Parasite: Kelas Sosial Melampaui Visual

Bagi sebagian orang, sudah semacam jadi keharusan untuk membawa smartphone ke toilet. Begitu juga bagi keluarga Ki-taek (Song Kang-ho) di Parasite (2019). Namun, alasannya berbeda. Toilet adalah satu-satunya tempat di mana keluarga Ki-taek mendapatkan sinyal internet untuk smartphone. Kata “keharusan” terasa lebih urgen bagi keluarga Ki-taek, dibanding orang-orang yang membawa smartphone ke toilet untuk sekadar membunuh kebosanan.

Parasite dibuka dengan kaus kaki yang digantung setinggi plafon rumah. Di belakang kaus kaki tersebut terlihat jalanan, tempat orang berlalu-lalang. Tampak betapa rendahnya posisi keluarga Ki-taek, secara geografis maupun sosial. Keluarga mereka bahkan lebih rendah daripada air kencing di jalan. Dan saat film menyorot perjalanan mereka menuju rumah—yang melalui banyak tangga dan turunan—tidaklah sulit bagi kita penonton untuk memahami kesenjangan antara si miskin dan si kaya, antara keluarga Ki-taek dan Mr. Park (Lee Sun-kyun).

Perbedaan kelas dalam Parasite hadir dalam garis vertikal—topik yang sama sempat dijajal Bong Joon-ho dalam Snowpiercer (2013) secara horizontal. Cara ini tidak bisa dibilang baru. Titanic (1997), misalnya, melakukan hal serupa saat menggambarkan nasib penumpang di kapalnya. Baru-baru ini ada Us (2019) yang membentuk dunia “atas” dan “bawah” yang berkonflik. Sebelumnya, Ernest & Celestine (2012), yang meski tidak bicara kelas, juga pernah memanfaatkan dunia “atas dan bawah” sebagai kisah segregasi sosial, yang di tiap kubunya dipenuhi oleh prasangka dan propaganda.

Pendahulunya boleh jadi sudah ada. Meski begitu, ketimpangan yang Parasite gambarkan lewat garis vertikal adalah sesuatu yang khas. “Atas” dan “bawah” dalam Parasite ada dalam dunia yang sifatnya amat keseharian. Keluarga Ki-taek tidak berada di kapal yang membagi letak mereka berdasarkan tiket; tidak pula mereka berada di dunia antah berantah yang punya pembagian yang dibuat-buat. Mereka ada di dunia kapitalistis yang roda-rodanya menekan mereka semakin ke bawah.

Yang Tampak

Bong Joon-ho sangat mengandalkan visual. Dalam menggambarkan kapitalisme dan industrialisasi, ia tak segan untuk menampilkan pabrik, mesin, ataupun manusia yang memiliki fungsi sangat spesifik layaknya sekrup. Hasilnya seringkali mengerikan—tidak lucu seperti adegan di Modern Times (1936). Penyingkapan kengerian ini, yang kadang berdarah-darah dan sarat kematian, terasa seperti semacam pernyatan bahwa pertarungan kelas memanglah kejam.

Bagi kalangan bawah, urusan ekonomi adalah urusan hidup dan mati; dan pertaruhan besar itu kadang membuat kalangan bawah terenggut kemanusiaannya. Selain dalam Parasite, potret semacam ini juga ada di Shoplifters (2018) dan Burning (2018). Dalam Shoplifters, orang yang lebih tua bisa mengkhianati seorang anak, meski satu sama lain sudah merasa seperti keluarga; sementara dalam Burning (2018), orang tua bahkan mengabaikan nasib anaknya, hanya karena si anak dililit utang.

Film-film tersebut kental akan masalah ekonomi, tapi untuk urusan ketegangan antara kelas atas dan bawah, Parasite jelas jauh lebih frontal. Dalam Parasite, konflik ketimpangan dihadirkan langsung di satu tempat, yakni rumah Mr. Park. Di rumah tersebut, kalangan bawah hadir sebagai pekerja: Ki-taek menjadi sopir, Chung-sook (Jang Hye-jin) menjadi asisten rumah tangga; dan Ki-woo serta Ki-jung (Park So-dam) menjadi guru les. Lewat cara ini, Bong Joon-ho tidak hanya cerdas membangun cerita, tapi juga sadar akan persoalan koeksistensi manusia.

Adalah langkah yang sangat tepat untuk menampilkan relasi kerja di wilayah privat. Wilayah privat adalah tempat terbaik untuk interaksi yang intens dan relasi kerja adalah pondasi terbaik untuk mengikat kalangan atas dan bawah. Dalam ruang seperti itu, yang dapat memberi pengaruh bukan hanya penampilan, melainkan juga perasaan dan penciuman. Di sinilah kemudian kepura-puraan yang begitu sempurna dapat terancam; di sinilah kemudian bau menjadi penentu.

Yang Abstrak

Sebagai karya yang gambarnya kuat, Parasite rasanya justru mengajak kita melihat hal-hal yang tak terlalu terlihat—bau, denyut nadi, hingga ruang bawah tanah. Dan ini bukan perkara metafor. Lewat metafor, kita memang dapat melampaui yang tampak. Kita, misalnya, bisa menganggap Indian, yang disukai oleh Da-song (Jung Hyeon-jun), sebagai metafor bahwa keluarganya diinvasi oleh pendatang. Tapi setelah itu, pembicaraan hanya akan mengalor-ngidul tanpa akurasi yang berarti.

Soal metafor ini sebetulnya juga agak disinggung saat Ki-woo melihat gambar Da-song di dinding rumah. Dengan maksud pamer, Ki-woo mengatakan bahwa gambar Da-song, yang dianggapnya gambar monyet, sangat metaforis. Tapi Yeon-kyo, ibu Da-song, mengatakan bahwa gambar itu adalah self-portrait—bukan monyet. Jelaslah bahwa tidak semua hal merupakan metafor. Lebih daripada itu, tersirat juga—ini metafor sih—bahwa manusia memang sepatutnya dilihat sebagai manusia, bukan hewan atau benda.

“Melihat manusia sebagai manusia”, mungkin ini sudah terdengar klise. Tapi Parasite menunjukkan bahwa dilihat sebagai manusia adalah segalanya. Kepura-puraan keluarga Ki-taek hanyalah cara untuk dilihat sebagai manusia, sehingga kemampuan mereka bisa dianggap serius oleh orang lain. Ki-woo, Ki-jung, Chung-sook, dan Ki-taek tidak pernah mencemaskan kompetensi mereka—dalam berbahasa Inggris, mendidik anak artsy, menyetir mobil, dan memasak. Mereka hanya takut ketahuan miskin.

Nyatanya, orang kaya lebih mudah dilihat sebagai manusia, ketimbang orang susah. Ini dibuktikan oleh penelitian Lasana Harris dan Susan Fiske di Princeton University pada 2006. Sebelumnya diketahui bahwa ada bagian di otak yang disebut medial prefrontal cortex (mPFC), yang berperan besar dalam menentukan empati terhadap orang lain. Berdasarkan pengetahuan tersebut, Harris dan Fiske berhipotesis bahwa, seperti halnya barang, gelandangan tidak akan mengaktifkan mPFC orang. 

Terbukti kemudian bahwa hipotesis tersebut tepat. Saat terpapar oleh foto orang kaya, mPFC partisipan terlihat aktif, yang mana artinya mereka mengidentifikasi orang kaya di foto itu sebagai sesama manusia. Sementara saat terpapar oleh foto gelandangan, mPFC partisipan sama sekali tidak bereaksi. Melalui temuannya, Harris dan Fiske lantas menyimpulkan bahwa 95 persen sikap seseorang ditentukan oleh penampilan orang lain—apakah orang lain itu terlihat kompeten dan hangat.

Tapi, bagaimana jika kompetensi dan kehangatan hanya diukur lewat gelar, penampilan, dan pembawaan? Ini adalah salah satu kritik tajam Parasite. Bong Joon-ho menekankan betapa beratnya untuk berpura-pura agar dilihat sebagai manusia. Soal ini, klimaksnya tentu adalah ketika Ki-woo bahkan mendehumanisasi dirinya sendiri, yakni dengan bertanya apakah ia pantas berada di antara orang kaya. Di situlah kemudian kemanusiaan terasa benar-benar hilang—dan rantai pembunuhan dimulai.

Ketika MRT mulai beroperasi di Jakarta, pernah ada celoteh yang mengharapkan agar tiket MRT dibuat mahal, sehingga orang kampungan tidak mampu menggunakannya. Komentar semacam ini adalah ketidakacuhan yang membuat segala kepahitan dalam Parasite begitu penting untuk dibicarakan. Mendehumanisasi sudahlah salah; menyingkirkan kalangan bawah dari akses transportasi publik tentu lebih parah lagi.

Parasite adalah karya yang bisa membantu kita melihat ketimpangan secara lebih manusiawi. Sulit, memang. Tapi bila 95 persen sikap kita ditentukan oleh penampilan orang lain; maka mungkin kita perlu berupaya lebih keras untuk menyelamatkan 5 persen sisanya. 

Parasite | 2019 | Sutradara: Bong Joon-ho | Penulis: Bong Joon-ho, Han Jin-won | Produksi: Barunson E&A Corp | Negara: Korea Selatan | Pemeran: Song Kang-ho, Lee Sun-kyun, Cho Yeo-jeong, Choi Woo-shik, Park So-dam

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (119)
  • Boleh juga (9)
  • Biasa saja (2)
  • Lupakan (2)
Share

Send this to a friend