Adrian Jonathan Pasaribu

Keberpihakan Bioskop

Film Indonesia sesungguhnya kaya, tapi belum banyak mendapat ruang temu dengan khalayaknya. Ketimbang bioskop memaksakan produk itu-itu saja untuk mengisi ruang tayangnya, sekarang adalah saat yang tepat bagi bioskop untuk mulai berpikir lebih luas, untuk memperhitungkan film-film lokal yang selama ini terpinggirkan. Beranikah bioskop kita?... Baca

Film dan Budaya Menonton

Perfilman adalah sebuah siklus: dari produksi ke distribusi ke ekshibisi ke apresiasi ke kritik, lalu balik ke produksi lagi. Penonton menempati dua bahkan (dalam beberapa kasus) tiga di antaranya, tapi sayangnya keberadaan mereka masih belum begitu banyak dikaji dalam keseharian perfilman Indonesia. Mereka baru dipahami sebagai data atau statistik semata, sebagai angka-angka tak berwajah dan tak berakal.... Baca

Sejarah Alternatif Film Indonesia

Apa benar budaya sinema kita terbatas pada bioskop dan televisi saja? Apa iya pergerakan budaya sinema kita hanya naik turun di tangga boxoffice tapi tidak meluas ke seantero nusantara? Perspektif yang teramat bioskop-sentris ini sesungguhnya menutup mata kita akan pergulatan-pergulatan di tempat lain yang turut berkontribusi bagi perkembangan budaya sinema di Indonesia.... Baca

Mobilitas Sosial untuk Pemula

Menonton Negeri di Bawah Kabut dan Denok & Gareng akan mengingatkan kita kalau tantangan terbesar sinema Indonesia saat ini bukanlah menjadi orisinil, tapi menjadi otentik. Begitu banyak hal dan perkara di negeri ini yang belum terartikulasikan secara jujur oleh sinema kita. Yang perlu kita lakukan sekarang adalah merekam realita apa adanya.... Baca

Martin Scorsese: Membaca Bahasa Sinema

Fondasi sinema adalah cahaya. Kelahirannya ditandai oleh selarik cahaya. Oleh karena itu, sinema paling nikmat dialami dalam ruang gelap, di mana proyeksi film menjadi satu-satunya sumber penerangan. Cahaya memungkinkan kita melihat ragam rupa bentuk: menikmatinya, menamainya, dan menafsirkannya. Artinya, cahaya jugalah fondasi keberadaan manusia; kita jadi ‘tercerahkan’ karenanya.... Baca
Adrian Jonathan Pasaribu

Adrian Jonathan Pasaribu

Cinema Poetica

Salah satu pendiri Cinema Poetica. Ia percaya dialektika tidak saja mengatur hajat hidup warga, tapi juga perkara asmara. Dari 2007 sampai 2010, mondar-mandir sebagai pengurus program di Kinoki, bioskop alternatif di Yogyakarta. Sempat terlibat di filmindonesia.or.id sebagai anggota redaksi, Festival Film Solo sebagai kurator, dan Berlinale Talent Campus 2013 sebagai kritikus film.

Send this to a friend