The Secret In Their Eyes: Inspeksi Kenangan Lewat Banyak Ingatan

secret-in-their-eyes_highlight

Ia adalah lakon romansa-misteri berbasis memori. The Secret in Their Eyes hanya berlangsung dalam waktu yang singkat, seorang pensiunan pegawai pengadilan menulis novel misteri. setelah usai, ia berkeliling meminta kolega-koleganya berpendapat tentang novel tersebut. Yang bikin filmnya lama sampai dua jam adalah, ternyata novel itu berbentuk memoar sehingga para kolega ini menyimpan memori sendiri lewat novel itu, mereka adalah karakter disana.

Dibuka oleh twist yang menyengat, kita diarahkan pada latar birokrasi Argentina dalam kehidupannya yang paling biasa. Gurauan segar mengalir deras di tigapuluh menit pertama. Pembukaan konfliknya yang mulai menebar gangguan, alih-alih memanfaatkan latar birokrasi sebagai pembangun diskursus kritis, Campanella memilih motivasi eksistensial bagi tokoh utamanya, Benjamin Esposito, sebagai pintu masuk pada konflik. Motivasi eksistensial tak ubahnya film-film yang banyak itu, misalnya: seorang detektif menyelidiki sebuah kasus pembunuhan, kasus itu sangat sulit, tapi kemudian detektif menjadi semakin bersemengat ketika menemukan bukti bahwa pembunuh itu juga pernah memperkosa salah seorang anggota keluarga si detektif. Masalah kolektif tiba-tiba menohok masuk menjadi masalah pribadi. Memang pilihan bebas bagi Campanella, satu-satunya yang ia khianati hanyalah ekspektasi saya.

Tersenyum saya dibuatnya ketika karakter Irene diperkenalkan, ia lulusan Cornell University, tapi teman sejawat sering menganggapnya alumni Harvard; sama saja, dan tidak penting. Campanella memberi sindiran segar bahwa di Argentina, Amerika Serikat bisa juga menjadi wilayah periferal yang sama sekali tak dikenali; tak ada bedanya, dan tidak penting. Irene juga diceritakan sangat struktural dan tak fleksibel akibat pendidikannya di Cornell sana. Atau Harvard?; tak ada bedanya, dan tidak penting.

Sindiran dalam siasat naratif itu tumpah ke lantai, ketika hampir keseluruhan cerita ternyata diciduk dari resep Hollywood. Campanella menyindir Amerika Serikat sedikit tapi meniru Hollywood sangat banyak, agak memalukan menurut saya.

Ini dia premis konfliknya, diucapkan dengan tegas oleh karakter-pelawak Jose Sandoval , “A guy can change anything, his face, his home, his familiy, his girlfriend, his religion, his god. but there’s one thing he can’t change, he can’t change his passion”. Karakter pelawak sangat sering ditemui dalam film, biasanya kan tokoh utamanya serius, tapi biar penonton tidak bosan, ada karakter yang sering melucu; Jose Sandoval adalah karakter semacam ini.

Asiknya, The Secret in their Eyes diperlakukan dengan sangat cerdas, ia menggali ketidak-tercukupan realitas sehingga setiap orang harus menambang memori mereka sendiri hanya untuk bercermin. Lewat cermin itu, bila wajah mereka ternyata buruk-rupa, maka setiap orang mulai memberi makna baru pada kenangan masing-masing. Siklus konseptual yang cerdas, dimana Campanella secara cermat menegaskan bahwa baik kenyataan dan kenangan: dua-duanya bisa-selalu-salah-dan-berubah. Konsep itu ia lukiskan lewat puluhan adegan kilas-balik yang meyakinkan sebelum kemudian merubuhkannya kembali. Benjamin, atau Irene, atau Jose, atau  Morales, akan menghadap ke penonton dan memberi isyarat “adegan kilas balik itu mungkin benar, tapi bila dilihat lagi, aku tak yakin ia benar”.

Ada dua hal yang menurut saya menyebabkan The Secret in their Eyes menang di Academy Awards tahun 2010. Pertama, ia mengisahkan dongeng dalam “suara” orang Amerika Serikat, audiens di Amerika Serikat sangat familiar dengan pendekatan cerita semacam ini. Bandingkan dengan kompetitornya, The White Ribbon (Michael Haneke, Jerman), misalnya, yang menggali misteri pembunuhan dengan cara yang sangat asing. Penonton tak terbiasa.

Kedua, memang The Secret in their Eyes sangat baik dalam hal teknis. Penggunaan kamera-panggul (Hand-Held Camera) yang brilian dalam adegan kejar mengejar di Stadion Sepakbola mengingatkan saya pada sebuah long-take kamera-panggul yang dibuat oleh sinematografer Emmanuel Lubezki dalam Children of Men (2006). Saya juga angkat-topi pada penggunaan rack-focus yang cerdas, hal ini perlu dicontoh. Terdapat dua kali adegan ketika Benjamin akan berpisah dengan Irene di stasiun kereta. Adegan repetitif ini persis sama kecuali pada penggunaan rack-focusnya. Adegan pertama berfokus pada Irene dan menyamarkan Benjamin, sebab yang mengkonsumsi kenangan itu adalah Irene. Sebaliknya, adegan kedua berfokus pada Benjamin dan mengelamkan Irene, sebab kenangan tersebut tengah diputar dikepala Benjamin.

Alih-alih mencari penyelesaian cerita agar penonton bisa keluar bioskop dengan lega, Campanella justru membawa ceritanya menanjak dan bercabang lalu meliuk masuk kedalam daerah gelap yang tak terjelaskan. Saya mendengar banyak keluhan tentang ending film ini yang dinilai menyiksa penonton. Tapi buat saya, sedari awal memang Campanella sudah selalu bertanya, ia tak mau kita mengerti filmnya sepenuhnya. Tak ada hak bagi kita untuk mencampuri urusan para karakter. Seperti ujar Morales berulang kali, “si es mi vida, no la suya”, “ini hidupku, bukan milikmu”.

Pengalaman menonton The Secret in their Eyes adalah pengalaman menontoni orang-orang yang sedang sibuk menghakimi kenangan mereka sendiri. Semoga kita bisa kembali mengenang memori kita dengan adil. sebab disana, tak ada yang menghalangi kita untuk menyalahkan orang, atau diri sendiri. Memori adalah zona bebas dimana semua adalah kenyataan yang berwajah fiksi sekaligus fiksi yang berasal dari kenyataan. Kenanglah pesan si duda Morales “Choose carefully, memory are all we end up with. at least pick the nice ones”.

Pick the nice ones.

The Secret in Their Eyes | 2009 | Sutradara: Juan Jose Campanella | Negara: Argentina | Pemain: Ricardo Darin, Soledad Villamil, Guillermo Francella, Javier Godino, Pablo Rago

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend