I Wish I Knew: Subjektifitas Pribadi Dalam Diri Orang Lain

i-wish-i-knew_highlight

Sudah menjadi kebiasaan dalam film-film Jia Zhang Ke, untuk menyertakan panning lambat yang menghadap ke lanskap lalu ditimpali dengan coloring yang mencolok. Kebiasaan teknis itu menemukan momentumnya dalam I Wish I Knew, sebab disana lanskap tidak sekedar menjadi establishing shot sebelum memasuki babakan kecil yang spesifik, tetapi juga menjadi semacam sulaman benang merah yang terus menyelimuti dirinya sendiri. Sebab ia bicara tentang sejarah kota Shanghai, maka peran lanskap menjadi sangat signifikan. Awalnya sebagai pengantar memasuki wawancara subjek (yang nanti juga akan bicara tentang lanskap tersebut), lalu kemudian dibubuhi semacam fade out yang kembali mewajahi lanskap.

I Wish I Knew sedianya adalah sekumpulan wawancara dengan para gaek tentang kenangan masa kecil mereka dengan Shanghai. Para gaek ini datang dari berbagai latar belakang, mulai dari pemain film sampai pemain saham. ada yang menceritakan ketidak-mengertian masa kecil mereka tentang konsep ideologi, kenapa dulu ada sekelompok anak yang dilarang oleh orang tua main dengan sekelompok anak lain. Usut punya usut, kelompok pertama datang dari keluarga komunis sedang kelompok kedua cenderung bertradisi liberal dalam urat akar keluarganya. Adalagi yang menceritakan perihal ayahnya yang diculik lalu dibunuh oleh rezim. Seorang pemain teater menceritakan pengalamannya menonton opera duduk bersebelahan dengan Mao. Begitu-begitu.

Macam-macam memang cerita itu, tapi garis besarnya satu, mereka tengah berusaha menceritakan Shanghai sebagai kota yang tumbuh menjadi pemukiman megapolitan bukan karena disengaja, melainkan karena desakan sejarah.  Zaman dahulu, keadaan dalam negeri China yang begitu menekan memaksa orang terus berpindah tempat, ada yang berpindah tempat berdasarkan niat meningkatkan taraf hidup, ada pula yang pindah karena lelah terus diuntit rezim. Orang yang uangnya banyak pindah ke Taiwan, sementara yang bokek paling banter hanya akan tersangkut di Shanghai. Gelombang perpindahan ini telah berlangsung puluhan tahun, sehingga jumlah orang yang mengendap di Shanghai tak pelak mencapai puluhan juta jiwa. Begitulah akhirnya, Shanghai menjadi kota yang kita kenal sekarang. Zhang Ke meningkatkan tensi dramatis perpindahan itu dengan seringnya shot pada area pelabuhan, sebagai gerbang masuk yang paling sering dipakai orang untuk masuk ke Shanghai.

Ada yang menarik dari proses wawancara tersebut. Semua orang bercerita lewat narasi yang hilir mudik, awalnya memperkenalkan diri sendiri, tapi garis besarnya nanti akan bercerita tentang orang lain, tentang ayah mereka, tentang tante mereka, tentang Mao Zedong, tentang Fei Mu (pembuat film generasi awal di China), dan tentang orang-orang lain yang berada di balik tirai sejarah kota Shanghai. Sehingga, para narasumber yang diwawancarai hanya menjadi semacam lensa hidup bagi penonton untuk mengintip langsung ke Shanghai zaman dahulu. Tak ada subjek yang melontarkan pendapatnya sendiri, hanya cerita jadi yang memang sekiranya pernah terjadi. Menarik menerawangi fakta bahwa sebenarnya, pelaku dokumenter dalam I Wish I Knew bukanlah para narasumber, melainkan orang-orang mati yang diceritakan dalam wawancara itu.

Jia Zhang Ke berusaha untuk membuat para narasumber menilai diri mereka sendiri dari kacamata orang lain yang mereka lihat. Demikian pula dengan Zhang Ke sendiri, ia melihat narasumbernya lewat subjektifitas dokumenter yang begitu kentara. Kelihatan sekali bahwa Zhang Ke mengarahkan film ini dengan sengaja sehingga tidak lagi murni sebagai dokumenter yang ‘apa-adanya’. Pertama, Zhang Ke sangat selektif dalam memilih narasumber. Ia hanya memilih narasumber yang berpikiran liberal, sehingga komunisme akan sangat tidak sedap didengar sebab keluar dari mulut mereka.

Kedua, Zhang Ke menempatkan seorang perempuan berpakaian putih dalam setiap interval wawancara, perempuan itu berjalan di pelabuhan, di atas gedung pencakar langit, naik perahu, ditiup angin (yang tentu saja pasti diarahkan oleh sutradara). Kalau anda mau mengartikan perempuan ini sebagai metafora, saya kira itu boleh-boleh saja. Model video klip boleh juga. Ketiga, Zhang Ke menggunakan film-film terdahulu sebagai medium afirmasi atas hipotesis sinematik yang telah ia buat. Seiring narasumber bicara, sering muncul footage dari film-film lama macam Chung-Kuo China (Michelangelo Antonioni, 1972) dan Flowers of Shanghai (Hou Hsiao-Hsien, 1999). Zhang Ke juga mengajak serta  para pekerja seni untuk menjadi narasumber, berbagi subjektifitas dengan dirinya selaku pembuat film. Hou Hsiao-Hsien ada, Rebecca Pan juga, tak lupa juga penyanyi senior Wei Wei.

Bagi saya, subjektifitas dalam dokumenter ternyata tidak hanya terwujud lewat penyampaian narasumber secara verbal, melainkan juga bisa dibuat idiosinkratis seperti dalam film fiksi. Pada penghujung filmnya, subjektifitas Jia Zhang Ke semakin terlihat menawan lewat narasi dokumenternya yang mengerucut. Dan dalam tradisi dokumenter, khususnya di China, subjektifitas tidak lagi menjadi cacat melainkan menjadi ciri khas yang sangat terhormat untuk dipelihara. Sebab secara historis, subjektifitas telah menjadi kekuatan vital yang memerdekakan penonton lokal dari propaganda rezim bergaya realis lewat televisi

What this documentary broke through is not only the traditional visual expression, but it overly inflated the intrinsic implication of documentary. It made this documentary go towards subjectivity, rather than objectivity. To an extent, it betrayed the principle of truthfulness and lost its real value as a unique form of TV art. (Liang Pengfei, Yin Jun, 2002, hal. 22 sebagaimana dikutip oleh Chi Wang (2009) dalam From Vérité to Post-Vérité: A Critical Analysis of Chinese “New Documentaries”).

Subjektifitas dokumenter membantu penonton untuk melihat dokumenter tidak sebagai representasi kenyataan secara langsung, melainkan tetap sebagai bongkahan wacana yang diuarkan oleh seseorang. Jia Zhang Ke meneruskan tradisi itu dengan sangat terhormat dalam I Wish I Knew..

I Wish I Knew | 2010 | Sutradara: Jia Zhang Ke | Negara: Republik Rakyat China | Pemain: Tao Zhao, Hou Hsiao-Hsien, Rebecca Pan, Wei Wei.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend