A Copy of My Mind: Jakarta yang Tidak Pernah Sederhana

a-copy-of-my-mind_hlgh

Jakarta adalah ibukota yang riuh, terlebih lagi pada 2014. Pemilu presiden digelar untuk kali ketiga. Sontak, berbagai kepentingan hadir di sisi-sisi kota Jakarta, mulai dari jalan raya yang dipakai untuk kampanye, hingga ujung jalan sempit tempat peserta kampanye menagih bayarannya. Di antara hiruk-pikuk tersebut, Sari (Tara Basro), pegawai salon, dan Alek (Chicco Jericho), penerjemah teks film bajakan, enggan ikut serta. Mereka lebih memilih untuk menikmati kegemaran mereka: jatuh cinta dan menonton film.

A Copy of My Mind karya Joko Anwar mencoba menggali banyak isu—dari percintaan Sari dan Alek, perdagangan ilegal film bajakan, pemilihan umum presiden, dan praktik korupsi pejabat negara. Sayangnya, memperbanyak isu terkadang membuat cerita seakan tidak tuntas dan tidak memiliki fokus. Nasib protagonis berubah begitu cepat, tanpa tutur yang benar-benar utuh—hanya latar ibukota yang kemudian secara kuat merangkai isu-isu yang berserakan tersebut. Jakarta, dengan berbagai ciri khas dan permasalahannya, hadir bak sebuah pawai tak berkesudahan dalam A Copy of My Mind.

Joko Anwar menampilkan ragam lapisan kota Jakarta secara apik. Kehidupan urban khas ibukota terungkapkan melalui detail-detail sederhana nan apa adanya, namun terasa tepat guna melengkapi latar waktu dan tempat. Misalnya, beberapa dialog yang tidak terlalu terdengar akibat polusi suara—bising suara mesin motor dan mobil, serta klakson kendaraan pribadi yang tentu akrab di telinga orang Jakarta. Melalui distorsi suara tersebut, Jakarta benar-benar menyusup ke dalam kehidupan para protagonis.

Nyatanya, suara memang hal yang vital dalam A Copy of My Mind. Ia tak hanya menjadi penjelas latar tempat, tapi juga menjadi penanda waktu dan konteks sosial. Di kos-kosan Alek, Sari bangun kesiangan dan menggerutu karena tidak ada suara azan yang biasanya menjadi alarm untuk bangun di pagi hari. Sementara hal tersebut adalah wajar, mengingat Alek tinggal di kawasan pecinan—sentra lapak film bajakan. Suara azan, sebagai penanda pagi, tergantikan oleh suara pedagang roti keliling.

Secara visual, Joko Anwar dan kawan-kawan kerap menyorot percakapan antara tokoh sampingan sebagai fokus adegan sekaligus sumber suara. Misalnya, ketika Sari dan teman-teman satu kosnya sedang mengantri untuk mandi, atau ketika pelanggan di salon saling berkomentar satu sama lain. Dalam adegan-adegan tersebut, obrolan mereka tak sekadar lewat. Obrolan (dan tingkah) mereka turut mewakili Jakarta, sebagai gambaran kelas sosial dan keseharian penduduknya.

Karena pendekatannya, A Copy of My Mind tak hanya menyinggung dimensi ruang dan waktu, tapi juga dimensi sosial dari Jakarta. Sari, selaku tokoh utama, bermain-main dengan berbagai peran yang tersedia baginya di ibukota. Di lapak DVD bajakan, ia menjadi pelanggan yang getol mengeluh. Ia merasa punya hak dan kuasa untuk memaki, karena sebagai konsumen ia telah membayar DVD bajakan tersebut. Dalam kesempatan lain, Sari bersikap pasif kepada orang-orang yang telah membayar jasanya. Ia tak ubahnya pekerja jasa yang baru bicara jika pelanggannya mengajak bicara duluan.

Celah antara kelas sosial inilah yang menjadi taman bermain A Copy of My Mind. Ini kian kentara ketika Sari, yang lekat dengan imajiniasi kemapanannya, memutuskan untuk pindah tempat kerja. Sari yakin dapat langsung bekerja di salon yang baru karena perawatannya sama saja—hanya perlu mempelajari beberapa peralatan baru, yang baginya juga mudah untuk dipelajari. Namun, Bandi (Paul Agusta), manajer salon yang baru, bersikeras menegaskan bahwa salon mereka berbeda dengan salon Yelo—tempat Sari berkerja dahulu. “Pelanggan di sini agak berbeda,” tandas Bandi. Maksudnya, sebagaimana yang terungkap seiring berjalannya cerita, adalah perbedaan derajat sosial para pelanggannya.

Dalam pergelaran antarkelas itu juga, para tokoh dalam A Copy of My Mind keluar dari dikotomi baik dan jahat. Sepanjang film identik dengan pembajakan film, judi, dan balap liar, Alek ternyata adalah seorang pria yang merawat ibu kosnya. Penculik Alek juga tidak sesederhana orang jahat. Setelah menyiksa Alek, ia berkata bahwa uang yang ia terima dari pekerjaan akan ia kumpulkan guna membeli halaman yang luas untuk anak dan istrinya—suatu hal yang amat mahal di Jakarta. Tindak ilegal yang Alek dan si penculik lakukan tidak lebih dari konsekuensi beratnya persaingan hidup di Jakarta.

Tekanan itulah yang tidak menghampiri orang-orang dari kelas atas, khususnya para pejabat seperti Bu Mirna (Maera Panigoro). Nyatanya, Bu Mirna dan Sari memiliki kesamaan: keduanya adalah pencuri. Sari mencuri DVD dari kamar Mirna, sedangkan Bu Mirna mengambil hak warga negara. Bedanya adalah hukuman yang mereka terima—atau setidaknya cara mereka menjalani hukuman. Bu Mirna masih bisa menikmati privelese tersendiri, hingga ke dalam rutan sekalipun, sementara Sari hanya bisa berpegang pada kenangannya akan Alek.

A Copy of My Mind tidak menyuguhkan berbagai riasan. Film hadir apa adanya, sederhana, namun tetap terasa indah. Jutaan manusia hidup berhimpitan dalam satu kota yang sama, tapi tidak pernah benar-benar rekat, terbatasi sekat-sekat kelas yang tidak pernah adil dari sananya. Untungnya, A Copy of My Mind tidak lantas menjebak para tokoh ke dalam dikotomi baik dan buruk. Mereka tetap kompleks, seperti halnya kota tempat mereka tinggal: Jakarta.

A Copy of My Mind | 2015 | Durasi: 118 menit | Sutradara: Joko Anwar | Penulis: Joko Anwar | Produksi: Lo-Fi Flicks, CJ Entertainment | Negara: Indonesia | Pemeran: Tara Basro, Chicco Jerikho, Maera Panigoro, Paul Agusta, Ario Bayu, Tony Setiaji, Ronny P Tjandra

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (15)
  • Boleh juga (6)
  • Biasa saja (5)
  • Lupakan (3)
Share

Send this to a friend