Film dan Budaya Menonton

wacana-film-dan-budaya-menonton_hlghPerfilman adalah sebuah siklus: dari produksi ke distribusi ke ekshibisi ke apresiasi ke kritik, lalu balik ke produksi lagi. Penonton menempati dua bahkan (dalam beberapa kasus) tiga di antaranya, tapi sayangnya keberadaan mereka masih belum begitu banyak dikaji dalam keseharian perfilman Indonesia. Pelaku media kita cenderung memperlakukan penonton sebagai data atau statistik semata, sebagai angka-angka tak berwajah dan tak berakal, yang itupun diintip dari perspektif yang teramat bioskop-sentris. Seakan-akan penonton yang menempati ruang menonton lain dianggap bukan penonton. Di sisi lain, para akademisi kita saat ini lebih banyak berkutat dengan studi teks film dan representasi suku/gender/agama/apapun dalam film, mengutamakan apa yang muncul dalam layar tapi menganaktirikan mereka yang mengisi bangku-bangku di depannya.

Lantas, kenapa penting sekali membahas penonton? Karena perfilman kita saat ini begitu bertumpu pada darah dan doa, pada gerilya dan spekulasi buta. Kita bersiasat dan berupaya sebisa mungkin untuk melempar film ke tengah publik, lalu berdoa sebesar-besarnya pada Yang Maha Kuasa supaya ada penonton. Pola semacam ini lazim terjadi di kalangan yang berkarier dalam industri maupun yang bergerilya di luarnya, baik oleh pembuat film yang konon katanya hanya mencari keuntungan, maupun kelompok-kelompok independen yang senantiasa mengadakan pemutaran dan diskusi gratisan atas nama pencerahan penonton. Banyak yang terjun tanpa melakukan pembacaan terlebih dahulu akan publik yang mereka hadapi.

Menurut hemat saya, gerilya dan spekulasi buta tidaklah cukup stabil untuk dijadikan tumpuan hal sebesar perfilman Indonesia. Makin ke sini makin perlu rasanya bagi kita untuk melibatkan pengamatan dan pengetahuan dalam mendekati publik. Pasalnya, kita belum pernah benar-benar mencoba memahami berbagai kebiasaan menonton yang terjadi di nusantara selama ini. Yang sering terjadi malah kita menyederhanakan penonton dalam pernyataan generik “Penonton kita nonton film cuma cari hiburan saja”, tapi apa memang benar begitu kasusnya bagi semua orang di semua pelosok nusantara? Kita juga belum pernah mencoba memetakan apa dampak perkembangan teknologi digital terhadap pola menonton. Belum lagi perubahan regulasi, atau pertumbuhan festival maupun inisiatif-inisiatif ekshibisi di tingkat akar rumput. Setiap tahunnya ada terobosan-terobosan menarik pada bidang-bidang itu, terjadi di berbagai daerah pula, namun sedikit yang terjewantahkan secara rasional dalam keseharian perfilman kita.

Rekomendasi bacaan pada edisi Wacana kali ini adalah empat buku dengan tebal rata-rata 200 sampai 300 halaman. Semuanya berpijak pada hal-hal yang mengantarai penonton dengan publik: dari logika pasar, perkembangan teknologi, regulasi hukum, hingga festival film. Bacaan-bacaan ini memang tidak melulu bicara soal Indonesia—beberapa bahkan sama sekali tidak berbicara soal negeri kita tercinta ini. Meski begitu, buku-buku ini memuat beragam pendekatan menarik dalam mengamati dan mengkaji penonton, yang bisa kita jadikan acuan untuk melakukan hal serupa terhadap lingkungan sekitar kita. Sebagai bonusnya, kita juga bisa memahami bagaimana budaya menonton berkembang di tanah-tanah nun jauh di sana.

Buku pertama, Focus on Asia: An Introduction of Current Asian Film Industry, adalah terbitan Association of Film Commissioners International (AFCI) untuk simposisum tahunan mereka di Jecheon, Korea Selatan, pada 2013. Buku ini disusun dengan bayangan akan dibaca oleh para produser dan perwakilan komisi film seluruh dunia yang hadir pada acara tersebut, dan diharapkan bisa menjadi acuan bagi mereka-mereka yang ingin terjun ke pasar Asia. Fokusnya ada pada logika pasar, lengkap dengan segala data dan statistik pendukung. Bahasannya meliputi sepuluh negara Asia. Dari sini, kita bisa membandingkan pola eksploitasi ekonomi dari kalangan penonton yang tumbuh dalam industri semassif China dan India yang melibatkan lebih dari sepuluh ribu layar, hingga industri berkembang macam Indonesia dan Malaysia yang melibatkan sekitar 800 layar.

Tidak jauh-jauh dari logika pasar, ada perkembangan teknologi. Pada 1996, Susan Sontag lewat sebuah tulisan di New York Times mengklaim bahwa “sinema tidak lagi punya ukuran standar”. Nyatanya, dalam dua dekade ini, sinema menjadi semakin kecil: dari layar lebar ke layar perak ke layar perangkat genggam. Bentuk-bentuk menonton baru juga selalu lahir pasca suatu terobosan teknologi anyar: dari kehadiran home theater, televisi kabel, hingga internet. Beberapa diadopsi oleh para komprador menjadi pasar baru, beberapa menjadi trend dan hobi di kalangan penggemar film. Fenomena-fenomena inilah yang Barbara Klinger coba baca dalam buku Beyond the Multiplex: Cinema, New Technologies, and the Home.

Dalam banyak kasus, termasuk di Indonesia, pertemuan film dengan publik banyak bergantung pada regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah atau badan hukum yang berwenang. Pada buku Film Policy: International, National, and Regional Perspectives terbitan 1996, Albert Moran mengumpulkan tulisan dari berbagai pengamat dan akademisi untuk membahas regulasi perfilman di seluruh dunia. Premis yang ia ajukan: di tengah derasnya arus globalisasi dari Barat (terutama Hollywood), bagaimanakah negara-negara di berbagai penjuru dunia (terutama Asia) mempertahankan identitas perfilman nasional mereka lewat regulasi dan undang-undang? Bagaimana pula bentuk-bentuk kegiatan menonton yang terbentuk di luar regulasi itu? Pada bagian kedua buku, Krishna Sen membahas sekelumit tentang regulasi film di Indonesia dalam tulisan Cinema Polic(ing)y in Indonesia. Tulisan tersebut disusun dalam perspektif tahun terbitnya buku, namun masih relevan untuk dibaca sekarang.

Dalam buku terakhir, yakni Film Festivals: From European Geopolitics to Global Cinephilia, Marijke de Valck menjabarkan pertumbuhan konsep “festival film” dari 1932, ketika festival film pertama di dunia berlangsung di Venezia, hingga awal 2000an. Apa yang tadinya adalah program ketahanan budaya bentukan Benito Mussolini pasca perang dunia pertama, kini telah berkembang menjadi titik temu penonton dengan sinema dalam beragam konteks, dari sinefilia, pariwisata kota, penghargaan perfilman, glamor, dan sebagainya. Selamat membaca.

DAFTAR BACAAN

  • Focus on Asia: An Introduction of Current Asian Film Industry (Association of Film Commissioners International, 2013) | unduh
  • Beyond the Multiplex: Cinema, New Technologies, and the Home (Barbara Klinger, 2006) | unduh
  • Film Policy: International, National, and Regional Perspectives (Albert Moran, 1996) | unduh
  • Film Festivals: From European Geopolitics to Global Cinephilia (Marijke de Valck, 2007) | unduh

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (6)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend