Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi: Minimnya Dunia Sophie

Seorang dosen mata kuliah Psikologi Kepribadian pernah berkata bahwa jati diri adalah “sesuatu yang kita tinggalkan di kamar mandi”. Tentu bukan berarti jati diri sama dengan sabun atau pasta gigi. Hanya saja, di dunia yang sifatnya amat sosial, kamar mandi adalah tempat paling privat yang memungkinkan seseorang menjadi dirinya sendiri.

Di kamar mandi kita dapat melakukan apa pun, termasuk menyenandungkan lagu favorit kita. Dunia boleh berasumsi bahwa kita, misalnya, adalah penggemar musik jazz. Tapi gayung atau shower di kamar mandi tahu betul berapa kali kita menyanyikan lagu-lagu Rhoma Irama.

Kamar mandi, sebagai wilayah yang amat privat, seharusnya bebas dari campur tangan pihak luar. Tapi film Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (2019) garapan John de Rantau menggoyang anggapan tersebut. Film yang diangkat dari cerpen Seno Gumira Ajidarma itu menggambarkan bagaimana aktivitas personal bisa menjadi masalah sosial. Menariknya, yang mendorong dibuatnya peraturan itu adalah urusan yang tak kalah privatnya: hubungan suami-istri.

Alkisah, Sophie (Elvira Devinamira) tinggal sementara di permukiman padat penduduk di Jakarta untuk melakukan penelitian. Sophie digambarkan begitu sopan; ia tak segan menyapa ibu-ibu yang berpapasan dengannya di gang. Namun keramah-tamahan itu tidak berarti, karena laki-laki di kampung itu telanjur kesengsem kepada Sophie.

Para lelaki kesengsem karena tenggelam oleh rutinitas mengintip dan menguping aktivitas Sophie saat mandi. Dampaknya, mereka jadi kehilangan hasrat kepada istri mereka. Para istri pun resah dan mendesak Pak RT (Mathias Muchus) untuk segera menindak Sophie.

Menyanyilah Sebelum Menyanyi Itu Dilarang

Sejauh yang saya pahami, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi versi cerpen lebih menyasar pada permasalahan sensor. Sensor sendiri sudah jadi persoalan klasik, karena selalu saja ada orang (atau pembuat kebijakan) yang ingin mengontrol apa yang tidak bisa dikontrol: proses mental seseorang saat menerima informasi.

Naifnya mekanisme sensor ini terjelaskan secara paripurna dalam bagian akhir Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi. Digambarkan bahwa Sophie sudah pindah tempat, tapi imajinasi para lelaki tetap menetap. Tampak kemudian, setidaknya bagi saya, betapa mekanisme sensor sedang dikritik habis-habisan di sini.

Nyatanya, sensor memang tidak seampuh apa yang dibayangkan oleh para pembuat kebijakan. Dalam esai Menggerayangi Aoi: Selewat LSF dan Aktris Dewasa Asing dalam Film Horor Indonesia, misalnya, Makbul Mubarak berkata bahwa sensor tidak bisa menjangkau isi kepala orang. Sensor bisa mengatur bagaimana Sasha Grey tampak di layar, tapi pun begitu, penonton tetap akan datang, bukan demi ketelanjangan Sasha Grey, “melainkan [demi] image-image yang berasal dari film-film terdahulunya.”

Cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi mungkin tidak muncul untuk merespons kiprah bintang porno di perfilman Indonesia. Dugaan saya, cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi muncul lebih untuk mengkritik era Orde Baru yang gemar menertibkan, “membina”, dan mengendalikan semua informasi yang beredar di masyarakat.

Bila memang demikian, cerpen tersebut boleh jadi sejalan dengan karya Seno Gumira lainnya, semisal Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (1997). Atau bahkan mungkin sejalan pula dengan Warkop, yang kerap mengkritik secara subtil lewat humor, dan memiliki semboyan: “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”.

Sebagaimana Seno Gumira dan Warkop, para pelaku seni masa sekarang tentu juga merespons zaman yang dihidupinya. Karya adaptasi bukanlah perkecualian. Maka dari itu, menjadi suatu hal yang menarik ketika Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi seakan lebih menyasar pada persoalan “prasangka”.

“Prasangka” mungkin lebih lawas daripada sensor. Namun, mengacu pada berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini, masalah prasangka seakan kembali relevan untuk dibicarakan. Lewat tokoh Sophie—yang mengerjakan tesisnya—tersampaikanlah komentar terhadap aksi-aksi kerumunan yang diselenggarakan untuk menyingkirkan orang yang dianggap meresahkan.

Penyampaiannya, yang diselubungi oleh pretensi ilmiah, memang tidak jernih. Buku Psikologi Prasangka Orang Indonesia yang tampak di layar juga terasa seperti tempelan—yang hanya dipakai karena di judulnya ada kata “prasangka”, bukan karena isinya sejalan dengan gagasan film. Tapi, terlepas dari itu semua, tidaklah sulit untuk melihat maksud film sebagai kritik terhadap aksi main hakim beramai-ramai.

Tak Ada Dunia Sophie

Dalam Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi versi film, “warga” diwakili oleh banyak keluarga—seingat saya ada lebih dari lima. Penggambarannya begitu beragam, baik dari segi etnis, profesi, maupun kondisi finansialnya. Selain itu, para pemerannya pun bukan orang sembarangan—kebanyakan dari mereka adalah “orang lama”, yang seakan dihadirkan untuk membuat karakter-karakter warga dalam film jadi lebih hidup.

Pendeknya, dalam Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi versi John de Rantau, kita bisa melihat “warga-warga” yang memiliki identitas dan latar belakang, bukan sekadar entitas tunggal tak bernama, sebagaimana yang diceritakan dalam versi cerpen.

Fokus John de Rantau menggambarkan warga—termasuk bagian long take di awal film—adalah suatu hal yang patut diapresiasi. Lewat kecermatannya itu, John de Rantau berpotensi membuat para penonton berempati kepada warga. Tapi, sayang, potensi itu hanya berakhir sebagai potensi, karena korban sebenarnya dalam Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi adalah Sophie—ia tidak diperlakukan secara adil.

Memang betul, para istri dalam film juga adalah korban—dari kebiasaan mesum suami mereka. Namun, dari seluruh permasalahan, sebetulnya yang paling dirugikan dalam cerita adalah Sophie. Sophie bukan saja dilecehkan dan direnggut kebebasannya, melainkan juga dijadikan komoditas oleh warga setempat.

Mungkin kerugian Sophie tidak terasa, karena privilesenya sebagai peneliti ataupun mahasiswa kaya. Dilihat dari sudut tertentu, Sophie juga bisa dikatakan tengah menjadikan para warga objek (penelitian). Tapi apakah itu lantas membuat Sophie kebal dan tak layak disebut sebagai korban?

Dalam narasi Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, yang sesungguhnya juga dekat dengan masalah seksualitas dan gender, penting sebetulnya untuk menempatkan Sophie sebagai perempuan—bukan peneliti. Sebagai perempuan, Sophie adalah korban aksi pelecehan para lelaki mesum.

Dengan begitu, bila pun ada yang namanya solidaritas perempuan, mungkin akan lebih kuat jika para istri ramai-ramai melindungi Sophie, dan meminta Pak RT untuk menindak serta menghukum semua orang yang terlibat dalam voyeursime komersial di balik tembok kamar mandi.

Namun, potensi narasi yang lebih ramah perempuan tersebut seakan tidak dilihat oleh John de Rantau. Ia malah lebih banyak menampilkan adegan Sophie mandi, beserta wajah-wajah horny para lelaki. Sayangnya lagi, adegan tak perlu itu adalah pilihan John de Rantau dan tim Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi versi film—bukan sesuatu yang ada dalam cerpen.

Setahu saya, dalam versi cerpen, tidak ada informasi soal lubang yang bisa jadi celah untuk mengintip. Semua murni soal suara. Dan mengingat stimulus yang ada hanya suara, maka persoalan imajinasi terasa begitu kuat—sebaliknya, itu semua menjadi lemah diberi visual, karena dengan begitu urusannya bukan lagi imajinasi, melainkan memori atau ingatan.

Bisa dipahami bahwa Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, sebagai film, butuh gambar yang mempertegas efek suara Sophie yang sedang mandi. Tapi harusnya ada cara lain, yang tidak mengglorifikasi pelaku pelecehan. Mimpi siang bolong Pak RT dan bayang-bayang Sophie di kepala tokoh lain sebetulnya sudah cukup.

Singkatnya, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi lebih banyak memberi ruang kepada para pelaku—baik ibu-ibu yang mempersekusi, maupun bapak-bapak yang melecehkan—ketimbang korban.

Satu-satunya tempat di mana Sophie dapat bersuara hanyalah saat bersama Senja (David John Schaap). Tapi itu pun masih teramat kurang. Sophie memang menyatakan tidak mau dijadikan “objek” saat bersama Senja. Namun keluhan itu hanya mampir dalam percakapan; keluhan itu tidak Sophie suarakan kepada Pak RT—atau warga sekitar—sebagai respons terhadap apa yang Sophie lalui.

Selain itu, gagasan di balik kisah romansa Sophie dengan Senja—yang begitu klise dan dipaksakan—kalau diperlebar juga hanya menambah masalah baru seputar “objektifikasi” dalam konteks seni. Ketika Senja dan Sophie berbaikan, ada kesan bahwa Sophie memaknai Senja sebagai pelaku objektifikasi yang berbeda, karena Senja adalah seniman atau sastrawan (yang mencintainya).

Di satu sisi, itu penutup yang menarik, karena menjangkau luasnya nuansa kata “objektifikasi”. Tapi, di sisi lain, muncul sejumlah pertanyaan. Apa batasan sesuatu bisa disebut seni atau sastra? Objektifikasi macam apa yang ada dalam konteks itu? Tak ada informasi yang cukup untuk diskursus tersebut; yang ada justru wilayah kabur yang menjadi pembenaran untuk objektifikasi perempuan.

John de Rantau sesungguhnya sudah membuka banyak pintu gagasan dari satu cerpen karya Seno Gumira. Pintu soal mobokrasi, yang ditawarkannya lewat aksi-aksi para istri, menjadi fokus yang kuat untuk dilihat pada zaman sekarang. Akan tetapi, lantaran pilihan fokus itu dan perspektifnya yang tidak ramah perempuan, Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi justru menambah buruk dunia Sophie yang hidup sebagai korban.

Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi | 2019 | Sutradara: John de Rantau | Penulis: Seno Gumira Ajidarma, John de Rantau | Produksi: Himaya Pictures, J-DeR Syndicate | Negara: Indonesia | Pemeran: Elvira Devinamira, Mathias Muchus, David John Schaap, Yayu AW Unru, Ricky Malau, Totos Rasiti, Emmie Lemu, Eno TB, Maryam Supraba

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (9)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend