Gaby dan Lagunya: Angin Kencang Opportunisme Media

gaby-dan-lagunya_highlight

Gita: (muntah-muntah, wajahnya pucat)

Agnes: “Gita, kamu nggak kenapa-napa, kan?” (wajahnya sangat khawatir)

Gita: “Nggak kenapa-napa kok, Nes. Paling cuma masuk angin”.

Mereka berdua terdiam lama, Agnes menangkap gelagat tak baik dari tingkah sobatnya itu. Sayatan musik yang menakutkan mengiringi tatapan mereka yang saling curiga. Gita pasti tengah menyembunyikan sesuatu, sesuatu yang terkubur jauh dibelakang masa lalunya. Ah, seandainya saja setiap kesedihan dipisahkan dengan masa lalu, dan kalau saja masa lalu tak seburuk ini. Gita pasti bisa lebih bahagia. Musik semakin cepat dan menakutkan, string arrangement adu cepat mencapai puncak ketegangan. Lalu semua berhenti, tiba-tiba, berbahaya, menyeramkan.

Agnes: “Mau kuambilkan minyak angin?”

(Keluhan saya: kenapa harus pasang musik sangar seperti film Chinatown kalau cuma mau menawarkan minyak angin?)

Jangan salahkan kenapa film Indonesia di bioskop berkisar pada tema yang itu-itu saja, dan kualitas yang begitu-begitu saja. Secara konseptual, karakter film Indonesia secara umum masih berkutat pada apa yang disebut André Bazin sebagai Irréalisation: penjauhan film dari kenyataan. Irréalisation merujuk pada penyusunan film sebagai sesuatu yang tidak hidup dan tidak berasal dari kehidupan. Ia bukan kehidupan yang direkam, atau rekaman yang dihidupkan. Ia datang dari dunia yang sama sekali lain, dengan cara yang halus, ia menggunakan simbol-simbol linguistik kita untuk membodohi kita. Film-film semacam ini, menurut Bazin, adalah alien. Ia menjajah pikiran penonton.

Dialog diatas berasal dari film terbaru Nayato, Gaby dan Lagunya. Sebuah film yang terinspirasi dari lagu sember yang berseliweran meresahkan masyarakat belum lama ini. Tidak sepenuhnya meresahkan sih, sebab ternyata dibalik cercaan tajam atas kualitasnya, lagu ini ternyata dipuja banyak orang. Ia menjadi simbol kegalauan remaja yang baru saja ditinggal kekasihnya. Nada-nadanya yang anti-improvisasi terasa dekat ditelinga para pendengar muda, liriknya yang sendu dan mudah ditangkap membuatnya begitu tenar menggelora. Belum lagi misteri bahwa lagu tersebut digubah oleh seorang wanita muda yang tak sanggup menanggung beban hidupnya nan berat: ditinggal mati kekasihnya. Oh, sedihnya.

Kemasyhuran lagu Gaby (yang belakangan diklaim oleh band Caramel) diangkat oleh Nayato menjadi proyek teranyarnya. Pola produksi yang tak jauh beda dengan yang dilakukan David Fincher terhadap Facebook lewat The Social Network, atau pembelian hak cipta lagu “Keong Racun” oleh Charlie ST12. Seberapapun kadar opportunistik seseorang tak akan membuat penonton gusar manakala dieksekusi dengan baik. Khayalak tetap terhibur dan puas menonton The Social Network karena kedetilan dan cara pembuatannya yang terpuji. Dalam Gaby, harapan penonton akan interpretasi lagu yang baik menemui hambatan ketika mreka ternyata hanya dipaksa bernostalgia dengan gaya-gaya lama Nayato. Pengalamannya berkecimpung bertahun lamanya dalam dunia film tak kuasa menghilangkan mental-iklannya. Shot-per-shot di film dibuat begitu cerah, komposisi warna yang terlalu bagus, tapi tidak diimbangi dengan motivasi cerita yang kuat. Bila dianalisa shot-per-shot secara fotografis, kualitas gambar Gaby dan Lagunya telah mencapai taraf yang sangat memuaskan. Tapi ini bukan lomba fotografi, ini film yang tengah bercerita, dan film (lagi-lagi menurut Bazin) bukan hanya menyangkut yang visual, melainkan juga yang aural. Gaby dan Lagunya, sayangnya tak memiliki komponen aural sama sekali. Bila ingin menonton gambar, kita akan puas. Tapi bila ingin menonton film, sila tengok film di studio sebelah. Percaya.

Lagu “Tinggal Kenangan” harus diletakkan sebagai puncak emosi film, ia akan mempertemukan fantasi penonton dengan nostalgia mereka terhadap lagu tersebut. Naasnya, yang ada dibenak si pembuat film tampaknya adalah bagaimana penonton bisa sampai kepuncak emosi tanpa pembuat film harus berpayah-payah meneliti fakta lapangan. Solusinya gampang, karang saja cerita drama yang akrab. Sehingga tersebutlah tokoh Gaby, gadis manis pemilik kedai kopi yang disuatu sore penghujan berkenalan dengan Popo, anak band. Popo adalah representasi anak band yang paling luas dikenal khalayak Indonesia. Seperti Jim Morrisson? Seperti Axl Roses? Tentu tidak, Popo adalah Charlie-ST12-versi-mendesah. Setiap kalimatnya diakhiri dengan “Hhhhh” panjang. Jadi kalau ia mau ke toilet, ia akan mendesah “Akuhhhh mauhhhh kehhh toilethhh duluhhh, kebelethhh, Mmhhhh”. Drama yang menggiring penonton adalah kisah asmara mereka berdua. Dan tentunya HARUS berakhir tragis, karena lagunya sendiri adalah refleksi cinta yang tragis.

Kesedihan masa lalu tak dapat disampaikan Nayato dengan baik, trauma keluarga Popo karena ditinggal sang ayah hingga membuat ibunya sakit jiwa diceritakan lewat flashback dengan kesedihan yang sama dengan yang dirasakan Popo sekarang, tak ada celah untuk rentang waktu mengambil diri. Gaby dan Lagunya menafikan bahwa selang waktu berlalu berpengaruh terhadap kesedihan. Gaby dan Lagunya adalah mimpi absurd, tentu karena ia bukan hidup yang direkam atau rekaman yang dihidupkan, ia bukan manusia yang difilmkan, ia adalah fantasi yang menipu. Ia membawa penonton lari dari kehidupannya sendiri. Menurut Bazin, film-film semacam Gaby dan Lagunya, telah mengkhianati hakikat sinema sebab ia tak berangkat dari realita, ia hanya berisi manusia-manusia tanpa logika.

Oh ya, bagi yang sudah menonton filmnya, diceritakan bahwa ayah Popo pergi meninggalkannya, dan ibunya menjadi gila. Saya tidak habis pikir darimana mereka dapat uang sehingga Popo masih bisa ngeband, dan rumah mereka masih tetap bagus? mental pemalas seperti itu yang hendak ditularkan film ini pada penonton?

Hal lain yang membuat saya kecewa adalah pada bagaimana Gaby dan Lagunya mengkastakan musik: sebagai film drama-musikal-tragis, film ini terhitung banyak berkontemplasi dengan musik (meskipun suara gitar sering tak sama dengan chord yang dimainkan di layar. Di layar chord-nya sudah pindah, tapi bunyinya tidak berubah. Ah, siapa yang peduli, kan mereka cuma dibayar). Di dalam film, seorang produser musik dengan tegas mengatakan “Kalau lagunya bervokal datar seperti ini, saya lebih suka memproduseri dangdut koplo!”. Hati saya yang lokal ini bagai diiris sembilu mendengarnya, sebagus apa sih musik band mereka sampai harus merendahkan musik lain? Selama ini saya kira musik adalah seni yang bebas, tak ada kasta, tiba-tiba film Gaby dan Lagunya datang dan menyuarakan fasisme selera. Kasihan sekali nasibmu, wahai dangdut koplo, teman-temanmu tengah sibuk merendahkanmu. Sampai disini Gaby dan Lagunya telah mengkhianati saya dua kali.

Dengan segenap kerendahan hati, harus ditegaskan bahwa Gaby dan Lagunya belum pantas disebut sebagai film berkualitas, ia (hanya) hadir sebagai contoh terbaik bagaimana pelaku bisnis memanfaatkan opportunisme media untuk menambah isi kantong. Di sisi kualitas, lihatlah bagaimana high-angle, low-angle, dan manuver lighting dipakai secara serabutan tanpa konsep naratif-psikologis yang jelas. Lihatlah bagaimana setiap adegan musikal ditampilkan tidak lewat visualisasi filmis melainkan lebih menyerupai video klip: seperti ada kipas angin didepan rambut vokalis sehingga rambutnya senantiasa berkibar-kibar. Alih-alih menambah keanggunan, hal itu justru akan membuat penonton merasa dibohongi, dan jangan salah, adegan-adegan pretensius semacam ini justru akan mendidik penonton dan suatu saat, mereka sudah tak lagi bisa dibohongi.

Ambiguitas lain yang bisa terdeteksi adalah adanya semacam kebuntuan dalam membagi referensi dari film ini kepada penonton. Di sekujur film, tersebar simbol-simbol kematangan referensi yang dimiliki si pembuat film, bertebaran nama-nama band dan film berkualitas: Radiohead, Sigur Ros, film Last Days karya Gus Van Sant, dan poster film jenius Amelie. Lewat simbolisasi macam ini, pembuat film pastinya hendak mengatakan bahwa referensi mereka telah sampai pada film-band itu dan menguasainya, lantas kenapa Gaby dan Lagunya terlalu pelit untuk menarik iktibar dari referensi-referensi seapik itu kepada penonton? Kenapa treatment filmnya tak pernah berkembang lebih dari sekedar over-romanticized shotnya? Kenapa dialognya begitu rangah? Kenapa konsepnya begitu abu-abu? Apakah tumpukan referensi itu cuma buat sekedar pamer? Lantas penonton dapat apa?

Di akhir film, Gaby dan Lagunya telah mengkhianati saya berkali-kali.

Gaby dan Lagunya | 2010 | Sutradara: Nayato Fio Nuala | Negara: Indonesia | Pemain: Karina Nadila, Guntur Triyoga, Leylarey Lesesne, Rendy Kjaernett, Iqbal Azhari

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (3)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend