127 Hours: Makanya, Kalau Mau Pergi Pamit-Pamit Dulu

127-hours_highlight

Saya tidak tahu apakah mendaki gunung sendirian adalah tradisi di Indonesia, tapi itu yang sering dilakukan Aron Ralston, pendaki yang sudah berulang kali menaklukkan Blue Canyon di negara bagian Utah, Amerika Serikat. Akhir bulan April tahun 2003, musibah menguntit pendakiannya, sebuah batu besar menjepit tangan kanannya di celah ngarai sempit, berhari-hari, tak ada orang, hanya burung gagak yang terbang melintas setiap pukul delapan seperempat pagi.  Kisah nyata ini diangkat menjadi film dengan style yang sangat Danny Boyle. Kawan tentu mafhum bagaimana maksud saya. Danny Boyle, sejauh yang kita kenal, selalu membuat film dengan cara yang tegang namun komikal. Sejak Shallow Grave (1994) sampai Slumdog Millionaire (2008), puncaknya mungkin di Trainspotting (1996).

Karena 127 Hours hanya mengandalkan pelakon tunggal James Franco, maka kamera juga dibuat  sedapat mungkin bertualang. Maksudnya, bukan hanya Aron yang memanjat tebing, kamera pun ikut. Ketika Aron kelelahan, gambar di kamera juga menjadi gamang dan tak fokus. Bukan taktik point of view, melainkan kamera yang memang diniatkan untuk mengikuti Aron Ralston, petualangan luar maupun penginderaan internalnya. Aron memang selalu membawa handycam, namun apa yang kita lihat di layar handycam justru lebih berjarak dengan apa yang kita lihat dari kamera yang sebenarnya.  Pengalaman sinematografer Anthony Dod Mantle menangani beberapa film Dogma (Festen, Julien Donkey Boy) menjadikannya piawai dalam meledakkan emosi hanya dari gambar. Sebagaimana kita tahu, film-film Dogma selalu mencukur habis artifisialitas dramatis. Harus gambar yang bicara.

Dalam memotret perjalanan Aron, Boyle berfokus pada eksplorasi kesempitan yang panjang dari sudut-sudut yang terlihat tak mungkin. Eksplorasi itu mewujud mulai dari extreme long shot lewat high angle ke celah ngarai sehingga menimbulkan efek bahwa Aron terkurung di ruang yang benar-benar impossible untuk ditemukan dan melepaskan diri. Bahkan, pengambilan refleksi hidung Aron dari air dalam botol minum pun menimbulkan efek yang sama, ia menggunakan dinding-dinding botol juga untuk memancing perasaan bahwa ada kesempitan ruang yang begitu panjang tengah mengelilingi Aron. Disini, kesamaan arketipe bahasa visual Danny Boyle begitu terjaga.

Itu bagian thriller-nya, sekarang bagian komikalnya. Buat kawan yang mengikuti Danny Boyle, pasti kawan sudah terbiasa dengan cara melucunya yang justru membuat seram. Tentu kita masih ingat, di Trainspotting, ia membuat bayi merangkak di atas langit-langit dengan kaki menempel seperti serangga. Di Shallow Grave, ia coba melucu dengan membuat adegan bunuh-bunuhan menjadi begitu komikal. Sama dengan 127 Hours, ketika Aron Ralston kehabisan akal, imajinasinya mulai bertumbuhan. Awan-gemawan berlarian cepat, tiba-tiba terdengar lagu Scooby-doo.

Dari celah ngarai nun di pedalaman Utah, tiba-tiba Aron menjelma menjadi pembawa acara wawancara pagi di televisi, menjadi superhero, menjadi penelepon interaktif. Pikirannya mulai melayang pada iklan-iklan yang pernah ia simak dari televisi, pesta orgi dalam mobil, dan berciuman lewat handycam. Saking terfokusnya Boyle menggarap sekuens ini, ia justru meninggalkan lubang menganga, yakni progresi dramatis. Menjelang pertengahan durasi, 127 Hours menjadi film yang sangat membosankan. Tak ada cerita, hanya sensasi nostalgia teknikal ke film-film terdahulu Boyle.

Ada yang menarik tiga film populer yang muncul belakangan ini, yakni 127 Hours (Danny Boyle, 2010), Buried (Rodrigo Cortés, 2010), dan Devil (John Eric Dowdle, 2010), yakni pengurungan karakter secara klaustrofobik dan menggali remah-remahnya dari karakter yang terkurung tersebut. Beberapa berhasil, beberapa tidak. Kelebihannya sama dengan zoom in ke wajah karakter dalam film-film thriller lama (sineas Dario Argento dan Nicolas Roeg sering melakukannya) sebelum antagonis datang menyergap; penonton tak pernah tahu apa yang akan datang, apalagi menebak reaksi karakter.

Namun, taktik ini tak lepas dari kelemahan, efek spektakular hanya bisa muncul dari aktor yang ada di layar. Perhatikan film Buried, semua kejadian heboh di luar hanya bisa terindera lewat reaksi Jack Conroy si tokoh utama. Posisi penonton dilungsurkan menjadi setingkat lebih tidak penting, dimana tidak hanya memangkas otoritas mata penonton yang biasa puissant (super berkuasa), ia juga memundurkan penonton sehingga hanya bisa melihat reaksi, bukan aksi. Kelemahan terbesarnya tentu ada pada resiko si penghantar reaksi. Apabila seni lakonnya kempis sedikit saja, reaksi yang dihantarkan ke penonton akan menjadi lembam. Ini yang terjadi pada James Franco ketika 127 Hours memasuki durasi medio.

Bagi saya, 127 Hours tidak lebih dari fiksionalisasi satu kali petualangan Aron Ralston, manual informal bagi mereka yang akan mendaki (Di Indonesia, seringkali kita tak tahu apa kegunaan barang yang kita bawa sewaktu mau mendaki), dan kalaupun ada yang mengharapkan pelajaran moral dari film ini: jangan pernah mendaki sendirian, usahakan ikut MAPALA (di kampus kalian namanya apa?).

127 Hours | 2010 | Sutradara: Danny Boyle | Negara: Amerika Serikat | Pemain: James Franco, Kate Mara, Amber Tamblyn, Clémence Poésy, Treat Williams

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend