Sepuluh Film Indonesia Pilihan Tahun 2014

10-film-indonesia-2014_hlgh

Ketika layar kian beragam dalam segi ukuran dan tujuan, haruskah rujukan film kita terbatas pada apa yang disiarkan di bioskop komersil saja? Pertanyaan ini kian mendesak untuk diajukan, karena berkaitan erat dengan cara kita memahami film nasional.

Mari perhatikan acara-acara penghargaan film yang ada di Indonesia. Kebanyakan membatasi diri pada film-film bioskop—spesifiknya film fiksi panjang yang beredar di bioskop. Kalaupun sadar akan adanya kegiatan perfilman di luar bioskop, panitia memberikan sekat-sekat kategori penghargaan yang tegas. Kategori film terbaik melibatkan film-film bioskop saja; film-film lain dibuatkan kategori sendiri. Apresiasi Film Indonesia, sebuah acara penghargaan bentukan negara, bahkan sampai membuat kategori Film Non-Bioskop Terbaik untuk menampung film-film yang tidak tergabung dalam tata edar bioskop, padahal masih sama-sama film panjang dan sangat bisa diadu dengan Film Bioskop Terbaik.

Implikasinya ada dua. Pertama, kita menganggap sebuah film hanya sah disebut film kalau sudah masuk bioskop. Kedua, kita melihat perfilman sebagai jenjang-jenjang. Posisi paling tinggi ditempati film bioskop; film-film lainnya dianggap inferior atau kelas dua. Karier pembuat film seakan-akan harus berhilir pada film bioskop.

Pandangan-pandangan ini jelas salah kaprah. Dua atau tiga dekade lalu, perspektif bioskop-sentris masih bisa diterima. Pada waktu itu layar di Indonesia memang hanya ada di bioskop; orang-orang memang berkarya untuk itu. Layar-layar di luar bioskop bisa dihitung pakai jari dan tidak terlalu signifikan juga dampaknya. Sekarang, perfilman Indonesia bisa dibilang sama hidupnya di dalam maupun di luar bioskop. Layar-layar independen semakin menjamur, jumlah film yang beredar di luar bioskop terus meningkat, dan lebih pentingnya lagi, sudah tercipta budaya menonton di luar bioskop, yang bisa kita temukan di berbagai pelosok nusantara. Pembuat film kita juga kian beragam, berkarya dengan cara dan untuk layar yang beragam. Lantas, kenapa kita masih melihatnya setengah-setengah?

Daftar ini disusun berdasarkan kesadaran akan keragaman layar dan pembuat film yang membentuk budaya sinema di nusantara. Artinya, setiap jenis film diperhitungkan, mau itu film panjang, pendek, fiksi, dokumenter, eksperimental. Syaratnya hanya satu: ia pernah diputarkan untuk publik, baik itu di layar komersil maupun independen. Daftar di bawah ini bukanlah peringkat, bukan juga urutan kronologis, tapi wujud penghargaan Cinema Poetica terhadap keragaman film nasional selama 2014. Sudah saatnya kita mengapresiasi sinema Indonesia secara utuh, tidak setengah-setengah lagi. Selamat menikmati.

gambar_udhar_10-film-indo

UDHAR

Tunggul Banjaransari / 15 menit / Hail the Cube Project

Tak ada waktu yang lebih tepat bagi Udhar selain saat ini. Di tengah masyarakat yang kian terkapling-kapling karena ragam kepercayaan, Udhar hadir dengan menawarkan gagasan yang terlalu sensual untuk tidak kita pikirkan. Keasyikan film ini adalah keluwesannya menerjemahkan perkara iman sebagai peristiwa pandang-dengar, lewat potongan-potongan kejadian dalam hidup seorang ibu yang baru pulang naik haji. Kuncinya ada pada bingkai sinema. Tunggul Banjaransari begitu cerdik dalam memainkan persegipanjang imajiner yang membentuk layar dan pengalaman menonton kita. Karena hanya seluas itu dunia yang protagonis (dan penonton) bisa lihat dan terima sepanjang lima belas menit durasi film. Perkara kepercayaan menjadi perkara kebendaan—dari ritual ibadah, air zam-zam, hingga terapi pengobatan alternatif. Apapun yang berada di luar bingkai penglihatan, entah itu tikus atau tetangga beda agama, hanya pantas mendapat dua perlakuan: diabaikan atau dipertanyakan.

gambar_penderes-dan-pengidep_10-film-indo

PENDERES DAN PENGIDEP

Achmad Ulfi / 30 menit / Papringan Pictures

Rasanya ingin sekali memutar film ini non-stop di hadapan para kelas menengah ngehe yang mencibir kehidupan buruh. Pasalnya Penderes dan Pengidep adalah artikulasi yang cerdas—oleh pelajar SMA Negeri Kutasari di Purbalingga, catat itu para aktivis kiri—tentang siklus ekonomi kelas pekerja. Tanpa perlu pidato berbusa-busa dan drama berbunga-bunga, Penderes dan Pengidep mengekspresikan perkara upah dan kerja lewat keseharian suatu keluarga di Purbalingga: berapa banyak waktu yang dikaryakan untuk orang lain, berapa yang tersisa untuk menikmati hasil kerja, berapa pula yang tersedia untuk diri sendiri dan keluarga. Mengusung gaya dokumenter observasional yang belakangan populer di Indonesia, Penderes dan Pengidep mengikuti sang bapak naik turun pohon nira setiap pagi, sang ibu membuat bulu mata palsu setiap malam. Siangnya mereka berurusan dengan iuran listrik, sumbangan arisan, tagihan tukang kredit, dan anak yang merengek minta uang jajan. Kembali siklus serupa berulang besoknya dan besoknya lagi—sementara harga gula dan upah buruh tak kunjung bersahabat. Tak ada jalan keluar bagi mereka.

gambar_cahaya-dari-timur_10-film-indo

CAHAYA DARI TIMUR: BETA MALUKU

Angga Dwi Sasongko / 151 menit / Visinema Pictures

Cahaya dari Timur bisa jadi telah menciptakan plafon baru bagi film sepakbola di Indonesia. Di sini sepakbola tidak disederhanakan menjadi eskapisme massal, tidak digembar-gemborkan jadi perkara kibar bendera, tidak juga diromantisir menjadi dosis inspirasi instan, tapi dipahami ulang sebagai indikator toleransi sosial, sebagai medium dialog untuk segala bentuk perbedaan dalam kehidupan bersama. Dan bukankah esensi dari permainan sepakbola itu sendiri adalah kesatuan dalam perbedaan? Cahaya dari Timur jugalah pernyataan sikap yang tegas tentang Indonesia Timur. Sejauh ini film-film kita tentang Indonesia Timur cenderung terpaku dengan perspektif pusat, seakan-akan masalah di pojok nusantara sana baru sah disebut masalah apabila dapat perhatian atau pengakuan dari tokoh-tokoh di ibukota. Belum lagi kecenderungan film kita memukul rata perkara-perkara Indonesia Timur dengan penyelesaian dari pusat, seakan-akan kawan kita di sana tak tahu cara berdikari. Dalam Cahaya dari Timur, ibukota hanya hadir sebagai situs geografis, sebagai lokasi pertandingan. Segala penyelesaian datang dari dialog dan usaha bersama warga Maluku.

gambar_polah_10-film-indo

POLAH

Arie Surastio / 11 menit / Madaya Plan

Nampaknya sudah terlalu lama sinema kita memaknai dunia mistis secara dangkal. Kalau tidak sebagai teror demit, dunia mistik didzalimi sebagai mainan anak muda kelebihan libido dan parade nonsens lainnya. Polah mengajak kita untuk memahami dunia mistis sebagai logika, sebagai pola pikir yang alamiah bagi bangsa kita dalam menyikapi dunia. Film garapan Arie Surastio dan kawan-kawan ini pada dasarnya adalah kisah moral klasik—tentang batas-batas norma yang tak sepantasnya dilanggar, atau rasakan sendiri akibatnya. Dengan sedikit twist: penghakiman datang dari mereka-mereka yang tak terlihat, yang punya kode etik dan moralnya sendiri. Menonton Polah sama saja melihat kembali bagaimana logika mistika terwujud dalam keseharian kita, bahwasanya kita manusia tinggal di nusantara yang sudah terlebih dahulu dihuni dan diatur oleh leluhur kita. Kita hanyalah anak-anak yang harus menanggung beban dari dosa asal itu, yang kita juga tidak tahu betul bagaimana batas dan aturan mainnya bisa terbentuk, seperti mengucap permisi setiap masuk rumah tua atau lewat kuburan.

gambar_rocket-rain_10-film-indo

ROCKET RAIN

Anggun Priambodo / 99 menit / babibutafilms & buttonijo

Tak ada yang sakral dalam Rocket Rain. Pernikahan, perceraian, dan segala konsekuensinya diungkapkan segamblang-gamblangnya. Adalah Culapo dan Jansen yang menjadi avatar bagi para lelaki (juga perempuan) yang gundah dan gelisah di seluruh nusantara. Sepanjang 99 menit durasi film, kita melihat keduanya curhat berdua setiap malam, kadang berkeluh kesah, tentang pernikahan, tentang merawat anak, tentang menghadapi keluarga besar. Siangnya mereka melakoni petualangan sureal bersama Pak Kancil dan Rain. Tokoh pertama menjadi tokoh laki-laki yang berhasil menjalani perannya sebagai laki-laki dan suami idaman istri, tokoh kedua mewakili hasrat tanpa batas yang Culapo dan Jansen sukar temukan dalam kehidupan pernikahan masing-masing. Rocket Rain menjadi begitu berharga karena jarak yang mereka tebas terkait topik-topik ‘serius’ ini, membuka renungan bahkan diskusi yang jujur tentang kehidupan rumah tangga. Rocket Rain juga terhitung film yang langka dalam khazanah sinema Indonesia, karena bisa dengan asyik membicarakan maskulinitas laki-laki tanpa harus mengorbankan gender-gender lainnya sebagai lelucon.

gambar_maryam_10-film-indo

MARYAM

Sidi Saleh / 18 menit / Bioskop Merdeka Film

Maryam adalah sebuah studi tentang rapuhnya kondisi manusia, tentang kepercayaan dan diri yang menaunginya. Nama Maryam saja sudah bisa jadi bahasan sendiri. Dalam tradisi agama Kristen, Maryam adalah Maria atau nama bagi bunda Yesus. Uniknya, di Indonesia, seorang Islam bisa juga bernama Maryam, layaknya protagonis dalam film pendek Sidi Saleh yang satu ini. Ia pun terjebak dalam kondisi yang sama pardoksnya: kepalanya terbalut jilbab erat-erat, tapi ia harus menemani majikannya ke gereja. Pertanyaan soal keimanan memang sudah cukup sering dilakukan sinema Indonesia, terutama oleh film-film Hanung Bramantyo, tapi Maryam berbeda. Alih-alih menghadapkan keimanan pada kitab suci atau etika masyarakat, Maryam mengembalikan perkara ini ke dalam diri—dan bukankah keimanan selalu tumbuh dari momen-momen intim yang sifatnya personal? Penakaran iman secara personal macam ini yang jarang dilakukan pembuat film kita. Patut dipuji juga permainan simbolik Maryam yang mendukung tema sentral film: perpaduan visual jilbab dengan kerudung suster, kehamilan sang protagonis pada hari Natal, dan sebagainya. Puitis dan juga hangat.

gambar_layu-sebelum-berkembang_10-film-indo

LAYU SEBELUM BERKEMBANG

Ariani Djalal / 89 menit / Tanamera Film

Sekolah adalah candu masyarakat, atau setidaknya begitu yang coba dibentuk oleh rezim pendidikan kontemporer Indonesia. Pendidikan disederhanakan jadi pertaruhan akan kelulusan, jadi perkara nilai rapor akhir semester. Prioritas ada pada hasil akhir ketimbang proses berkelanjutan. Oleh karena itu pelajar terus-menerus dibuat merasa kekurangan: kebutuhan mental didatangkan motivator, kebutuhan rohani didatangkan kyai, kebutuhan ilmu ditanggapi dengan kelas-kelas tambahan yang tak ada habisnya. Lewat pengamatan selama tiga tahun lebih, Layu Sebelum Berkembang secara cermat menangkap semua fenomena ini. Layu Sebelum Berkembang boleh jadi memang terbatas karena pendekatan observasional yang ia pakai—film berubah haluan di tengah jalan, mengikuti perkembangan kebutuhan dan tantangan hidup yang dialami para narasumbernya. Tapi juga tidak dapat disangkal bahwa dokumenter garapan Arian Djalal dan kawan-kawan ini adalah dokumen penting bagi kita ke depannya, terutama di awal rezim baru ini yang konon kabarnya mementingkan pembangunan manusia.

gambar_indie-bung_10-film-indo

INDIE BUNG!!

Yuleo Rizky / 12 menit / Muse Production

Mengejutkan sekali film ini datang dari kalangan pelajar, tepatnya dari anak-anak SMK Negeri 11 Semarang. Pasalnya, kawan-kawan muda ini tampil sungguh dewasa. Banyak pembuat film lebih berumur dari mereka yang keblinger menerjemahkan kata ‘indie’ sebagai ‘belum populer’ atau ‘nekat tanpa pikir panjang’. Kawan-kawan pelajar ini setia dengan semangat ‘merdeka’. Indie Bung bercerita tentang sepasang anak muda yang mau bikin film, beserta imajinasi-imajinasi liar mereka tentang proses produksi film. Terjadilah percakapan-percakapan sok tahu tentang estetika film dan syarat-syarat film baik—yang pastinya pernah kita lakukan juga, baik bagi yang bikin film maupun tidak. Ada gaya minimalis dengan long take yang tak habis-habis, ada gaya sensasionalistik dengan parade zoom dan penyuntingan cepat, ada juga gaya (sok) artistik dengan serba tempel gambar apapun. Indie Bung asyiknya tidak menghakimi satu modus produksi dengan yang lain. Semuanya sah, tergantung kebutuhan dan kemampuan mewujudkan. Indie Bung merupakan sindiran yang cerdas bagi produksi film kontemporer yang kadang terlalu berkutat pada jargon-jargon estetis, juga tribut bagi sinema itu sendiri sebagai medium yang paling membebaskan.

gambar_selamat-pagi-malam_10-film-indo

SELAMAT PAGI, MALAM

Lucky Kuswandi / 94 menit / Kepompong Gendut & Sodamachine Films

Selamat Pagi, Malam boleh jadi nampak seperti keluhan warga urban belaka, gula-gula dari gemerlap kota, tapi film ini jelas tidak bisa dikatakan sederhana. Komedi iya, satir iya, dengan sasaran tata hidup warga Jakarta atau penghuni kota besar manapun di nusantara. Terlukiskan kehidupan pribadi yang kian terjajah oleh perangkat genggam mutakhir, social media, dan tuntutan untuk tampil di dunia maya. Terpetakan kehidupan sosial yang kian terbatas pada tempat-tempat yang mengamini penampilan fisik sebagai pencapaian paripurna—pusat kebugaran, bistro kuliner eksotis, bar tengah malam. Skenario-skenario ini lumrah terjadi dalam keseharian kita—terkadang kita juga melakoninya. Menertawai mereka sama saja menertawai diri sendiri. Rasanya sudah lama sekali kita tidak tertawa sesehat ini. Terakhir kali mungkin Nagabonar Jadi 2—atau malah Arisan? Selamat Pagi, Malam menunjukkan bahwa lucu tidak melulu harus imbisil, bahwa komedi juga bisa punya relevansi sosial.

gambar_onomastika_10-film-indon

ONOMASTIKA

Loeloe Hendra / 15 menit / Lanjong Production

Milan Kundera pernah berujar, bahwasanya manusia hanya bisa hidup abadi dalam catatan sensus dan berkas polisi. Onomastika (yang berarti ‘hari pemberian nama’ dalam bahasa Yunani) bertutur tentang manusia-manusia yang tak punya kesempatan untuk hidup abadi itu, baik mereka yang tak punya nama lahir maupun mereka yang dipaksa untuk tak setia dengan nama lahir. Tanpa nama yang bisa dicatat, mereka tidaklah sah di mata para penyelenggara peradaban modern. Lantas apa guna identitas? Untuk merekatkan atau malah memberi sekat? Loeloe Hendra dan kawan-kawan mengupas polemik ini lewat berbagai sisi, menjadikan Onomastika bisa sama-sama bicara di tataran emosional maupun intelektual. Di permukaan kita mendapat kisah sederhana tentang seorang anak tak bernama yang ingin sekolah bersama kawan-kawan sebayanya, lengkap dengan pemandangan alam Kutai Kertanegara yang manis dan indah. Di baliknya kita berkenalan dengan seorang kakek yang punya nama untuk setiap profesi yang ia lakoni; salah satunya Dipa Nusantara. Di satu sisi mendalam, di sisi lain meluas. Di satu sisi, psikologis. Di sisi lain, politis.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (5)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend