Istirahatlah Kata-kata: Wiji Thukul di Antara Kudatuli dan Tujuh Ribu Hari yang Raib

Istirahatlah Kata-kata adalah cerita tentang Wiji Thukul si penyair hilang sebagai orang hilang. Latar waktu yang diambil adalah kali pertama dia menghilang, antara pertengahan 1996, pasca peristiwa Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli), hingga akhir 1997 menjelang kejatuhan diktator Suharto. Dia raib dari pengawasan aparat, dari keluarga, dari kawan-kawannya. Tapi akhirnya dia kembali dan menceritakan segala rupa pengalaman sebagai buron di Kalimantan.

Tentu sulit—jika bukan mustahil—menceritakan kehilangan yang kedua, karena dia tak pernah pulang untuk menuturkan apa saja yang dia alami dia hilang sejak 1998 hingga hari ini. Tak seorang saksi pun yang bisa menggantikannya bercerita. Seandainya Istirahatlah Kata-kata dibikin sekuelnya, isinya mungkin adalah serangkaian pembicaraan dengan orang-orang yang terakhir kali bertemu Wiji Thukul atau yang mengaku bertemu Wiji Thukul setelah dinyatakan hilang. Dan barangkali sebagian dari mereka, jika bersedia tampil, adalah aparat.

Istirahatlah Kata-kata dimulai dengan pengumuman di radio tentang para aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang dinyatakan buron pasca peristiwa 27 Juli. Peristiwa ini membuktikan betapa tidak demokratisnya rezim Suharto, dan menandai awal dari akhir kekuasaan jagal dari Kemusuk itu. Pada 1993, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menggelar kongres luar biasa yang mendudukkan Megawati sebagai ketua umum. Beberapa saat sebelum kerusuhan itu terjadi, pemerintahan Suharto merekayasa kongres PDI di Medan dan mengangkat Soerjadi sebagai ketua umum untuk menggeser Megawati yang telah dipilih untuk menduduki jabatan yang sama dalam kongres luar biasa pada 1993. Sebanyak 58 truk berisi massa berbaju merah pendukung Soerjadi mendatangi Jalan Diponegoro, Jakarta, untuk merebut kantor partai dan bentrok dengan massa pro-Megawati yang tengah mengadakan mimbar bebas sejak pukul satu dini hari. Pengambilalihan paksa itu memicu kerusuhan di beberapa titik di Jakarta. Partai Rakyat Demokratik (PRD), yang baru lima hari dideklarasikan, dikambinghitamkan. Aktivis-aktivis PRD menyelamatkan diri dari kejaran aparat dan sebagian lagi tertangkap.

Diceritakan dalam Istirahatlah Kata-kata, sang penyair berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu rumah kawan baru ke kawan baru lainnya, dari satu nama samaran ke nama samaran lainnya. Resah menjadi nama untuk setiap tempat singgah.

Tak banyak yang bisa dilakukan oleh seorang buron. Sepanjang film Wiji Thukul diperlihatkan bosan, cemas, takut. Pada satu kesempatan ia menanyakan letak pintu darurat yang bisa digunakan dalam kondisi bahaya. Pada kesempatan lain, ketika seorang berseragam tentara menghampirinya dan menanyakan nama dan pekerjaan, ia membisu. Sipon, istrinya, ikut-ikutan ketiban sial: rumahnya diawasi, dituduh lonte karena kepergok menemui laki-laki tak dikenal (sang suami yang sedang menyamar) di sebuah kamar hotel. Sedangkan Fitri, putri sulungnya, sejak dini telah belajar betapa tentara membuktikan reputasi anti-intelektual mereka dengan merampas buku-buku pemberian sang bapak.

Politik masa

Representasi tentang masa lalu niscaya selektif. Demikian pula Istirahatlah Kata-kata menuturkan kisah hidup Wiji Thukul, seorang yang hari ini diingat khalayak dengan berbagai macam predikat: penyair, aktivis kiri, dramawan, orang hilang, dan seterusnya. Istirahatlah Kata-kata ‘hanya’ menampilkan sosok penyair rakyat yang tiba-tiba harus menjalani kehidupan yang jauh dari normal, terasing dari keluarga, massa, kawan seperjuangan. Itu zaman gelap. Tidak bersembunyi artinya cari mati atau bui.

Segala kata sifat heroik tiba-tiba saja luntur dari sosok Wiji Thukul yang kita kenal dari bacaan dan diskusi, digantikan potret Wiji Thukul si pemurung, si penakut, si orang bosan. Sebagian besar frame Istirahatlah Kata-kata yang berjalan lambat, diisi paling banyak oleh tiga orang. Kesan yang terbangun dalam film itu kental aroma kecurigaan dan ketakutan, dengan sisipan kesetiakawanan tak bersyarat dari pihak-pihak yang membantu Wiji Thukul dalam pengasingan. Tak ada penggambaran sosok yang heroik. Melarikan diri ke Kalimantan adalah perkara bertahan hidup dari rongrongan rezim dan menyelamatkan partai, di tengah hitung-hitungan di kepala yang masih kabur soal ke mana angin politik akan berhembus.

Film-film Yosep Anggi Noen sebelumnya lebih banyak menyentuh isu-isu kemanusiaan di wilayah pribadi. Kenyataan itu cukup membuat saya skeptis apakah pendekatan Yosep mampu menangkap Wiji Thukul sebagai manusia politik, misalnya dengan memperlihatkan keterlibatannya dalam pengorganisiran politik di lingkungan buruh? Atau, apakah ia bakal mengutamakan sosok Wiji Thukul di luar arena publik, Wiji Thukul sebagai bapak dan suami?

Informasi umum tentang Wiji Thukul dalam Istirahatlah Kata-kata disaring oleh dua hal. Pertama, melalui pemilihan kurun waktu yang sempit sebagai bingkai cerita, yang otomatis membatasi film pada upaya-upaya Wiji Thukul bertahan hidup dari kejaran aparat. Istirahatlah Kata-kata tidak menampilkan Wiji Thukul pra-Kudatuli, yang menulis pamflet-pamflet garang untuk PRD atau berkelana membangun jejaring kebudayaan di akar rumput. Kita hanya bisa meraba apa aktivitas Thukul sebelum dia lari, melalui interaksi Wiji Thukul dengan beberapa orang yang membantunya dalam persembunyian, yang ternyata juga membaca puisi yang dia tulis, atau melalui siaran radio di awal film yang mengumumkan berita penangkapan aktivis PRD.

Kedua, melalui fokus Yosep pada pribadi sang penyair, yang juga membatasi keluasan ruang tutur Istirahatlah Kata-kata. Di luar lokasi-lokasi pelarian Wiji Thukul, yang nampak adalah kehidupan Sipon (istri Wiji) beserta anak-anaknya yang diawasi secara ketat oleh aparat dan harus menanggung stigma tetangga, serta hotel tempat Wiji dan Sipon bercinta. Barangkali memang sulit menghadikan relasi antara Wiji Thukul dan kawan-kawannya di PRD, karena pada saat itu anggota partai meminimalisir kontak satu sama lain dan berkomunikasi lewat kurir. Dalam keterbatasan itu, kita tidak mendapat penjelasan mengapa Wiji Thukul mengambil pilihan berkonfrontasi dengan rezim dan bagaimana ia memutuskan untuk mengambil jalan seperti yang akhirnya ia tempuh.

Seandainya Istirahatlah Kata-kata hendak memperkenalkan sosok Wiji Thukul kepada khalayak umum, bukan saja kalangan aktivis dan intelektual yang sudah punya wawasan tersendiri tentang penyair-pemberontak itu, maka pendekatan Yosep memang mengandung kelemahan. Sang penyair hilang tertuturkan melalui kurun waktu yang terbatas, tanpa gambaran lugas tentang konteks sosial-politik yang lebih besar.

Saya pribadi sebenarnya senang ada sebuah film biografis yang mengetengahkan satu periode saja dari keseluruhan hidup tokohnya, satu hal yang jarang ditemukan dalam film-film biografis Indonesia. Namun untuk Wiji Thukul, saya memikirkan kemungkinan lain. Wiji Thukul tidak sepopuler Sukarno, Tjokroaminoto, Hasyim Asyhari, atau Ahmad Dahlan yang sudah difilmkan. Namanya juga tidak masuk dalam buku-buku sejarah yang dipelajari di sekolah.

Nuran Wibisono, dalam tulisannya “Upaya Membangun Tembok Pengultusan”, membuat analogi yang menarik antara Istirahatlah Kata-kata dengan Motorcyle Diaries (2004), film biografis tentang petualangan Che Guevara di atas motor butut ke seantero Amerika Selatan, sebelum ia terjun ke dalam kancah gerilya melawan diktator Batista pada akhir 1950an. Dua-duanya tentang pejuang kiri di tempat yang berbeda, dan sama-sama menampilkan tokoh utamanya sebagai ‘manusia biasa’ alih-alih ‘manusia politik.’

Terlepas dari kesamaan-kesamaan itu, saya merasa analogi ini problematis untuk konteks Indonesia. Che Guevara dipuja-puja sebagai pahlawan di Kuba dan sosoknya terpatri dalam memori publik rakyat Amerika Latin. Di samping itu, film-film yang menuturkan secara lengkap kehidupan Che juga sudah beredar jauh-jauh hari. Para pembuat Motorcycle Diaries, singkatnya, mendapatkan kemewahan untuk mengambil kurun waktu yang kurang terkenal dari subjek yang sama. Hal yang sama tidak terjadi pada Wiji Thukul, penyair-pemberontak yang kisah utamanya melekat pada satu kurun waktu yang berusaha dilupakan para penguasa. Kehidupan Sukarno barangkali akan lebih tepat diolah dengan pendekatan Yosep di Istirahatlah Kata-kata (yang diterapkan Viva Westi dalam Ketika Bung di Ende pada 2013) karena sosoknya yang sudah demikian terkenal.

Namun apakah tiap perkenalan harus melulu dipahami sebagai penuturan seluruh-penuh kisah seseorang? Jika kita kembali ke analogi Nuran, film tentang Che Guevara yang pertama diproduksi, Che! (1972) juga hanya menitikberatkan pada—dan meromanitisir—aksi-aksi gerilya tokoh utamanya. Buruknya representasi Hollywood pertama atas Che Guevara ini bahkan baru bisa terbayar puluhan tahun setelahnya, melalui Motorcyle Diaries dan Che (2008).

Kalaupun Istirahatlah Kata-kata dianggap kurang memuaskan dalam usahanya merepresentasikan dan memperkenalkan “Wiji Thukul politis” kepada penonton awam, setidaknya ia berhasil menggambarkan suasana ketakutan di bawah Orde Baru dan bagaimana rezim tersebut mulai kehilangan legitimasi untuk memerintah, bahkan sebelum krisis ekonomi 1997. Dalam hal ini, Yosep merupakan sedikit dari pembuat film yang tidak silau dengan tendensi film-film biografis Indonesia yang gemar mengkhotbahi penonton tentang pentingnya nasionalisme melalui cerita-cerita berlatar periode 1945-1950.

Politik massa

Istirahatlah Kata-kata adalah ilustrasi tentang zaman ketika kekerasan, penculikan, dan pembunuhan adalah makanan sehari-hari. Sebaliknya aksi massa, demonstrasi di jalan, dan pengorganisiran di akar rumput adalah anomali—bisa dilakukan namun dengan pengintaian ketat dan intimidasi fisik oleh aparat. Keberadaan massa lebih sering muncul dalam kerusuhan-kerusuhan sosial (yang semakin sering terjadi di berbagai daerah menjelang 1998) serta ritual lima tahunan kampanye pemilu (yang sudah pasti dimenangkan Golkar dan Suharto). Kesan-kesan mengenai rezim Orde Baru itulah yang kelihatannya hendak disampaikan Yosep, meski kemudian menutupi sebagian besar kiprah politik Wiji Thukul sebelum 27 Juli 1996.

Sebaliknya hari ini, politik di akar rumput terjadi setiap hari dan melibatkan banyak orang (dus, suatu kewajaran) sementara penculikan dan pembunuhan dianggap anomali (kecuali di Papua)—bisa dan sudah dilakukan berkali-kali, namun pelakunya akan lebih sulit menghindar dari sorotan publik. Dengan pertimbangan bahwa kewajaran pasca-1998 bisa kembali menjadi anomali, pemilihan periode 1996-1997, betapapun berisiko menyempitkan imaji tentang Wiji Thukul, adalah pilihan yang tepat secara politis. Apalagi ketika beberapa tahun belakangan militer kembali dilibatkan dalam sejumlah urusan-urusan non-pertahanan, mulai dari mengawal peredaran bibit, penjualan tiket sepakbola, hingga proyek militerisasi sipil bernama Bela Negara.

Maka tepat apabila Yosep menyandingkan potret represi dan ketakutan masyarakat dengan keberadaan sosok-sosok berseragam loreng, entah itu Angkatan Darat tulen maupun warga sipil yang terobsesi dihormati orang kampong bak Babinsa. Dalam semesta Orde Baru yang dikisahkan Istirahatlah Kata-kata, hanya orang-orang inilah yang memiliki kebebasan berbicara dan bertindak. ‘Sekompi kacang ijo,’ demikian Wiji Thukul menyebut mereka, dikisahkan memiliki privilese dalam segala lini kehidupan hingga yang sekecil-kecilnya, termasuk hak untuk tidak mengantri di tukang cukur. Dan privilese itu tidak dimiliki Wiji Thukul (yang menyamar dengan nama Paul), Martin, dan beberapa kawan yang menyediakannya tempat berlindung. Namun di balik itu, di tengah-tengah persebaran ketakutan itu, kita juga menyaksikan solidaritas antar-rakjat yang ikut menyembunyikan Wiji Thukul. Ia memang diperlihatkan takut; namun keberadaannya di pengasingan, karya serta reputasinya sebagai penyair-pemberontak, justru memancing orang lain untuk mengambil tindakan-tindakan yang pada saat itu riskan.

Dari penggambaran Yosep tentang suasana tahun-tahun terakhir Orde Baru, kita pun lantas bisa bertanya lebih lanjut mengenai asal-usul ketakutan negara. Jika Wiji Thukul nampak ketakutan di sini, begitu pula negara. Lumrah belaka seseorang menjumpai ketakutan ketika dikejar-kejar aparat dan sadar bahwa keluarganya pun diawasi secara ketat. Tidak lumrah ketika suatu rezim, yang baru saja merayakan lima puluh tahun Indonesia Emas (1995) dan dengan pongah mendeklarasikan “Era Tinggal Landas” yang hendak meninggalkan tani demi status negara industri, takut dengan kehadiran seorang penyair, aktivis dan orang-orang yang jauh dari koridor kekuasaan.

Saya ingin kembali lagi ke pertanyaan di bagian tengah tulisan ini: jika salah satu tujuan film ini adalah memperkenalkan hayat dan karya Wiji Thukul kepada seluruh kalangan, cukupkah pendekatan Yosep untuk memenuhi tujuan tersebut?

Pada titik ini saya tidak ingin mengecilkan kapasitas penonton yang sedikit atau tidak pernah sama sekali mendengar nama Wiji Thukul sebelum menonton Istirahatlah Kata-kata. Seingat saya ada beberapa tren literasi di Indonesia yang dipicu film. Setelah Ada Ada Dengan Cinta dirilis, remaja usia SMA mulai membaca lagi puisi dan berburu buku-buku Chairil (atau bahkan penyair Indonesia lainnya) di pasar loak Kwitang. Demikian pula setelah film Gie diputar di bioskop, ketika Catatan Seorang Demonstran mulai dicari-cari dan dibaca (lagi). Siapa sangka jika nanti setelah Istirahatlah Kata-kata diputar secara massal, orang tidak sekadar bisa mengutip “Hanya ada satu kata: lawan!” tetapi juga membaca “Sehari Saja Kawan” dan “Sajak Kepada Bung Dadi”, atau mungkin juga mengulangi apa yang pernah dikerjakan Wiji Thukul?

Istirahatlah Kata-kata | 2016 | Durasi: 97 menit | Sutradara: Yosep Anggi Noen | Penulis: Yosep Anggi Noen | Produksi: Yayasan Muara, Partisipasi Indonesia, Limaenam Films, Kawankawan Film | Negara: Indonesia | Pemeran: Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Dhafi Yunan, Eduwart Boang Manulu, Melanie Subono, Joned Suryatmoko, Rukman Rosadi

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (32)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (2)
Share

Send this to a friend