Eccentricities: De Oliveira Sepertinya Belum Kenal Lady Gaga

eccentricities_highlight

Eccentricities of a Blonde-haired Girl. Yang eksentrik bukan gadisnya, tetapi sutradaranya. Manoel de Oliveira akan berusia 102 tahun bulan Desember 2010 ini. Ia sudah membuat film selama lebih dari tujuh puluh tahun. Pada Eccentricities jelas sekali terdapat signature Oliveira, kamera yang jarang bergerak mencerminkan usia tua si pembuat film, demikian juga dengan tempo yang lambat dan raut wajah pemain yang statis.

Eccentricities adalah film pendek yang diangkat dari cerita pendek. Tidak seperti The Curious Case of Benjamin Button yang berupa film super-panjang yang diangkat dari cerita pendek. Macario adalah akuntan di toko milik pamannya, suatu hari, ia melihat wanita menawan diambang jendela rumah seberang jalan, lengkap dengan rambut pirang dan kipas dari tiongkok.

Beberapa bagian mengingatkan saya pada Vertigo, That Obscure Object of Desire, dan terutama sekali Rear Window. Dalam Rear Window, James Stewart berada pada posisi pengamat sehingga kegiatan para tetangganya ia konstruksi secara searah. Dalam Eccentricities, pandangan asmara Macario pada Luisa diambang jendela adalah interaksi bolak-balik (resiprokal) antar dua karakter. Cinta Macario pada Luisa adalah cinta yang berasal dari jendela turun ke hati. Pada scene berikutnya, kamera kerap diam dibelakang Luisa yang sedang menatap kearah jendela Macario. Kamera membuat otoritas interpersonal mereka menjadi sejajar.

Hanya dalam durasi 60 menit, Oliveira berupaya menuntun pemirsa mengikuti Macario bercerita secara kilas-balik pada seorang perempuan asing di kereta, darinya kita ketahui bahwa kisah Macario adalah seuntai tragedi yang menyedihkan, sesuatu yang sempat saya lupakan sebab keasyikan dibuai romansa Macario dan Luisa. Romansa dengan sedikit bicara, dengan banyak sekali warna hijau tua. Oliveira tetap mengandalkan kekuatannya pada pilihan estetis yang ketat dalam merekam tingkah-polah penduduk urban.

Eccentricities mencoba menerjemahkan kembali tali panjang yang merunut di bawah alam sadar peradaban Eropa, tentang tragedi klasik yang tersendat oleh lingkungan (Contoh: Romeo and Juliet) lalu kemudian mempertautkannya dengan naturalisme yang menonjol. Oliveira mengambil lanskap kota dari tempat yang sama berkali-kali: siang-sore-malam. Mungkin juga ada hubungannya dengan karya-karya Zola yang naturalistik. Kritikus Jeff Reichart sekali waktu pernah mengidentifikasi bahwa ada kemiripan visi antara Manoel De Oliveira dengan Jacques Rivette dan Raul Ruiz: mereka cenderung mengabadikan repihan peradaban Barat lalu menyeberangkannya pada kemerosotan bentuk ideal. Anda tentu paham dengan apa yang saya maksud. Paham? Tidak Paham? Ah jangan khawatir, saya sendiri juga tidak paham.

Kekeliruan dalam pemilihan pemain saya kira terjadi pada karakter Luisa (Catarina Wallenstein). Luisa memang cantik, malah terlalu cantik, tapi ia tidak eksentrik seperti yang dijanjikan oleh judulnya. Apa yang eksentrik dari seorang gadis pirang berpipi tembam dengan kipas tiongkok? Mungkin harusnya film ini berjudul “The Beauty of a Blonde Haired Girl”, tapi nanti kesannya akan mengesampingkan para adinda yang berambut bukan-pirang. Seharusnya Oliveira punya alasan khusus untuk pemilihan karakter ini, entah apa itu. Kalau tidak, pastilah ia akan mencari gadis pirang yang lebih eksentrik. Lady Gaga misalnya?

Eccentricites of a Blonde-Haired Girl | 2009 | Sutradara : Manoel De Oliveira | Negara : Portugal | Pemain : Ricardo Trepa, Catarina Wallenstein, Diogo Doria, Julia Buisel, Leonor Silveira

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend