dan ketika kepala tidak bertanya-tanya, emosi akan lebih cepat terbawa. Di sini kepatuhan pada logika-dalam menjadi salah satu kuncinya. Pada film Fitri nampaknya masih terdapat beberapa bagian yang mangkir dari logika-dalam. Karena itu lah pertanyaan-pertanyaan di paragraf sebelumnya muncul. Mengutip tulisan JB Kristanto yang berjudul Film Indonesia dan Akal Sehat, “logika-dalam ini datang saat sang pencipta mengawali ciptaannya dalam bentuk apapun. Ia bisa berimajinasi berupa karakter satu tokohnya, bisa juga plot sebuah cerita, sebuah masalah tertentu, sebuah citra tertentu, atau sebuah gambar tertentu. Begitu sudah menetapkan awalan tadi, maka tercipta pulalah sebuah logika tertentu, yang secara teori tetap berpatokan pada logika umum. Pada saat itu, pencipta tidak lagi bebas. Ia harus mematuhi konsekuensi logis dari yang sudah ditetapkan sebelumnya. Ia tidak lagi bisa semena-mena memperlakukan tokoh ciptaannya, atau jalan cerita yang sudah disusun awalannya.

Larinya Fitri dari kamar merupakan satu dari berbagai kemungkinan lain seperti: melabrak si mucikari, diam-diam kabur lewat depan, melayani dulu si penagih hutang lalu mengambil uangnya di pagi hari untuk pergi dari sana, atau bahkan membunuh mucikari dan bosnya. Dibandingkan kemungkinan lain ini, pilihan yang diterapkan pada film mungkin pilihan yang tidak cukup logis. Motif apa yang membuat Fitri perlu kembali lagi ke kamar dan melompat dari sana? Tak ada alasan lain selain hanya agar Fitri semakin menderita, atau agar jalan cerita dapat meletakan Fitri di panggung malam-takbiran.

Dari sana film Fitri terus berjalan keluar jalur logika. Fitri berlari dengan tak terkejar, pun tak hilang dari jangkauan. Para anak buah si penagih hutang selalu tahu Fitri berbelok kemana, tidak seperti pencuri tas yang sekejap hilang. Fitri terus dikejar hingga rel kereta. Di sana Fitri mulai lelah dan hilang arah. Tiba-tiba seorang pria muncul dan mengajaknya pergi dengan gerbong kecil dari kayu. Akhir perjalanan-keluar-jalur itu pun selesai oleh kebetulan yang menyelamatkannya. Lagi-lagi ini juga tidak bermotif.

Singkat kata: setengah dari Fitri logis, sementara setengahnya lagi perlu dipertanyakan. Film ini belum utuh secara logika, namun visualisasi alienasinya menjadi suatu hal yang istimewa. Seorang pekerja yang tidak bisa merayakan momennya, seorang pekerja seks yang tidak bisa malam takbiran, memiliki kesan yang kuat pada narasi dan visual–terutama saat Fitri berpakaian minim berlarian di malam takbiran. Namun pengemasan film ini tidak cukup mendukung ke arah sana. Penderitaan demi penderitaan, yang makin ke belakang makin terkesan dipaksakan, menjadi kekurangan dari film ini.

Fitri | 2013 | Sutradara: Sidi Saleh | Produksi: Bioskop Merdeka Film | Negara: Indonesia | Pemeran: Nimas Ayu Kinasih, Adrianto Sinaga

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (4)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend