The Mangoes: Cerita Renita Lewat Kamera

the-mangoes-film_hlgh

“Tuhan menciptakan manusia itu laki-laki dan perempuan tetapi ternyata Tuhan membuatnya beragam dengan adanya kami, waria. Jadi kami juga bagian dari masyarakat yang juga punya hak untuk memilih,” tutur Renita pada kamera. Dalam The Mangoes (Mangga Golek Matang Pohon), dokumenter berdurasi 98 menit, Tonny Trimarsanto kembali mengikuti waria asal Sulawesi tersebut, setelah sebelumnya melakukan hal serupa dalam film pendek Renita, Renita tahun 2007 silam. Apabila Renita, Renita lebih diniatkan sebagai potret marginalisasi dan diskriminasi terhadap waria, The Mangoes mencoba lebih intim dengan mengisahkan kepulangan Renita ke rumah setelah bertahun-tahun pergi tanpa kabar.

Masa kecil Renita buruk. Ayahnya sering mencambuknya dengan rotan, sampai akhirnya Renita diusir dan tak boleh kembali kecuali membawa anak dan istri. Keluarga Renita adalah penganut Islam yang taat. Begitu juga sekolahnya. Pilihan Renita untuk menjadi waria tentunya tak diterima baik. Nasib Renita setelah mengembara ke Jakarta juga tidak bisa dibilang baik. Di rumah petak kecil, di sebuah gang sempit ibukota, ia membuka salon kecil dan tinggal bersama seorang waria yang diakui sebagai suaminya.

Di sinilah peran kamera menjadi penting. Dari awal hingga akhir film, kamera begitu lekat pada subjeknya, menemani Renita dalam ruang-ruang personalnya. Terungkaplah sisi-sisi seorang waria yang mungkin tak tampak di permukaan. Satu bagian dalam film menunjukkan isi kamar Renita yang begitu sederhana. Tersiratkan persoalan ekonomi yang menimpa Renita, yang secara tidak langsung menggambarkan betapa sulitnya menjadi waria di Jakarta. Terlihat juga persoalan-persoalan lain, macam dikejar front Islam, dikejar tramtib, keluar masuk Pondok Bambu, hingga susah mencari kerja.

Bagian lainnya dalam film memperdengarkan musik keroncong yang Renita suka dengar sewaktu kecil. Timbul nostalgia akan masa lalu, akan kehidupan di asrama sekolah Islam, yang ia anggap manis. Kenangan manis ini yang kemudian ditabrakkan dengan masa sekarang yang tak mengenakkan. Dalam perjalanan pulangnya, Renita sempat mendapat perlakuan kurang sopan dari beberapa penumpang, meski sebelumnya mampu merebut hati beberapa orang dengan membaca nasib dan peruntungan cinta mereka. Renita diperlakukan seenaknya hanya karena ia seorang waria, seorang banci.

Keunggulan The Mangoes adalah sikap pembuat filmnya yang memilih untuk mendekati sisi terdalam subyeknya. Tak ada uraian panjang lebar wacana, tak ada juga pusing-pusing soal identitas yang kerap dianggap menyimpang dari diskursus tubuh normal. Tonny Trimarsanto cukup mendekatkan kameranya. Jarak pandang ini menjadi pengakuan tersendiri atas keberadaan Renita dan teman-temannya sesama waria. Ketika kamera memilih jarak begitu dekat dengan subjek maka realita akan dengan sendirinya menampakkan diri, dan dengan sendirinya pula akan mempengaruhi persepsi dan interpretasi penonton terhadap dunia Renita.

Pengakuan identitas inilah yang kemudian dilengkapi pembuat film dengan potret relasi sosial Renita. Terpetakan sebuah lingkungan yang menghadapkan waria pada sistem yang hanya mengakui dua identitas seksual. Heteroseksual adalah normalitas, lain daripada itu adalah penyimpangan. Ketika lingkungannya masih sulit untuk menerima keberadaan waria, cerita Renita kepada orang-orang di kampung halamannya yang bertentangan dengan realita kehidupannya di Jakarta barangkali tak hanya bisa dibaca sebagai kebohongan, tapi juga sebagai harapan Renita agar diakui dan diterima dari orang-orang di sekitarnya.

The Mangoes dengan baik mencatat betapa peminggiran, stigma maupun diskriminasi terhadap liyan masih terus terjadi sampai saat ini. Ketika kaum minoritas tak mampu bicara dalam segala bentuk hegemoni yang melingkupinya, maka Renita telah berbicara lewat film ini, barangkali juga untuk Renita-Renita lainnya.

The Mangoes (Mangga Golek Matang Pohon) | 2012 | Durasi: 98 menit | Sutradara: Tonny Trimarsanto | Produksi: Rumah Dokumenter | Negara: Indonesia

Film ini diputar di Festival Film Dokumenter 2012, Taman Budaya Yogyakarta, 10-15 Desember.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (1)
  • Boleh juga (1)
  • Biasa saja (1)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend