
Film Panji Tengkorak dikabarkan sepi atensi. Dalam tiga hari, film yang rilis pada 28 Agustus 2025 ini disaksikan tidak lebih dari 17 ribu penonton. Ia bahkan telah turun layar sebelum genap sebulan ditayangkan. Panji Tengkorak menjadi salah satu film yang turun layar lebih cepat dari dugaan. Padahal film yang disutradarai Daryl Wilson ini muncul di tengah maraknya film animasi tanah air, seperti Jumbo yang meraih sukses dan disambut penonton tanah air, ataupun sebaliknya, Merah Putih: One for All yang mendapat respons buruk dari publik.
Usut punya usut, terdapat dua alasan yang dianggap sebagai penyebab mengapa laju Panji Tengkorak tersendat. Pertama, jadwal tayang yang bertepatan dengan demonstrasi. Sebagaimana kita tahu, ketika Panji Tengkorak tayang perdana di bioskop, terjadi demo besar-besaran untuk memprotes kesewenang-wenangan Dewan Perwakilan Rakyat—malamnya, kawan kita Affan Kurniawan berpulang karena dilindas terang-terangan oleh rantis Brimob. Kedua, jadwal tayang yang bersamaan dengan animasi laga dari Jepang, Demon Slayer: Infinity Castle. Film ini ditonton lebih dari 461 ribu penonton pada hari pertama mereka tayang (15 Agustus), dan telah mencapai 2,2 juta penonton dalam waktu tiga hari. Sebagai film animasi, pencapaian pada hari pertama mereka bahkan melebihi apa yang dicapai film Jumbo. Bahkan pada 28 Agustus, film ini masih ditonton banyak orang.
Kabar akan rilisnya Panji Tengkorak garapan Falcon Pictures sudah saya dengar dari beberapa minggu sebelum rilis. Film ini menyita perhatian saya bukan karena alasan solidaritas untuk menghargai karya anak bangsa ataupun menjadi klangenan wujud romantisme semata. Jujur saja, saya tidak tahu menahu karya Hans Jaladara ini, baik ketika ia menjadi komik dan dirilis pada pada 1968; dicetak ulang pada 1985 dan 1996; diadaptasi jadi film pada 1971 dan 1983; ataupun menjadi acara televisi di tahun 1995 dan 1996. Saya masih terlalu kecil pada 1995-1996 untuk menyaksikan film atau serial yang kompleks. Saya mengetahuinya justru dari ayah saya, yang asyik menceritakan kenangan atas Panji Tengkorak yang ia ingat ketika saya membicarakan rencana menonton film tersebut. Hal ini membuat saya tertarik akan sosok anti-hero ini.
Alasan penting lain yang menggiring saya menyaksikan Panji Tengkorak adalah mengalami riuhnya film animasi tanah air. Kiranya ini yang membuat saya menyaksikan Panji Tengkorak pada hari perdana tayang di Summarecon Mall Kelapa Gading, Jakarta Utara. Film animasi laga ini saya saksikan pada 18.30 WIB. Kondisi bioskop ketika itu dipadati orang, terlihat antrean penonton yang mengular di konter penjualan. Hal ini membuat saya agak cemas untuk mendapatkan posisi deret bangku favorit dan jam tayang yang saya inginkan. Apalagi pembelian tiket saya lakukan tiga puluh menit sebelum film dimulai. Setelah di depan petugas tiket, saya memilih bangku dan jam tayang yang sesuai; tanpa memperhatikan lebih jumlah penonton yang turut menyaksikan. Pikir saya, sudah dapat tiket saja sudah untung.
Namun, saya cukup kaget ketika memasuki ruang bioskop, karena cuma hanya ada satu orang lainnya yang telah duduk manis menunggu sebelum 10 menit film dimulai. Setelah film dimulai, saya dapati tidak lebih dari 18 penonton di ruang bioskop yang diperuntukkan untuk lebih dari 150 orang. Saya mengernyitkan dahi, bertanya dalam hati, berapa penonton film ini di hari pertama jika jumlah penonton di setiap ruang tak jauh berbeda. Kendati demikian, saya sedikit lega ketika membaca laporan cinepolis di sosial media, di mana 5.700 orang menonton Panji Tengkorak pada hari pertama dari bioskop di seluruh Indonesia—walau ia seyogianya dapat ditonton lebih banyak lagi.
Lantas, saya mencari jawaban mengapa saya tetap duduk manis menyaksikan film ini hingga usai. Apalagi sebelum menonton, saya telah menyaksikan film animasi lainnya, Demon Slayer: Infinity Castle. Runyam! Tentu saya tidak dalam konteks membandingkan keduanya, itu terlalu membosankan. Karena kita sudah tahu arah diskusi setelahnya, yakni mereka [dianggap] tidak apple to apple. Hulunya adalah pembahasan iklim industri animasi Indonesia, dan diskusi setelahnya adalah menuntut perbaikan dari semua lini untuk membangun ekosistem film animasi yang sehat. Dan tujuannya adalah perbaikan kualitas, sehingga film serupa dapat digiatkan. Tentu itu tidak keliru—saya juga berpihak pada pendapat itu—tetapi bukankah diskusi itu sudah terus berulang dan hasilnya lambat kita semai. Maka dari itu, dalam tulisan ini, saya justru lebih ingin menunjukkan mengapa film ini menarik; apa yang saya dapatkan dari film ini; dan mengapa film ini terasa dekat dengan saya, dan mungkin juga kamu.
Dari anti-hero hingga gosip
Sebagai film adaptasi, Panji Tengkorak tidak jauh berubah dari cerita yang telah disusun Hans Jaladara sebelumnya, yakni tentang perjalanan Panji dalam mencari pembunuh pacarnya, Murni. Berlatar di Nusantara era lampau, Panji hidup dalam ekosistem kerajaan dengan perguruan silat yang mapan, sehingga mode perebutan kuasa dari satu ke yang lain adalah dengan berperang. Nagamas, gurunya, adalah ahli silat ilmu hitam yang ditakuti. Dahulu ia bersekutu dengan Bramantya dan Lembugiri, sampai pada akhirnya mereka berbeda jalan. Intrik demi intrik pun terjadi—Lembugiri menjadi antagonis, Bramantya menjadi rekan Panji. Panji adalah murid satu-satunya dari Nagamas, kendati demikian ia berhati-hati dalam menekuni ilmu hitam. Namun terbunuhnya Murni dan sang guru membuat ia berikrar meneruskan ilmu tersebut, mempelajari dari kitab gurunya hingga hidup dalam keabadian, tak dapat mati dengan cara apa pun, dan oleh siapa pun. Walau hatinya telah mati sejak terbunuhnya dua orang terdekatnya.
Jika merujuk pada cerita Panji, ada banyak pertemuan hingga ia menemukan gadis pujaan hati lainnya. Pun dari situ muncul kompleksitas cerita yang lain, seperti perjalanan Panji yang telah menjadi serial dalam lima jilid, belum lagi pembacaan asyik Seno Gumira Ajidarma tentang sosok ini. Namun film punya durasi, yang dikemas Daryl Wilson menjadi 94 menit saja. Alhasil ia perlu membatasi mana yang perlu untuk diakomodasi dan dihadirkan untuk generasi masa kini. Lantas, Theo Arnoldy dan Agung Prasetiarso bertugas mengemasnya, memolesnya agar cerita tepat guna. Entah apa pertimbangan mereka dalam menyeleksi hingga menarasikan ulang, tetapi nyawa Panji versi Hans Jaladara tetap di sana, di mana Panji adalah sosok anti-hero.
Terlepas ia mempelajari ilmu hitam, tetapi sosoknya yang antipati, cuek, kompas moral yang abu-abu, egois, tak punya arah, hidup dengan caranya sendiri adalah poin utama dari sosok Panji. Lebih lanjut, sosok Panji yang anti-hero menjadi daya pikat tersendiri, di mana motivasinya untuk bertarung bukan untuk kemaslahatan, tetapi untuk melepaskan diri dari keabadian—hal yang diiming-imingi Bramantya—dan tentu yang utama, pembalasan dendam. Entah bagaimana, beberapa tahun belakangan film dengan mode anti-hero juga kerap ditayangkan dalam industri film Hollywood, semisal Thunderbolts atau Deadpool. Maka, Panji dengan personality-nya bukan barang asing untuk milenial dan gen-Z. Sedangkan untuk trajektori film superhero, Panji tentu menjadi tawaran karakter dan cara pandang.
Upaya sutradara tetap menjaga marwah anti-hero dari awal, tengah hingga menuju akhir film juga patut diapresiasi. Beberapa adegan seperti Panji membiarkan warga dirampok oleh gerombolan penjahat; motivasinya bertarung yang penuh dendam; egois pada kehendak; dan bagi saya tampak seperti oportunis, seraya potret yang ideal atas karakternya. Namun keikhlasan Panji membiarkan Bramantya hidup cukup mengganggu, apalagi dijelaskan di tengah cerita jika Bramantya adalah salah satu orang yang menyerang desa Panji dan membuat pasangannya terbunuh. Tentu ini membuat nilai anti-hero yang diimani Panji seakan usang, seolah-olah Panji dipaksa memiliki nurani di akhir film. Bagi saya, ini menjadi kontraproduktif dari sosok Panji, laiknya mengubur karakternya sendiri, apalagi jika film ini memiliki sekuel kelak.
Terkait cerita yang dibangun, film ini tidaklah sulit diikuti. Durasi 94 menit dibagi pada dua hal, setengahnya menceritakan bagaimana sosok Panji dan apa yang menyebabkannya penuh dendam, sementara setengah lainnya menceritakan bagaimana Panji bertarung melawan Kalawereng, Lembugiri, dan pasukannya. Akhir ceritanya, Panji melanjutkan hidup. Sesekali kantuk dan bosan muncul memang tak terhindarkan, khususnya di bagian tengah cerita, tetapi ia masih dalam batas normal. Hal yang justru sangat mengganggu adalah lajur suara atau soundtrack yang digunakan, Bunga Terakhir. Ia sudah di taraf menyebalkan, pasalnya ia ditempatkan di beberapa bagian yang seakan sembarang. Jika fungsi musik untuk membangun mood—sebut saja seperti di film Sore—lajur suara film ini bertugas sebaliknya. Ditambah mereka menyia-nyiakan perpaduan warna suara kelas wahid antara Iwan Fals dan Isyana Saraswati. Sungguh disayangkan!
Namun yang sangat saya sukai dari film ini adalah elemen kecil yang bermakna besar bernama gosip. Saya mendapati ada dua segmen bergosip yang sangat intens, yakni ketika Kuwuk di warung makan menceritakan ke warga bagaimana ia dan rombongan diserang Kalawereng; dan di bagian akhir, ketika Kuwuk kembali menyebarkan cerita kepada banyak orang lainnya tentang seorang pendekar dari kidul (selatan). Aktivitas tersebut sekilas tampak mengisi saja, tetapi bagi saya, hal itu justru memiliki peran yang sangat besar, yakni memperkuat posisi Panji sebagai sosok sentral, tapi anomali. Belum lagi sosok Kuwuk sang penggosip yang digambarkan sebagai prajurit pengecut, kerap melarikan diri, dan hanya pintar bicara. Kendati beberapa review menyebut peran Kuwuk dianggap tidak berguna, tetapi saya justru melihat perannya yang penting di film ini.
Hal ini mengingatkan saya pada Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (1985), buku karangan James C. Scott. Dalam sistem dominasi yang mengikat, gosip menjadi everyday resistence yang paling menonjol dan taktis. Di dalam buku tersebut, petani miskin menggunakan gosip untuk melemahkan dominasi agen, reputasi, bahkan menjauhi dari hukuman langsung. Lebih menarik lagi, gosip tidak dimiliki sekelompok kaum, karena metode yang sama juga digunakan kaum atas untuk mempertahankan posisi dan mendelegitimasi kaum bawah.
Ilmu gosip yang lebih baru didedah oleh Niko Besnier, dengan bukunya yang bertajuk Gossip and The Everday Production of Politics (2009). Ia mengkaji masyarakat Tuvalu dan menemukan jika gosip tidak kalah penting dengan sidang formal, atau adat sekalipun. Gosip menjadi medium dalam menyusun sekaligus menggembosi hierarki, bahkan menebalkan bahkan memperdalam jelajah politik warga—ia membahas hal yang dekat dan mengangkatnya ke publik, dan sebaliknya. Yang menarik, Besnier juga menunjukkan bagaimana kehadiran dan absennya agen atau seseorang—dengan segala pengaruh atau agensinya—dalam medan perbincangan gosip. Artinya ia menghitung kepada siapa dan apa yang diproduksi. Inilah mengapa gosip tampak rentan sekaligus berdampak kuat. Dalam kasus Kuwuk di warung makan atau angkringan, ia dapat leluasa membicarakannya karena hanya dialah yang ada di medan laga; tetapi sekejap ia membatasinya ketika ada prajurit lain datang. Warga yang lain berspekulasi, makna jadi beragam, intensi gosip tetap tunggal.
Menurut hemat saya, aktivitas gosip berperan vital dalam Panji Tengkorak. Bahkan, ia seharusnya bisa ditempatkan lebih banyak lagi entah tersurat atau tersirat. Mengingat sosok Panji yang memang bak hantu, gosip seyogianya menjadi mode utama, bermuara dari mulut ke mulut, yang niscaya memperkaya perspektif penonton melaluinya. Selain menjadi jembatan penting dalam film, gosip juga memiliki resonansi yang tebal untuk masyarakat kita. Pasalnya masyarakat Indonesia hidup, menghidupi, dihidupi oleh gosip—entah apa muatannya, kebaikan ataupun keburukan sesuatu-seseorang. Soal sang tukang gosip menambahkan cerita, itulah justru letak asyiknya hidup dalam tradisi lisan. Ia secara antropologis lebih kaya dan berwarna, menunjukkan sisi agensi manusia yang memang tarik-ulur dan saling tumpang tindih. Maknanya tak pernah ajeg, tetapi terus dibuat dan diberi hingga kita mengalaminya sendiri.
Hal ini yang kiranya menjadi salah satu alasan membuat saya bertahan, mencari apa yang teresonansi terhadap saya, apa yang kita alami sehari-hari dan tertuangkan di film. Untunglah, adegan gosip itu ada, sehingga film ini tidak hanya upaya ikut-ikutan sineas agar relevan dalam dunia global. Asyik menciptakan animasi tetapi lupa apa dan siapa yang digambarkan atau diwakili. Gosip menjadi salah satu yang penting dicatat dalam film ini. Dan mungkin, ada baiknya kita mengikuti apa yang dilakukan Kuwuk, terus menggosipkan ke orang lain tentang pendekar dari Kidul, Panji Tengkorak yang seyogianya mendapatkan lebih banyak atensi, penonton, dan jumlah tayang. Sayang!
Mereka-reka animasi laga Indonesia
Satu kecemasan saya mengenai film animasi Indonesia adalah soal kepada siapa kita berpihak; seberapa jauh kita mengakomodasinya; seberapa lentur kita menegosiasikannya; pada sudut pandang apa yang kita pilih untuk menarasikan citra dan cerita; dan—utamanya—lewat bentuk animasi seperti apa yang kita gunakan untuk mengartikulasikan cerita dan gaya. Pasalnya kita banyak bercermin dari negara lain tentang bagaimana menghasilkan animasi Indonesia, semisal Barat dengan Disney, Jepang dengan Studio Ghibli, atau Malaysia dengan kartun Ipin Upinnya. Sempat terpikir, apakah kita benar-benar bisa memutuskan dan menciptakan gaya animasi kita sendiri? Saya tahu itu terlalu naif bagi banyak orang, seakan fana, apalagi semua teknologi, akses, dan daya bermuara pada haluan yang sama. Pada masa lalu pun kita melakukan hal yang tak jauh berbeda, dengan tradisi wayang India, tetapi kita telah menciptakan wayang dengan pelbagai variannya, yang sesuai dengan kita. Lantas bagaimana dengan animasi kita?
Pada animasi Indonesia, kita memiliki Battle of Surabaya, Knight Kris, Si Juki The Movie: Panitia Hari Akhir, Adit Sopo Jarwo, Nussa, Jumbo, dan lain sebagainya. Film-film itu menjadi catatan penting dalam perkembangan animasi di Indonesia. Mereka memiliki pertimbangannya masing-masing dalam menemukan mode animasi dan gayanya. Namun mereka tidak meributkan tentang kesamaan gaya yang identik dengan film lainnya—walau ada saja yang membicarakannya—semisal Battle of Surabaya yang mirip dengan karya Studio Ghibli, Adit Sopo Jarwo dan Nussa yang sepintas mirip dengan gaya Upin Ipin. Untuk Si Juki The Movie, saya pikir ia punya kans untuk menciptakan gayanya sendiri, laiknya animasi Amar Chitra Katha dari India, atau animasi O Menino e o Mundo dari Brasil yang berbeda dari arus utama. Lantas bagaimana Panji Tengkorak?
Panji Tengkorak menggunakan mode animasi 2D. Ia tidak seperti film terlaris Indonesia, Jumbo yang menggunakan mode animasi 3D. Tentu saya tak berkeinginan menunjukkan mana yang lebih baik, karena tiada jawaban yang benar dalam mengidentifikasi jenis animasi yang berbeda. Pada era lampau, kita sudah pernah berkutat pada hal serupa, ketika wayang dua dimensi (wayang kulit) dan tiga dimensi (wayang golek), hingga live action-nya (wayang orang) hidup bersandingan. Singkat kata, semua mode perwujudan memiliki kompleksitasnya masing-masing. Yang tidak hanya sekadar preferensi kreator, tetapi banyak alasan lainnya, seperti konteks perwujudan; kesesuaian teks, khususnya cerita dan animasi; narasi yang diangkat; tujuan, agenda, dan kesan yang ingin ditebalkan; hingga lagi-lagi, soal ketersediaan akses, teknologi, dan daya yang ada. Di sisi lain, lagi pula dengan menggunakan mode animasi 2D, Panji justru dapat lebih leluasa dan terlepas dari tempelan stigma hingga perbandingan dengan film animasi Indonesia lainnya, semisal Jumbo.
Lantas, apakah Panji dapat menciptakan gayanya sendiri? Panji Tengkorak menempuh jalan yang sama dengan animasi sebelumnya. Gaya animasi Panji Tengkorak kerap dikaitkan dengan animasi Avatar: The Last Airbender. Bahkan hal ini juga diucapkan oleh para pengisi suaranya, semisal Nurra Datau sebagai Murni dan Denny Sumargo sebagai Panji. Memang, mengasosiasikan Avatar: The Last Airbender ke Panji Tengkorak adalah jalan cepat untuk memberikan bayangan akan bagaimana visual dan gaya animasi di film ini. Sah saja! Jujur ini cukup mengganggu saya pada awalnya, karena ini semakin mengamini jika menciptakan baru adalah hal yang sulit. Namun, saya sadari jika kemiripan gaya bukanlah momok yang patut dicemaskan—apalagi jika merujuk ke beberapa film animasi sebelumnya dan tentu keterbatasan yang ada. Nyatanya, ia justru dinegosiasikan. Cara negosiasi mereka adalah dengan cakap menunjukkan keindonesiaan dalam vokabuler visual yang ada dan tersedia.
Di sisi lain, isu pada Avatar: The Last Airbender menarik dibicarakan, selain film tersebut memiliki asosiasi dengan animasi laga, karakter di dalamnya tidak didominasi oleh satu kaum saja. Karakter-karakter dari film tersebut justru didominasi akan penggambaran kulit berwarna. Memang film ini dibuat bukan oleh orang dari negara dunia selatan, tapi film ini meminjam kebudayaan China, Jepang, Tibet, dan India sebagai medium artikulasinya. Bahkan ketika menjadi live-action, film tersebut mendapatkan kritikan tajam karena tokoh utama diperankan oleh aktor kulit putih yang dipaksakan memerankan karakter Asia. Hasilnya, film live-action-nya gagal, tak berkesan dan tak terkenang.
Menurut hemat saya, landasan kulit berwarna penting sebagai kesempatan untuk melihat dunia yang tidak hanya dari apa yang dicitrakan oleh dan sebagai kulit putih. Kendati tak lepas anggapan jika bayangan akan bagaimana Asia masih ‘disetir’ oleh sutradaranya yang kulit putih, Avatar: The Last Airbender dapat menjadi stimulasi yang cukup dalam memperlihatkan keragaman dan keberwarnaan. Maka gaya animasi 2D Avatar: The Last Airbender serasa dapat diterima dalam menggambarkan masyarakat kita yang jelas sebagai kulit berwarna hingga bentukan anatomis hingga raut wajah yang lebih ramah-mata dengan kita.
Panji Tengkorak juga berupaya menunjukkan keindonesiaan di dalamnya. Ia tak hanya tertuang dalam cerita, tetapi lebih dari itu. Semisal, mereka dengan jitu menciptakan karakter-karakter yang dicitrakan sebagai nusantara—tentang kita, dekat dengan kita, di sekitar kita, di sekeliling kita. Pun menghadirkan elemen kebendaan hingga ambience yang dekat dengan kita, seperti: benda, arsitektur, busana, hingga aktivitas—semisal dengan gosip yang saya bicarakan sebelumnya. Bahkan dalam beberapa adegan, gambar Panji Tengkorak lebih tajam dan detail ketimbang Avatar the last airbender. Atas dasar itu, salut untuk 250 kreator yang mengabdikan diri selama setahun untuk mengerjakan film ini—standing ovation untuk kalian.
Namun apakah itu cukup? Saya tetap memiliki harapan jika film animasi kita memiliki perspektif yang lebih mendasar. Dan dalam hal ini, perspektif dunia selatan menjadi salah satu yang diperlukan dalam membuat landasan, alasan, keberpihakan—sesederhana memilih apa yang diperlihatkan sebagai Indonesia, tidak terjebak pada kaca mata Barat, eksotika, dan turis semata. Sehingga, gagasan tentang merangkai estetika kita sendiri, dekolonialisasi estetik, animasi yang vernakuler, hingga animasi sebagai agensi dalam membicarakan diri dan selingkarnya tidak lagi jauh panggang dari api.
Panji Tengkorak | 2025 | Durasi: 118 menit | Sutradara: Daryl Wilson | Penulis: Theo Arnoldy, Hans Djaladara, Agung Prasetiarso | Produksi: Falcon Pictures, Kumata Animation Studio | Negara: Indonesia | Pengisi Suara: Denny Sumargo, Donny Damara, Cok Simbara, Aghniny Haque, Tanta Ginting, Aisha Nurra Datau, Donny Alamsyah, Pritt Timothy, Revaldo, Candra Mukti
