How to Win at Checkers: Thailand dari Mata Orang-orang yang Kehilangan

how-to-win-at-checkers-every-time_hlghKisah orang-orang kehilangan, disadari atau tidak, selalu menarik untuk diperhatikan. Tentunya, kisahnya tidak terbatas pada kehilangan yang dituturkan secara hiperbolik, tapi juga kehilangan yang berdampak terhadap karakter, mental, bahkan lingkungan sosial orang-orang yang yang ditinggalkan. How to Win at Checkers (Every Time) bergerak melalui premis tersebut.

Josh Kim menggarap How to Win at Checkers dari dua cerita pendek karangan Rattawut Lapcharoensap, At the Cafe Lovely dan Draft Day. Cafe Lovely adalah tempat queer berada, sementara draft day adalah hari pengundian wajib militer. Meski terkesan bertolak belakang, kedua hal itu beririsan di Thaliand—negara di mana queer diakui, sekaligus berpeluang masuk militer. Lewat kedua hal itu, How to Win at Checkers menakar bagaimana Thailand, sebagai negara yang melegalkan LGBT, memenuhi hak-hak warganya—termasuk hak-hak para queer. Caranya pun bukan lagi dengan menampilkan bagaimana kehadiran queer di Thailand, melainkan bagaimana kehadiran Thaliand di kehidupan para queer. Perspektifnya ada pada keberadaan negara di tengah warga.

How to Win at Checkers bermula dari mimpi buruk Oat atas kakaknya, Ek, yang memantik kenangan kehidupan sepuluh tahun lalu. Setelah kematian ayah dan ibunya, dua bersaudara tersebut hidup dengan bibi dan seorang sepupu perempuan. Ek punya peran penting, bukan saja dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan melunasi beban hutang, tapi juga sebagai kakak sekaligus orangtua bagi Oat. Sialnya, Ek harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ia harus mengikuti pengundian wajib militer—terpilih dalam wajib militer berarti juga harus berpisah dengan keluarganya.

Setiap laki-laki di Thailand, ketika sudah cukup umur, wajib mengikuti pengundian wajib militer. Setiap peserta wajib melalui seleksi fisik, lalu mengikuti undian mengambil kartu. Mereka yang mendapat kartu merah wajib masuk militer, sedangkan yang dapat kartu hitam lolos dari kewajiban itu.

Sayangnya, oleh beberapa pihak, ajang yang diniatkan sebagai bentuk pengabdian negara ini dimanfaatkan sebagai lahan korup dan perjudian. Dengan sejumlah sogokan, seorang anak laki-laki bisa terbebas dari kewajiban militer. Contohnya Junior, seorang anak mafia, dan Jai, kekasih Ek yang berasal dari kelas atas. Keduanya, berkat uang orangtua mereka, mendapatkan kartu hitam. Keberuntungan mereka tidak datang dari kemungkinan 50:50, tapi dari harta orangtuanya.

Di sisi lain, hidup Ek berubah setelah ia mendapat kartu merah dalam proses seleksi—tak terkecuali kehidupan romantisnya bersama Jai, maupun kehidupan bersama adik laki-lakinya yang sangat ia kasihi. Demi Oat, Ek terpaksa melakoni prostitusi, sebuah pekerjaan yang membuat orang-orang ia cintai patah hati. Alasannya sederhana saja: untuk mendapatkan uang, sebelum akhirnya ia menjalani wajib militer.

Thailand dan Kehilangan

How to Win at Checkers mengemas Thailand dalam dua bentuk: hubungan personal yang intim dan rezim yang dingin. Keduanya terhubung melalui sebuah ironi yang tak kunjung usai: perbedaan kelas. “Hubungan kalian tidak punya masa depan. Kalian punya dunia yang berbeda,” ucap Bibi kepada Ek. Tersirat jelas dalam relasi Ek dan Jai bahwa lolos dari polemik orientasi seksual, bukan berarti lolos dari polemik perbedaan kelas.

Thailand memang tidak membatasi orientasi seksual masyarakatnya. Tapi pengabaian negara terhadap kelakuan para pemilik modal, yang berpengaruh di berbagai sektor kehidupan masyarakat, jelas pahit juga. Ada ketidakadilan yang dibiarkan langgeng dan merasuk ke sendi-sendi kehidupan warga.

Konsekuensinya: rezim yang hanya memandang uang. Ini terlihat dari bagaimana surat kematian orangtua Ek sama sekali tidak digubris oleh penyelenggara seleksi wajib militer. Peristiwa itu juga kian menegaskan apa yang sang bibi katakan. Ek dan Jai memang hidup di dunia yang berbeda. Nyatanya, setelah seleksi militer berlangsung, mereka berdua pada akhirnya berpisah.

Terlepas dari hubungan Ek dan Jai, jangan lupakan juga dengan hubungan adik-kakak Ek dan Oat. Dibesarkan dalam keluarga yang tidak utuh, mereka sebenarnya sudah dibiasakan menerima kehilangan sejak awal. Namun, justru dari kehilangan-kehilangan tersebut, kedekatan emosi antara Ek dan Oat terbangun. Ini terlihat saat ketika Ek mengajarkan Oat naik motor atau ketika mentraktir Oat cheeseburger—yang sebelumnya hanya Oat bisa nikmati lewat layar televisi. Jangan lupakan juga adegan mereka bermain checkers (sejenis halma atau damdaman), dengan tutup botol sebagai bidaknya. Keakraban keduanya benar-benar meninggalkan kesan. Oat sama sekali tidak memandang buruk Ek, apapun itu yang kakaknya lakukan—dari menggunakan obat terlarang, kerja di kafe esek-esek, gay, dan akhirnya menjadi pria bayaran.

Kita memang tidak akan pernah terbiasa dan biasa saja menerima setiap kehilangan. Bahkan untuk orang yang telah berulang kali mengalami kehilangan seperti Oat sekalipun, perpisahan tetap saja menakutkan, terlebih lagi perpisahan yang tidak menyisakan kemungkinan untuk kembali: kematian. Dan itulah yang terjadi. Ek tutup usia.

Thailand dan Ketidakadilan

Secara personal, kematian kakaknya itu telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Walaupun hanya ditampilkan sedikit, nampak ambisi Oat untuk melepaskan diri dari kehidupan masa lalunya—dari menjual motor demi perbaikan ekonomi keluarganya, sampai berusaha mendapat kartu hitam dalam seleksi tahunan. Dengan mendapat kartu hitam, ia bisa pulang ke rumah, menjalani kehidupannya, dan lepas dari wajib militer.

Lebih luas lagi, How to Win at Checkers turut menyinggung ketidakadilan rezim di Thailand. Nampak dalam film bahwa kemenangan warga adalah terbebas dari wajib militer, yang artinya juga menjauh dari sistem yang negara ciptakan atas nama patriotisme. Seakan begitu wajar, mereka yang mendapat kartu hitam bersorak. Karena mau tak mau, menjalani hidup untuk negara adalah meninggalkan kehidupan yang awalnya untuk, misalnya, keluarga, kekasih, atau bahkan diri sendiri. Pertimbangkan juga kemungkinan mendapat penugasan di daerah-daerah yang mengancam nyawa, seperti tempat Ek bertugas. Dan sialnya, untuk menyelamatkan diri sendiri, butuh uang dan aparatus-aparatus korup—yang tidak tersedia bagi semua khalayak.

How to Win at Checkers tidak mengajarkan kita menang dam-daman, melainkan menang menghadapi kehidupan. Oat pun tidak saja menang dalam permainanan checkers dengan Ek. Tapi juga menang atas pertaruhan yang lebih besar: mendapatkan segalanya yang Ek tidak dapat penuhi di masa lalu. Kemenangannya pun tersirat dari terbangunannya dia di kamar gedung pencakar langit, yang mengesankan ia telah terangkat dan menjadi bagian dari kelas sosial atas.

Dalam How to Win at Checkers, Thailand yang penonton dapati bukanlah negara tujuan wisata. Thailand bukan sekadar candi-candi besar yang kental nilai relijius, bukan pula sekadar cinderamata gajah. Thailand yang penonton lihat adalah kolase kehilangan. Ek dan Oat atas orangtuanya, Ek atas kekasihnya, Jai atas kekasihnya, Oat atas kakaknya, serta warga atas negara yang adil.

How to Win at Checkers (Every Time) | 2015 | Durasi: 80 menit | Sutradara: Josh Kim | Penulis: Josh Kim, Rattawut Lapcharoensap | Produksi: Add Word Productions, Chris Lee Productions, Electric Eel Films | Negara: Thailand, Amerika Serikat, Indonesia | Pemain: Ingkarat Damrongsakkul, Toni Rakkaen, Thira Chutikul, Arthur Navarat, Natarat Lakha, Vatanya Thamdee, Anawat Patanawanichkul, Warattha Kaew-on

Tulisan ini merupakan bagian dari ulasan film-film yang tayang selama FILM, MUSIK, MAKAN yang diselenggarakan oleh Kolektif pada 2-3 April 2016 di GoetheHaus, Jakarta.