Kisah Cinta Yang Asu: Kisah Cinta Sarat Isu

kisah-cinta-yang-asu_hlgh

Premis menarik ditawarkan Yosep Anggi Noen sebagai sutradara-penulis Kisah Cinta Yang Asu. Terjadi balada cinta segitiga tak lazim: Martha pelacur hotel dan Ning pelacur jalanan dengan Erik King, seorang anggota geng motor. Layaknya prahara cinta pada umumnya, cinta segitiga tersebut melibatkan perempuan-perempuan yang terbuai dengan kesemena-menaan lelaki. Erik hanya memanfaatkan Martha dan Ning untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.

Namun, tak selayak kisah cinta bersegi-segi pada umumnya, tidak ada cinta yang diperebutkan di film ini. Adegan pembuka film ini memperlihatkan ketiga tokoh utama adem ayem makan dalam satu meja. Begitupun pada adegan saat ketiganya naik satu motor bersama. Bahkan sebelum naik, Ning dan Martha sempat saling mempersilakan untuk siapa yang naik duluan. Entah memang Martha dan Ning sudah begitu toleran bagai istri-istri yang rela berbagi suami, atau toleransi itu justru datang dari tuntutan profesi mereka. Apapun alasan di balik layarnya, visualisasi tersebut kemudian menunggangi persepsi penonton. Bahwa Kisah Cinta Yang Asu bukanlah soal dua pelacur yang berseteru memperebutkan cecunguk geng motor—bukan sekadar kisah cinta picisan.

Porsi utama Kisah Cinta yang Asu sesungguhnya lebih banyak ditempatkan untuk menggambarkan pahit getir kehidupan Martha dan Ning dalam pekerjaanya. Martha sebagai pelacur kelas atas harus ribet-ribet menggunakan kostum sesuai permintaan pelanggannya mulai dari berkostum pelayan seksi, anak SMA, sampai jadi pramugari. Tak jarang pula Martha diperlakukan seenaknya oleh pelanggannya. Martha diminta memakai kostum seragam sekolah dan bertingkah seperti anak SMA, kemudian melayani sebentar lalu disuruh pergi begitu saja, tanpa sempat mengenakan celana dalam. Sedangkan pahit getir kehidupan Ning digambarkan lewat pelecehan yang ia alami saat bekerja sebagai gadis pencatat skor di klub billiard. Tatapan dan godaan lelaki hidung belang jadi santapan sehari-hari.

Erik si parasit hadir di sela-sela pergulatan hidup kekasih-kekasihnya. Ia tak terlihat memiliki tempat tinggal yang tetap. Ia nebeng di rumah Martha, ia singgah di hotel bersama Ning. Dan di luar perkara ranjang, tak terlihat Erik peduli dengan keduanya—malah lebih sibuk dengan knalpot dan mesin motor. Erik baru kembali ke Ning ketika ditinggal teman-teman geng motornya. Erik juga memakai kostum Martha untuk membersihkan motornya.

Erik merawat motor berknalpot besar sebagai simbol dari pencitraan maskulinitasnya, yang ia rawat jauh lebih hati-hati ketimbang kekasih-kekasihnya. Lebih dari itu, Erik turut mengubah penampilannya—yang pada perkembangannya menjadi konflik tersendiri dalam hubungan cinta segitiganya. Lewat metafora dalam percakapan voiceover tentang rambut hijau dan semir rambut warna hitam, sosok Erik seperti tak mau terus-terusan hidup dengan kebergantungan. Ia tak mau rambutnya sama hijaunya dengan Martha, ia ingin menggariskan identitasnya.

Yosep Anggi Noen menuturkan Kisah Cinta yang Asu melalui kerancuan visual. Tidak jelas perpindahan tokoh dari satu tempat ke tempat lain. Semuanya terjadi begitu saja—tanpa ada penanda tertentu yang penonton bisa jadikan rujukan. Sosok Erik sendiri juga tak terlalu terjabarkan—ia hadir sebagai stereotip lelaki brengsek dan parasit. Tidak lebih, tidak kurang. Bagian film yang paling gamblang dan mudah tertapaki adalah bagian kehidupan Ning dan Martha sehari-hari, baik dalam kehidupan personal maupun profesional mereka. Apakah kecenderungan ini memang disengaja agar fokus penonton hanya tertuju pada Ning dan Martha? Jika memang begitu, ketidakjelasan yang dihadirkan malah berbuah manis.

Ketidakjelasan ini memfokuskan penonton pada dua hal. Pertama, langkah-langkah penuturan yang dipilih dengan menekankan fokus terhadap kehidupan Ning dan Martha, ketimbang memfokuskan kebrengsekan Erik, memberikan efek ironis layaknya sabda alam yang tenar itu–bahwasanya wanita dijajah pria sejak dulu. Kala keduanya banting tulang lewat pekerjaan yang nista, Erik ongkang-ongkang menginangi keduanya. Kedua, fokus ini menjadi latar saat keduanya mengambil sikap terhadap tabiat Erik–yang secara konkret ditunjukkan pada titik tertinggi film ini. Martha membawa motor kesayangan Erik, untuk dibakar oleh khalayak massa yang sudah muak dengan kebisingan geng motor. Penonton pun terantar pada isu sentral film ini: kekuatan perempuan di hadapan maskulinitas yang eksploitatif.

Lalu, bagaimana dengan Ning? Ning juga melakukan perlawanan kecil dalam pekerjaannya. Ada adegan ketika Ning berhasil mengelabui pelanggannya dengan menggunakan video mesum, sehingga ia tak perlu melayani secara penuh. Ning memang tidak memberikan perlawanan langsung terhadap Erik seperti yang dilakukan Martha, tetapi Ning berperan memaknai perlawanan tersebut. Kepergian Ning melengkapi Erik menjadi pribadi yang bukan sesiapa. Karena dalam kasus Erik King, selain motor, knalpot, beserta geng motor, bukankah perempuan itu sendiri termasuk dalam simbol maskulinitas?

Dalam Kisah Cinta yang Asu, keberadaan perempuan diperlukan sebagai simbol untuk membuktikan status Erik sebagai seorang lelaki tulen. Pintarnya, perempuan dalam film ini ditempatkan sebagai simbol yang bersifat primer bagi seorang laki-laki, memenuhinya atas kebutuhan materi dan seks. Sedangkan, simbol kelaki-lakian yang dimunculkan hanya berupa simbol gengsi yang bersifat sekunder—motor, knalpot, dan geng motor. Di sinilah perempuan benar-benar membungkam maskulinitas. Tanpa Martha tanpa Ning, boro-boro Erik bisa menjadi lelaki seperti yang ia dambakan. Menyambung hidup saja susah. Kesulitan ini digambarkan lewat Erik yang temenung di depan hotel, meratapi nasib sambil menggembol knalpot terompetnya. Tanpa motor, tanpa Martha dan tanpa Ning, Erik bukan siapa-siapa.

Kisah cinta Martha, Ning, dan Erik memang asu. Tapi tak lantas membuat film ini jadi melodrama yang lesu. Kisah Cinta yang Asu karya Yosep Anggi Noen berhasil menggoyang kemapanan maskulinitas dengan menggunakan simbol-simbol maskulin itu sendiri.

Kisah Cinta yang Asu (Love Story Not) | 2015 | Durasi: 40 menit | Sutradara: Yosep Anggi Noen | Produksi: babibutafilm (dengan dukungan Hivos) | Negara: Indonesia | Pemeran: Mila Rosinta, Astri Kusumawardhani, Yosep Anggi Noen

Tulisan ini merupakan hasil dari lokakarya Mari Menulis! edisi #KolektifJakarta 2015, program pemutaran yang diselenggarakan Kolektif dan babibutafilm pada 4-26 April di Kineforum DKJ.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (83)
  • Boleh juga (6)
  • Biasa saja (2)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend