Jalanan: Balada Marjinal di Ibukota

jalanan_hlgh

Jalanan dibuka dengan pemandangan lanskap Jakarta menjelang senja, beserta data statistik yang menunjukkan jumlah populasi penduduknya. Angka-angka itu kemudian mengerucut ke jumlah pengamen yang malang melintang di jantung ibukota. Tercatat 7000 jiwa. Tiga di antaranya terpilih untuk membintangi film dokumenter berdurasi lebih dari 100 menit ini. Adalah Boni, Ho, dan Titi, musisi jalanan yang ‘lolos seleksi’ sutradara Daniel Ziv.

Pengenalan ketiga tokoh berlangsung ringkas. Dalam keringkasan itu, penonton diberikan asosiasi-asosiasi tertentu yang lekat pada figur tokoh. Sebut saja Boni yang bermukim di bawah kolong jembatan sambil bertahan hidup dengan air bocoran pipa drainase PAM. Boni mengasosiasikan dirinya sebagai manusia kardus, sebagai metafor akan sifat yang lekang dan acapkali waswas karena huniannya mudah ‘lapuk’. Hebatnya, tanpa kemampuan baca tulis yang memadai, Boni dapat dikatakan yang paling handal menggubah lagu-lagu berbalut kalimat puitis.

Lalu kamera berpaling ke Ho. Pemuda gimbal ceplas ceplos yang sepintas terlihat impulsif. Ho dengan mudah menarik simpati penonton berkat kalimat-kalimatnya yang menohok, “gue cinta sama Indonesia tapi nggak tahu Indonesia cinta sama gue apa nggak”, atau “cinta itu cuma pelumas nafsu kok”. Cara Ho bertutur kata mencerminkan ritus kesehariannya: lugas tanpa basa basi. Asosiasinya? Liar.

Terakhir adalah Titi yang dengan naifnya mengaku sering mendapat rejeki lebih apabila membawakan lagu bertema religi di bus kota (terutama dari penumpang perempuan berjilbab). Sebagai satu-satunya perempuan dalam dokumenter ini, Titi tidak perlu berlama-lama disorot kamera untuk mendapatkan simpati penonton. Ada semacam anomali pada potret kaum perempuan di tengah konvensi masyarakat patriarki, di satu sisi diperlakukan semena-mena (Titi diceraikan sang suami tanpa kejelasan hak asuh atas anaknya), di sisi lain dipuji sebagai wanita tangguh yang mampu bertahan dan survive dari hegemoni laki-laki (Titi merelakan seperempat penghasilannya diambil sang suami untuk jatah rokok dan makanan ikan).

Lewat ketiga musisi pengembara inilah, Jalanan menampilkan keseharian komune pengamen Jakarta. Pertanyaannya kemudian: mengapa Boni, Ho, dan Titi yang terpilih? Dalam salah satu artikel yang sempat saya baca, sutradara Daniel Ziv mengungkapkan dirinya mencari persona dengan karakter yang mencolok, memiliki kemampuan menggubah lagu, plus berlatar belakang berbeda satu sama lain. Berangkat dari tolok ukur demikian, pembuat film sekiranya ingin menyampaikan bahwa tiga pengamen inilah yang paling menonjol di antara ribuan pengamen Jakarta lainnya.

Lebih dari itu, figur pengamen menjadi penting—dan strategis untuk diceritakan—dibandingkan profesi-profesi lain yang juga berseliweran di jalanan. Tidak seperti penjaja asongan maupun pedagang emperan kaki lima, pengamen memiliki ruang berkreasi yang lebih luas dan terbuka lewat seni musik. Meski ada pula golongan pengamen yang memilih untuk membawakan lagu-lagu populer, pengamen dimungkinkan untuk mengobservasi lingkungan sekitar dan mengeksplorasi kemampuan bermusik sebagai sarana berkomunikasi, yang memungkinkan pembuat film dengan mulusnya masuk ke masalah-masalah sosial di sekitaran ‘masyarakat jalanan’ ini.

Yang selanjutnya perlu digarisbawahi adalah term “menonjol” itu sendiri. Agaknya naif jika kemudian kita menganggap ketiga tokoh Jalanan ialah representasi terhadap kemajemukan pengamen Jakarta. Oleh karenanya, predikat “menonjol” di sini boleh jadi berkaitan dengan apa yang disebut mendiang Terry Morris tentang human interest sebagai teknik penuturan yang mengedepankan aspek personal value, kisah pribadi, hingga dramaturgi pada objek cerita secara eksplisit, bahkan cenderung vulgar. Pendeknya, Jalanan memuat cerita di balik bingkai cerita, the story behind the story, tentang Boni, Ho, dan Titi. Jalanan mengupas kehidupan Boni, Ho, dan Titi lapis demi lapis. Tidak berhenti pada motif dan tujuan mengamen itu sendiri. Dan sekiranya demikian, maka the story behind the story yang dapat dikupas dari ketiga tokoh tentunya amat berkesan sehingga pembuat film merasa layak memfilmkannya.

Lebih bagus lagi, penuturan Jalanan tidak mereproduksi formula film dokumenter yang umum menyoroti kehidupan masyarakat marjinal. Sering kita jumpai varian dokumenter ataupun reality show televisi yang justru mengkomodifikasikan kemiskinan kaum marjinal seperti acara televisi Jika Aku Menjadi atau Tukar Nasib. Jalanan jauh dari eksploitasi karakter yang berakhir pada perkara fulus. Boni, Ho, dan Titi tidak nampak mengeluhkan profesi mereka sebagai pengamen jalanan—atau setidaknya bukan itu yang menjadi fokus pembuat film. Pun tidak ada retorika humanisme semu yang serta merta menjual belas kasihan. Sebaliknya, beberapa adegan malah terlihat mengandung sindiran terselubung.

Perhatikan bagaimana Boni menggunakan tahi/kotoran manusia sebagai metafor kelas sosial di toilet salah satu mall Jakarta, “Tahinya mau gabung, manusianya nggak.” Lalu Ho yang dengan sinisnya berkata, “Nggak usah Insya Allah. Gue orang Indonesia, bukan orang Arab.” Dan Titi yang membawakan lagu-lagu religi dengan dalih, “Biasanya yang berjilbab itu pelit. Kalau kita bawain lagu-lagu religi, baru deh mereka mau ngasih.” Lontaran spontan mereka tak lain merupakan sindiran terhadap perilaku dominan masyarakat Jakarta.

Pola Konsumsi dan Pendewasaan Setelahnya

Menariknya lagi, karena pengamen tidak dipandang sebagai moda eskapisme per se, Jalanan menghadirkan gagasan filosofis terhadap profesi pengamen itu sendiri. Bagi ketiga tokohnya, ngamen bukanlah perkara remeh dan melulu soal batasan-batasan akses sosial. Makna ngamen bagi ketiganya jelas: Boni untuk menyuarakan realitas hidup di sekitarnya; Ho menganggap ngamen sebagai bentuk paling jujur sejatinya sebuah profesi, sebab baginya ngamen sama saja berkarya dengan melacurkan diri; Titi bermimpi untuk berkontribusi dalam bidang seni. Memang berbeda, tapi toh tidak berlandaskan motif mencari uang semata.

Pembuat film tidak menekankan uang sebagai faktor penghambat kehidupan mereka, sedangkan hidup dalam tekanan finansial ternyata masih menyisakan pilihan untuk kaum marjinal. Setidaknya untuk ketiga pengamen Jalanan. Boni masih menyempatkan diri window shopping di mall seraya bermimpi menjadi orang kaya. Tak disangka, impian untuk tinggal di hotel berbintang lima Grand Hyatt direalisasikan dengan sapuan kuas betuliskan Hyatt di dinding kanal huniannya. Lewat adegan ini, jelas definisi kekayaan dalam diri Boni tidaklah semata urusan materi. Boni mematahkan paradigma kekayaan dengan menciptakan kemewahan artifisial pun nonharfiah. Sama halnya dengan Ho. Rata-rata pendapatan per hari kurang dari 20.000 rupiah. Namun opsi atas konsumsi kebutuhan sekunder (bahkan tersier) masih terbuka untuknya. Dari mulai konsumsi rokok, jamu tonik sebagai substitusi pangan, sampai jasa seks komersial masih bisa ia nikmati. Dipertegas lebih lanjut lewat kalimatnya, “Hidup ya harus dihidupkan.” Lain lagi halnya pada Titi, alokasi dananya lebih diprioritaskan untuk kepentingan sekolah anak-anaknya dan bea kesehatan orang tua di kampung. Pendapatan per bulan dari hasil ngamen tidak memungkinkannya untuk menabung, namun tidak menutup kemungkinannya untuk menghibur diri. Sesekali Titi mencuci mata di toko kosmetik emperan, dan itu sudah cukup memuaskan batinnya.

Seandainya saya boleh menyematkan aforisme carpe diem (“seize the day“) pada ketiga tokoh sepanjang paruh pertama film, maka paruh kedua film dan seterusnya tidak lagi demikian. Seiring film bergulir, ketiganya jelas terasa mengalami perkembangan. Saya menganggapnya pengembangan karakter alih-alih inkonsistensi diri. Dan ini patut diapresiasi. Terutama pada jerih payah sutradara Daniel Ziv atas keberhasilannya merekam momen-momen paling intim dalam kehidupan pribadi ketiga tokoh selama bertahun-tahun, sehingga ketiga tokoh terlihat kian matang dalam berpola pikir serta mengambil sikap. Awalnya, corak keseharian yang berlangsung repetitif nyaris tidak membuka peluang apapun bagi mereka untuk melakukan perencanaan jangka panjang. Ditambah lagi tekanan eksternal yang tidak disangka-sangka: ‘Hyatt’ Boni hanyut diseret banjir, Ho dibekuk petugas kamtib, dan Titi diceraikan sepihak.

Namun entah apa yang menjadi poros keteguhan mereka masing-masing selama proses dokumentasi berlangsung, Jalanan berhasil merekam turning point mereka menjadi pribadi yang lebih matang. Film ditutup dengan bentuk-bentuk emosi yang kontras antar tokoh. Boni mengikhlaskan ‘Hyatt’nya karena digusur lantaran terbentur proyek pelebaran sungai oleh pemda. Ho, yang di awal film mengatakan bahwa cinta tidak lebih dari sekedar nafsu yang niscaya bermuara pada urusan ranjang, memutuskan untuk menikah dengan janda tiga anak. Titi berhasil mendapatkan ijazah setelah pontang-panting ikut program Kejar Paket C, sehingga ia tidak perlu risau lagi akan status akademiknya.

Kalaupun ada satu hal yang patut disesalkan, hal itu berkenaan dengan scoring. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada jajaran musisi yang turut membantu proses scoring, sebagai film dokumenter yang menyoroti tiga pengamen dengan keunikan berbeda-beda, sayang sekali jika masih menggunakan scoring garapan musisi lain dengan alasan apapun. Saya pikir potensi musikal ketiga tokoh sanggup mengimbangi kedahsyatan narasi film. Lagipula, film ini bercerita seputar hal-hal pribadi ketiga tokoh dan musik-musik yang mereka ciptakan semasa itu. Tidakkah musik mereka akan lebih relevan sebagai elemen pelengkap cerita? Di samping itu, bukankah Jalanan akan terasa lebih orisinil di mata penonton?

Dan dalam kerangka yang lebih luas, Jalanan dapat diibaratkan sebagai wadah alternatif untuk menantang regulasi. Persisnya pasal 40 Perda DKI Jakarta 8/2007, yang secara tersurat melarang eksistensi pengemis, pedagang asongan, dan pengamen. Sementara lewat film ini pula, bukan mustahil bila paparan human interest dalam keseharian Boni, Ho, dan Titi mampu menjaring simpati dari berbagai khalayak. Seolah Jalanan mencoba mempertanyakan kembali keberpihakan penonton: mendukung, atau menolak regulasi terkait?

Saya membayangkan pertanyaan itu dijawab oleh Ho dengan menyanyi dan menghentak “Regulasi! Masturbasi!”

Jalanan | 2013 | Sutradara: Daniel Ziv | Negara: Indonesia | Narasumber: Ho, Boni, Titi

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (3)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend