Around a Small Mountain: Transformasi Meta Menjadi yang Sebenarnya

Jacques Rivette adalah  salah seorang dari lima sutradara utama gerakan sinema New Wave, gerakan yang berkomitmen pada proyek revolusi tata narasi dan akhirnya berhasil. Berbeda dengan Truffaut yang membungkus teori-teorinya kedalam narasi, atau Godard yang mengemas narasi-narasinya ke dalam teori, Rivette, dalam karya-karyanya, tak pernah memusingkan persoalan narasi dan teori. Film-film Rivette lebih cenderung gelisah pada praktek pembuatan film itu sendiri (the process of filmmaking). Ia mengajak penontonnya untuk menjadi pembuat film juga. Meminjam istilah kritikus Jonathan Rosenbaum, karya-karya Rivette adalah “House of Fiction”, film-film dua lapis di mana kulit terluar wadah fiksinya diberi keberjarakan lain dengan kamera. Belum lama ini, Rivette kembali dengan karya terbarunya, Around a Small Mountain.

Dibandingkan dengan koleganya di gerakan New Wave, Rivette bisa dibilang sebagai sutradara yang paling konsisten di ranah eksperimental tanpa kehilangan akar inspirasinya yakni teater. Menonton film-film Rivette rasanya seperti menonton Peter Brook dengan sensasi janggal yang begitu membekap. Jika Godard mewarisi Brecht dengan premis “Ajak penontonmu mendekat dengan memberi keberjarakan, sempai mereka sadar kalau ini film”, maka Rivette mewarisi Artaud dengan prinsip “Ajak penontonmu masuk dengan mendekapkan narasi dipelukan mereka, sampai mereka tak bisa bernafas”. Meskipun tidak sekaya dan setenar Truffaut dan Godard (Faktanya, proyek film Rivette sering gagal karena kehabisan uang), tapi ia adalah orang yang pantas dihormati karena konsistensinya yang seolah tak pernah berhenti. Konsistensi itu tercium hingga puluhan tahun setelah film-film emasnya macam The Nun (1966) dan Celine and Julie Go Boating (1974).

Around a Small Mountain kembali membawa rasa yang janggal. Kisahnya, Vittorio datang berlibur ke sebuah kota kecil dan bertemu serombongan pemain sirkus gaek yang tengah menjalani tur terakhir mereka. Vittorio tertarik dengan Kate, salah seorang anggota rombongan itu.  Dari situ, dunia dibelah menjadi dua fenomena yang berjalan sendiri-sendiri: dunia nyata, dan dunia sirkus. Rivette belum bosan mengulik akarnya yakni dunia sirkus yang notabene serumpun dengan teater. Dunia nyata dan dunia sirkus dalam Around a Small Mountain punya stabilitasnya sendiri-sendiri dan akan hancur apabila dicampur. Vittorio jelas eksis dalam dunia nyata dan tak punya akses masuk kedalam dunia sirkus. Sehingga untuk menemui Kate, ia harus rela menunggu di dunia nyata sebelum Kate keluar dan menemuinya. Janggal sekali bukan?

Menggunakan pemetaan Rosenbaum (lewat emblem House of Fiction), jelas bahwa dunia nyata dan dunia sirkus adalah bagian dari Fiction. Rivette kemudian memberikan jarak antara Fiction dengan kameranya sehingga pada akhirnya, Around a Small Mountain adalah dunia sirkus dan dunia nyata yang tersampul rapih oleh kamera. Posisi kamera menjadi “House of Fiction”, Yang Mewadahi Fiksi. Selanjutnya, Rivette menyulam Around a Small Mountain menjadi film di mana dunia nyata dan dunia sirkus saling menunggui satu sama lain untuk mencapai klimaks bersama-sama. Konflik dicapai dengan cara mengacaukan peta sehingga penonton tak lagi kuasa membedakan mana yang nyata dan mana yang sirkus. Panggung telah bergeser masuk dan keluar tenda pertunjukan. Para karakter mengalami disorientasi lewat gestur yang begitu komikal, fable, Ah, saya sampai kehabisan kata untuk menggambarkannya.

Sejak awal, perkenalan karakter sudah menjadi kejanggalan tersendiri. Dunia sirkus dimanfaatkan sebagai sekedar cerminan dunia nyata. Para pemain yang sudah tua dan kelelahan mencerminkan umur sirkus yang sudah uzur. Dunia sirkus awalnya bekerja lewat mekanisme metafora, segalanya hanya serba perumpamaan sehingga penonton terjebak dan berfikir bahwa bukan “itu” jalan ceritanya, mereka mengira bahwa Around a Small Mountain adalah sebuah film tentang derita ujung hayat sekelompok sirkus tua. Selanjutnya, lewat gaya yang sangat Rivettesque, Around a Small Mountain kemudian membelok tajam sehingga perhatian penonton (harus) lebih memilih dunia sirkus dan mulai mengabaikan dunia nyata. Gaya Rivettesque yang saya maksud adalah kegemarannya pada fenomenologi durasi. Alih-alih memotong durasi agar maksud esensialnya tersampaikan, Rivette membuat dunia nyata berjalan sesuai dengan keadaan aslinya, tanpa dipotong, sehingga dunia nyata menjadi sangat membosankan. Hanya cericau burung dari atas dahan ditengah perkampungan Prancis di musim panas; kering dan berangin. Sehingga efeknya, kita selalu menantikan malam-malam jenaka ketika cambuk dipecutkan dan sirkus mulai dimainkan.

Vittorio sebagai penghuni tetap dunia nyata harus menghadapi konsekuensi rasa sukanya pada Kate yang notabene lebih sering berada di dunia sirkus. Kate adalah wanita tua yang sudah letih dengan hidupnya, kelelahan menghitung detak nostalgia sembari berusaha kembali dan kembali. Sementara Vittorio,  lelaki berumur sama yang masih saja mencari-cari dalam binar mata gembira, seperti belum pernah merasakan kepedihan apapun.  mana sebetulnya yang benar-benar “hidup”? mana yang harusnya lebih dipercayai penonton?

Lewat ketimpangan Vittorio vs Kate serta pemisahan dunia nyata dan dunia sirkus. Saya percaya bahwa Rivette masih setia dengan visi sinematiknya dan masih saja berhasil mengajak penontonnya ikut serta. Rasakan bagaimana kita kebingungan menanggapi obrolan-obrolan meja Vittorio dan Kate, serta bagaimana kita terus mempertanyakan otentisitas ketika dihadapkan pada dunia nyata dan dunia sirkus. Mulanya, sebagian besar penonton pasti merasakan keinginan yang besar dalam diri Vittorio untuk masuk dan diterima dengan baik dalam dunia sirkus Kate, tapi tak bisa. Suatu hari, ketika batas-batas dua dunia telah buyar, pintu terbuka lebar bagi Vittorio. Namun di titik itu, ia menjadi kebingungan sendiri dan akhirnya mati-matian menolak meskipun tak jua sepenuhnya berhasil. Vittorio menjadi bingung sebab dunia nyata tiba-tiba berubah menyerupai dunia sirkus, penempatan karakter, koreografi, serta dialog-dialog yang mewujud. Sementara Kate juga mengalami kegalauan sebab dunia sirkusnya mulai menghilang pelan-pelan, melebur dengan dunia nyata setelah berkibar puluhan tahun lamanya.

Lewat segala bentuk  pembalauan yang jenius itu, kita masih bisa membaca konsistensi lain dari karir Rivette, yang ia bawa jauh melintasi berbagai fase karirnya lewat film-film macam L’amour Fou (1969) dan La Belle Noiseuse (1994), yakni usahanya untuk menghilangkan narator. Berbeda dengan Godard dan Truffaut yang sangat auteurist dalam bercerita, Rivette justru menghilangkan dirinya dari narasi karya-karyanya. Sehingga film-filmnya menjadi misteri tanpa solusi karena memang bertumpu penuh pada proses dan bukan hasil, pada pengalaman dan bukan kesimpulan narator. Karya-karyanya terbentuk oleh kombinasi elemen-elemen janggal tanpa penyelesaian yang tunggal.

Sengaja saya selalu menyertakan penonton sebagai parameter dalam membaca karya-karya Rivette termasuk Around a Small Mountain. Karena pada dasarnya, penonton adalah bagian yang inheren dari karya-karya sutradara besar ini.

Around a Small Mountain | 2009 | Sutradara: Jacques Rivette | Negara: Prancis | Pemain: Jane Birkin, Sergio Castellito, Julie-Marie Parmentier, André Marcon, Jacques Bonnaffé.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend