I Wish: Kenyamanan Pada Cerita ‘Di Antara’

kiseki_highlight

Dalam sebuah sesi di Seoul, sutradara Jepang Hirokazu Koreeda mengaku bahwa setelah menjadi ayah, perspektifnya terhadap anak-anak dan film perlahan-lahan bergeser. Itulah yang membuatnya berkeras untuk membuat I Wish, film tentang dua kakak beradik yang berusaha untuk tetap hidup stabil pasca perpisahan kedua orang tua mereka.

Adalah Goichi sang kakak yang ikut ibunya menepi ke rumah nenek di sebuah kota kecil yang panik sebab lava yang terus-terusan memancar dari gunung terdekat. Sementara Ryu sang adik, entah atas pilihan sendiri atau dipaksa keadaan, tetap tinggal bersama ayahnya, seorang musisi independen yang tengah berjuang menyauk perhatian para stasiun televisi lokal. Dua kota, Kagoshima dan Fukuoka, menjadi ruang terbatas yang (semestinya) tetap meriangkan riak hari-hari kecil Goichi dan Ryu.

Pada mulanya, I Wish tetaplah mencurigakan, Koreeda tampak persis sedang membangun aura cerita dan semangat naratif yang sama dengan yang ia terapkan dalam Nobody Knows (2004), dimana anak-anak yang begitu bersemangat menutup cacat-celah sepeninggal ibu mereka, harus menghadapi kenyataan pahit tanpa siapapun bisa mengulur tolong. Prasangka ini ditimpali dengan muncul kembalinya kebiasaan lama Koreeda yang sempat “tak ia pakai” dalam film sebelumnya, Air Doll. Sedari awal karirnya, Koreeda sangat gemar pada penekanan-penekanan atas apa yang tidak kelihatan dalam gambar (off-screen).

Dalam Distance (2001) misalnya, Tokoh utama sebenarnya bukanlah orang yang paling bertanggung jawab dalam cerita yang ia lakoni. Ia hanya korban sampingan dari segala apa yang dilakukan keluarganya pada berbilang tahun silam. Penekanan naratif Distance justru terletak pada perbuatan keluarga sang tokoh utama yang sama sekali tak diperlihatkan dalam film, pula sangat jarang disinggung dalam dialog, namun membuat kita sadar bahwa peristiwa itu pernah terjadi, bahkan menjadi titik tolak utama terekamnya gambar ini.

Kasus terparah tampak pada Afterlife (1998), dimana saking menghambanya para karakter pada eksistensi tak-kasat-kamera, para karakter diharuskan memilih satu dari beribu kejadian dalam hidup mereka dan merekamnya secara paksa dalam sebuah reka ulang yang serba setengah-setengah. Tak ada yang penting dalam penampakan visual Afterlife, kunci jawabannya justru terletak pada pemandangan yang telah terkubur waktu dan tak terjangkau pandang pemirsa.

Kebiasaan itu diperagakan Koreeda dalam hampir semua filmnya hingga Still Walking (2008) sebelum berubah drastis dalam Air Doll (2009), semacam reka-ulang eksistensi manusia dengan Jepang modern sebagai latar terjadinya. Air Doll adalah film yang mengagetkan, pasalnya, dalam film ini Koreeda menanggalkan segala kebiasaannya mengangkat tema-tema penting nan offscreen sembari menggodai penonton dengan gambar-gambar yang sama sekali tiada bersentuhan.  Sebaliknya, Protagonis Air Doll adalah pusat dunia; berjuang menyelesaikan masalahnya seraya terus mencuat tampak pada pemirsa.

I Wish datang dengan pertanyaan lain. Koreeda sudah siap dengan soal ujian bagi penonton setianya. Dalam I Wish, narasi cerita selalu bergerak di antara hal-hal yang ingin dan yang tidak ingin ditampakkan. Penonton senantiasa terjepit di antara peristiwa yang ia lihat dan peristiwa yang dilihat oleh para karakternya, atau yang tak terlihat oleh keduanya. Koreeda berusaha keras agar sudut pandang penonton tidak menjadi satu-satunya sudut pandang mahakuasa dengan cara mengembalikan Goichi dan Ryu tidak sebagai pusat dunia. Banyak hal-hal di sekitar mereka yang berpotensi menjadi pusat dunia itu: orang tua yang bercerai, ultimatum lava gunung, ambisi dua kakak-beradik untuk melihat peristiwa kereta peluru yang berpapasan, teman Ryu yang berusaha menjadi artis, serta kue putih tradisional bikinan Kakek Koichi. Semuanya diceritakan dalam porsi yang nyaris sama sambil menafikan prasangka bahwa gaya Koreeda sudah berubah semenjak Air Doll.

Langit dalam kaca spion adalah metafora yang renyah untuk merangkum gaya penceritaan Koreeda

Dalam I Wish, pertautan cerita terkesan gemetar karena bergerak naik turun antara yang kasat dan yang tidak. Ketika penonton sedang sibuk menerka, pernyataan Koreeda bahwa “perspektifnya tentang anak-anak berubah” mulai tercerap. Koreeda menjadi lebih simpatik pada karakter-karakternya yang hampir semua anak-anak.  Lebih dari itu, anak-anak ini adalah sekumpulan jiwa belia yang sejak kecil telah kehilangan sesuatu dan tengah butuh keajaiban yang bisa mengembalikan segala kehilangan itu.  Anehnya, dalam I Wish, cita-cita juga digambarkan sebagai sebentuk kehilangan. Ada kekecewaan yang mendalam ketika ambisi tak terpenuhi, dan memang logis, bahwa ketika kamu tak berhasil meraih apa yang kamu citakan, maka kamu telah kehilangan cita-cita itu, atau minimal kehilangan satu kesempatan untuk meraihnya.

Dalam ruang yang lain, I Wish menengarai banyaknya faktor yang menyebabkan struktur kekeluargaan di Jepang dewasa ini menjadi begitu terbengkalai. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa rata-rata keluarga di Jepang hanya berkomunikasi satu-satu sama lain selama 3 menit dalam sehari. I Wish mencampur aduk masalah ini dengan hipotesis-hipotesis atas penyebab kausalnya. Teknologi yang terlalu canggih, pertengkaran pasangan oleh sebab pekerjaan, hingga masalah-masalah kultur tradisional yang membuat segalanya semakin balau sehingga satu-satunya cara untuk membedahnya tanpa terprovokasi adalah dengan mengamatinya dari kacamata yang paling netral: anak-anak.

Goichi dan Ryu memang digambarkan hanya peduli pada seru-tidaknya permainan sendiri. Namun sembari bermain, mereka juga mencari tempat untuk melabuhkan konfirmasi bagi asumsi mereka atas apa yang sejauh ini terjadi. Konfirmasi beresiko menjadi jebakan dalam I Wish, dan tampaknya di sinilah film ini menampakkan pernyataan terkuat Koreeda sekaligus juga kehilangan netralitasnya. Mungkin sebab telah menjadi Ayah, Koreeda menambatkan premis-premis utama filmnya pada karakter-karakter senior. Orang tua (baca: lansia) diletakkan sebagai sumber paling bijak dimana anak-anak bisa menaruh kepercayaan mereka yang lantak akibat ayah dan ibu yang tak bisa diandalkan. Para karakter lansia dalam I Wish begitu stabil. Bandingkan, misalnya, dengan Still Walking (2008) dimana para karakter lansianya digambarkan begitu goyah oleh pengaruh lingkungan dan posisi kulturil mereka dalam keluarga.

Pada akhirnya, rasa simpati Koreeda terhadap anak-anak tetap harus dikemas dalam sebuah film yang hampir seluruhnya berisi negasi. Negasi terhadap anggapan bahwa keajaiban (Judul asli I Wish adalah Kiseki yang dalam bahasa Jepang berarti“keajaiban”) adalah kejadian besar yang terjadi di luar dugaan dan akal sehat manusia. Keajaiban, justru adalah kue putih buatan kakek, perjalanan kecil menonton kereta peluru, kehilangan satu kesempatan meraih cita-cita, dan gunung berapi yang menganga.

I Wish | 2011 | Sutradara: Hirokazu Koreeda | Negara: Jepang | Pemain: Koki Maeda, Ohshiro Maeda, Ryoga Hayashi, Cara Uchida, Kanna Hashimoto.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend