La Danse, The Paris Opera Ballet: Ada Institusi di Balik Setiap Gerakan Tari

Sepanjang kariernya, Fredrick Wiseman dekat dengan institusi. Filmografinya dipenuhi dengan dokumenter-dokumenter yang secara gamblang memotret berbagai institusi sosial, mulai dari fasilitas umum (High School, Hospital), program pemerintah (Public Housing), rumah tangga (Domestic Violence) hingga kota (Aspen). Fokus Wiseman adalah sistem. Melalui kameranya, Wiseman merekam bagaimana sebuah institusi terdiri dari hierarki, yang mengatur relasi manusia di dalamnya. Ada yang membuat peraturan dan ada yang diatur. Hierarki tersebut Wiseman sampaikan hanya melalui rekaman gambar, yang kemudian relasi antar gambar ia susun di meja editing. Tidak pernah ada wawancara, narasi suara maupun teks di layar dalam film-filmnya Wiseman. Pendekatan tersebut Wiseman terapkan sepanjang kariernya, mulai dari filmnya yang pertama, Titicut Follies pada tahun 1967, hingga filmnya yang ke-37, State Legislature pada tahun 2006.

La Danse adalah film Wiseman yang ke-38, dan yang kedua tentang kelompok ballet. Pada tahun 1995, Wiseman merilis film Ballet, yang merekam rutinitas di American Ballet Theatre, sebuah sekolah ballet bergengsi di Amerika Serikat. La Danse kurang lebih serupa dengan Ballet. Bedanya, La Danse mengkronologikan kegiatan sehari-hari di Paris Opera Ballet Company, suatu kelompok ballet terkemuka di Perancis.

Film dibuka dengan establishing shot kota Paris, yang menunjukkan bangunan dan jalanan di kota tersebut. Kemudian, film berganti ke montase interior Palais Garnier, suatu gedung pertunjukan mewah di Paris, sebelum akhirnya ganti ke adegan para penari latihan. Dari titik tersebut, sampai dua setengah jam ke depan, La Danse menceritakan bagaimana Paris Opera Ballet Company mempersiapkan diri untuk penampilan akbarnya. Ada dua kelompok yang Wiseman sorot sepanjang film. Kelompok pertama adalah para penari dan mentor-mentor mereka. Penampilan yang direncanakan Paris Opera Ballet Company terdiri dari tujuh koreografi, yang masing-masing punya gerakan dan sekuensnya sendiri. Masing-masing koreografi tersebut Wiseman sorot, dari persiapannya hingga penampilannya di atas panggung.

Menarik melihat bagiamana Wiseman memainkan kameranya setiap menyorot kegiatan latihan. Kamera terlihat sangat berfokus pada para mentor. Dalam beberapa adegan, mentor menempati tengah frame, memberi instruksi dan penilaian. Dalam beberapa adegan lainnya, kamera mengambil sudut pandang para mentor, di mana kamera hanya menunjukkan para penari latihan, sementara suara mentor terdengar membahana ke seluruh ruangan.

Fokus terhadap mentor tersebut baru terjelaskan ketika La Danse menyorot kelompok kedua: pihak administrasi Paris Opera Ballet Company. Dalam sebuah ruang kerja, Wiseman membingkai seorang manajer dalam rutinitas sehari-harinya, yakni mengurus kebutuhan sehari-hari Paris Opera Ballet Company, serta transaksi dan komunikasi dengan pihak-pihak luar. Dalam satu adegan di awal film, manajer tersebut menjawab wawancara via telepon, dan menjelaskan bahwa Paris Opera Ballet Company banyak melibatkan senior dalam dunia ballet. Senior-senior tersebut ditujukan untuk mewariskan ilmu pada generasi penari yang lebih muda, sekaligus memastikan penampilan mereka nantinya maksimal. Menutup wawancaranya via telepon, manajer tersebut berkata, “Kami ingin penampilan kami nantinya menjadi hadiah bagi publik.”

Kalimat penutup manajer Paris Opera Ballet Company menjadi titik masuk bagi La Danse untuk menguak realita yang lebih luas: bisnis. Paris Opera Ballet Company memang memproduksi suatu pertunjukkan yang kualitas dan keindahannya tak perlu diragukan lagi. Namun, Paris Opera Ballet Company pada akhirnya butuh uang juga untuk bertahan hidup. Pada adegan lainnya yang melibatkan manajer, terlihat ada dua orang lainya, yang merupakan perantara dari para calon investor yang tertarik menanamkan modal di Paris Opera Ballet Company. Melalui medium shot, Wiseman merekam bagaimana mereka bernegosiasi perihal kemungkinan melakukan tur di sela-sela latihan ballet. Tur tersebut hanya akan diikuti oleh para investor yang menyumbang lebih dari $25.000. Beberapa mungkin akan mengernyitkan dahi saat mendengar salah satu pihak yang tertarik investasi adalah Lehmann Brothers, perusahaan jasa keuangan yang pada tahun 2008 sempat bangkrut dan membuat pemerintah Amerika Serikat ketar-ketir.

Adegan negosiasi tersebut menempatkan setiap adegan latihan dalam konteks ekonomi-politik. Setiap gerakan ballet yang para penari praktekkan kini tidak saja berkaitan dengan transfer ilmu dari generasi tua ke muda, tapi juga keberadaan Paris Opera Ballet Company untuk ke depannya. Mereka memang dipersiapkan untuk menjadi sebuah tontonan, yang kemudian siap dipasarkan ke kalangan elit.

Pada titik ini, La Danse dapat dikatakan sukses menyampaikan tujuannya. Melalui rangkaian rekaman gambar yang ia susun, Wiseman dapat memetakan sistem yang ada dalam Paris Opera Ballet Company, dan menjelaskan konsekuensi yang muncul dari keberadaan sistem tersebut. Berdasarkan apa yang publik lihat, yakni penampilan mereka di atas panggung, Paris Opera Ballet Company merupakan sebuah kelompok seni tari dengan segala gelora pencapaian artistiknya. Berdasarkan apa yang publik tidak lihat, yakni transaksi di balik panggung, Paris Opera Ballet Company merupakan sebuah bisnis yang mau tidak mau harus meraup keuntungan dari pertunjukannya, supaya ia dapat bertahan ke depannya. Seni pada akhirnya tidak saja soal ekspresi artistik, tapi juga soal kebutuhan manusia yang paling dasar: bertahan hidup.

La Danse, Le ballet de l’Opéra (La Danse, The Paris Opera Ballet) | Sutradara: Frederick Wiseman | Negara: Prancis & Amerika Serikat

Tulisan ini merupakan resensi salah satu film yang akan diputar selama Festival Sinema Prancis 2011. Jadwal selengkapnya bisa diakses di sini.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend