Of Gods and Men: Kritik-Otokritik Iman di Masa Kritis

of-gods-and-men_highlight

Martyrdom is the only way a man become famous without ability.” -Schopenhauer

Bagi Christian, Luc, dan para biarawan Cistercian asal Prancis lainnya dalam film Of Gods and Men, menetap atau minggat dari suatu tempat bukan pilihan yang gampang. Sudah puluhan tahun mereka melayani dan hidup damai berdampingan bersama warga desa di atas pegunungan Atlas—beberapa diantaranya bahkan merasa sia-sia jika harus kembali ke Prancis. Kemunculan milisi muslim fundamentalis mengubah semuanya. Mereka tidak hanya mengancam biara, tetapi juga seluruh warga desa. Akhir cerita, setelah beberapa lama tarik-menarik dengan milisi dan militer, delapan biarawan menemui nasib tragisnya, diculik, dan dibunuh.

Of Gods and Men diangkat dari kejadian nyata di tahun 1996. Pembunuhan yang hingga kini masih misterius itu merupakan satu dari episode panjang pembantaian warga sipil. Pelakunya adalah milisi fundamentalis sepanjang perang sipil Aljazair, yang melibatkan militer di satu kubu dan sejumlah kelompok-kelompok Islamis yang saling bertikai di kubu lainnya. Sulit untuk tidak menarik film ini ke dalam dimensi sosial-politik pada zamannya, bukan karena cakupan konteksnya terlalu partikular dan harus dilihat secara spesifik. Saya kira justru sebaliknya, konteks dan anatomi politiknya universal, bisa ditemukan di banyak tempat lain, dengan macam-macam variasi tentunya: liberalisasi ekonomi menyebabkan krisis ekonomi dan politik yang selanjutnya mengarah pada tumbuhnya kelompok-kelompok relijius garis keras, ledakan teror, angka korban sipil yang tinggi—sebuah deret peristiwa yang dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir juga tidak asing di Indonesia.

Singkatnya, Of Gods and Men menghadirkan kejadian tahun 1996 sebagai suatu simptom yang baru terbaca dalam kaitannya dengan pengalaman kita hari-hari ini. Alih-alih menyinggung bagaimana eksekusi dilakukan, siapa pelakunya, ada atau tidaknya keterlibatan militer (dan sebetulnya mudah saja untuk jatuh ke situ), film ini mulai dengan pertanyaan yang berbeda: bagaimana para biarawan (dan tetangga-tetangga mereka) di pegunungan Atlas bertahan dalam situasi yang serba terjepit diantara aparatus negara yang korup dan militansi kelompok fundamentalis? Inilah situasi permanent state of emergency yang kini menjadi pengalaman kolektif di banyak tempat. Tidak heran jika narasi film ini kelihatan “menyederhanakan” persoalan. Lebih jauh lagi, penyederhanaan itu dilakukan dengan memindahkan narasi politik ke dalam tema relijius, melebur pengalaman sosial-politik ke dalam pengalaman relijius, dari subjek masyarakat ke dalam subjek diri dan komunitas biarawan. Pada perpindahan inilah Of Gods and Men bicara tentang iman dalam masa-masa kritis, dan tentang bagaimana keraguan merupakan sesuatu yang konstitutif dalam iman itu sendiri.

Salah satu motif tema relijius dalam film adalah cerita tentang konsistensi sebuah virtue orang biasa dalam sebuah situasi yang luar biasa kisruh dan kalut. Tidak hanya itu, karakter utamanya (pastor atau para santo) biasanya digambarkan mengalami goncangan moral dan dihadapkan pada tanggung jawab yang besar sampai akhirnya bersedia memikulnya dan menjadi manusia baru. Contoh yang paling gamblang di sini adalah film Romero (1989), tentang pastor proponen teologi pembebasan yang diganyang militer; jangan lupa juga film-film Bresson, terutama Pickpocket (1959), yang ironisnya bicara tentang virtue dari mencopet dan kesediaan karakternya bertanggungjawab akan nasibnya sendiri; seakan-akan ia mendapat “panggilan” untuk mencopet seumur hidup dan uniknya, ia jatuh bukan karena mencopet, tapi karena judi.  Dalam lanskap kesenian Barat, struktur narasi seperti ini umumnya mengambil inspirasinya dari passion play, juga dari kisah-kisah martir para murid Yesus, yang datang dari berbagai latar belakang dan rela bergabung dengan komunitas Yesus, meskipun menanggung resiko dianiaya.

Dalam Of Gods and Men, para biarawan sejak awal digambarkan rutin berdoa bersama di ruang yang gelap. Semakin kacau situasi di luar dan semakin kerasnya tekanan militer dan milisi, kian sering pula adegan ini disisipkan, dengan doa yang terdengar keras dalam barisan yang rapat. Doa dan Komunitas biarawan lantas menjadi kawanan kemana iman melompat dan mengalahkan keraguan, seperti yang ditulis Pascal dalam fragmen 233 Pensées, “Kneel down, move your lips, and you will believe what you believe!”. Pada titik inilah Of Gods and Men ingin memperpendek jarak naratif antara kisah para biarawan dan passion play. Adegan kunci selain doa adalah dua adegan terakhir dimana para biarawan berkumpul, minum anggur, diiringi Swan Lake-nya Tchaikovsky dari sebuah radio tua, serta adegan penutup saat mereka digiring menelusuri jalanan bersalju menuju tempat eksekusi. Orang dengan mudah membaca dua adegan tersebut sebagai perjamuan terakhir dan via dolorosa, seakan-akan yang dialami Yesus dan murid-muridnya juga dialami para biarawan.

Konsistensi yang sama pun terlihat dari tetap berlangsungnya aktivitas keseharian mereka bersama masyarakat muslim di sekeliling biara. Ini juga yang membedakan sikap keberagamaan mereka dengan para milisi reaksioner, yang kehadirannya lebih dirasakan sebagai gangguan di tengah masyarakat yang sudah miskin dan menderita karena perang sipil, seperti yang dikatakan istri seorang ulama kepada Christian, “Kami adalah kumpulan burung, dan kalian [biarawan] dahannya.” Bagi para biarawan, di sinilah letak pertaruhannya, bukan pada upaya menyambut kematian dan menjadi martir.

Des hommes et des dieux (Of Gods and Men) | Sutradara: Xavier Beauvois | Negara: Perancis | Pemain: Lambert Wilson, Michael Lonsdale, Olivier Rabourdin, Philippe Laudenbach

Tulisan ini merupakan resensi salah satu film yang akan diputar selama Festival Sinema Perancis 2011, 8 April-1 Mei.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend