No Day Off: Balada Pahlawan Devisa Indonesia di Singapura

No Day Off adalah sebuah film pendek karya Eric Khoo, seorang sutradara Singapura, yang menjadi bagian dari Jeonju Digital Project tahun 2006. Jeonju Digital Project adalah program tahunan Festival Film Internasional Jeonju, Korea Selatan, yang dirintis pada tahun 2000. Setiap tahunnya, sebuah panel dari festival tersebut memilih tiga pembuat film dari seluruh dunia, dan menyodorkan bujet 50 juta Won untuk membuat film pendek berdurasi 30 menit dengan teknologi digital. Pada tahun 2006, Khoo bersama Darezhan Omirbayev (Kazakhstan) dan Pen-ek Ratanaruang (Thailand) mendapat kehormatan tersebut. Masing-masing membuat sebuah film pendek, yang nantinya dirilis bersamaan dalam sebuah volum kompilasi berjudul Talk To Her.

Seperti judul volum yang menaunginya, No Day Off mengkomunikasikan isu perempuan. Spesifiknya: perempuan Indonesia yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Singapura, yang dalam film ditubuhkan oleh seorang karakter bernama Siti. Melalui sekuens sepanjang 38 menit, yang diselingi beberapa teks perihal bisnis pembantu rumah tangga di Singapura, No Day Off mengkronologikan 1519 hari Siti bekerja di negeri tetangga. Film dimulai di Sulawesi, kampung halaman Siti. Selama bagian pembukaan tersebut, terdengar seorang agen menjelaskan ke Siti tentang prospek kerja di Singapura, yang berujung pada persuasi bahwa Siti akan cukup punya uang untuk menghidupi keluarganya. Kemudian, hadirlah rentetan klip-klip yang menggambarkan suka duka Siti selama menjalani kariernya tersebut, mulai dari kesulitannya belajar waktu pelatihan, pengalamannya bekerja dari majikan ke majikan, hingga kembalinya ia ke kampung halaman.

Sebagai sebuah film fiksi dengan rasa dokumenter, No Day Off bercerita dengan logika pengintip. Kamera berada dalam ruang yang sama dengan Siti, dan fokusnya diarahkan ke setiap kegiatan yang ia lakukan sehari-hari. Ruang hanya ditunjukkan secara utuh dalam beberapa master shot, sementara karakter-karakter selain Siti tidak ditunjukkan sama sekali, kecuali suaranya. Alhasil, sepanjang film, penonton mendapati Siti terekam dalam bingkai yang sempit. Penonton hanya bisa mengetahui dunia cerita dari interaksi Siti dengan objek-objek di sekitarnya, yang jadi bagian dari pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga. Di luar itu, penonton hanya bisa mencerapnya dari suara-suara tak berbadan, yang mayoritas berupa instruksi dan omelan ke Siti.

Melihat modus naratifnya, No Day Off tampaknya didesain Khoo untuk membuat penonton merasa bersalah. Dengan tidak menyertakan petunjuk visual bagi suara-suara yang mengarah pada Siti, Khoo membalikkan filmnya kepada penonton. Penonton mau tak mau mengambil peran sebagai mata kamera yang terus-menerus menyorot Siti, dan suara-suara tak berbadan yang terus-menerus memojokkan Siti. Naratif film memanipulasi penonton untuk merasa sebagai antagonis cerita. Konsekuensinya: setiap kritik yang penonton lontarkan terhadap majikan-majikan Siti akan kembali ke diri penonton sendiri. Setiap pertanyaan perihal kondisi kerja Siti akan kembali ke diri penonton sendiri. Naratif No Day Off memposisikan penonton sebagai orang-orang yang bertanggungjawab atas kesulitan yang Siti hadapi, dan mendorong penonton untuk mempertanyakan dirinya sendiri.

Karena naratifnya yang mengantagoniskan penonton, No Day Off idealnya ditonton oleh kelas menengah Singapura. Menurut teks dalam film, kelas menengah merupakan kalangan yang paling banyak menggunakan jasa pembantu rumah tangga di Singapura. Kelas menengah juga yang paling diuntungkan oleh kebijakan pemerintah Singapura, yang tidak mewajibkan adanya hari libur untuk pembantu rumah tangga. Relasi tidak seimbang yang Siti jalani dengan majikan-majikannya adalah relasi yang secara kognitif akan cepat ditangkap oleh kelas menengah Singapura. Apalagi majikan-majikan Siti dalam No Day Off bicara dalam bahasa Inggris, Singlish, Mandarin dan Melayu: empat bahasa yang menjadi bahasa sehari-hari di Singapura. Tidak ada negara lain di dunia ini yang menggunakan keempat bahasa tersebut secara bersamaan sehari-harinya.

Di luar penonton kelas menengah Singapura, No Day Off relatif akan melempem efektivitasnya sebagai suara advokasi. Naratif No Day Off membingkai subjeknya dengan cara yang terlalu sempit, sehingga akhirnya malah menyederhanakan kenyataan yang ada. Relasi majikan dan pembantu rumah tangga direduksi menjadi siksaan dan ketidakadilan semata, tanpa ada penjelasan lebih lanjut tentang faktor-faktor sosial yang memungkinkan fenomena tersebut terjadi. No Day Off terlalu asyik mengantagoniskan penonton, sehingga penonton manapun akan kesulitan memetakan solusi bagi kondisi yang Siti alami, termasuk penonton Indonesia yang warga negaranya direpresentasikan dalam film ini. Salah-salah, potret kehidupan pahlawan devisa Indonesia ini malah diartikan layaknya lagu balada: lirih, mendayu-dayu, dan tidak lebih dari eksotisasi penderitaan semata.

No Day Off | 2006 | Sutradara: Eric Khoo | Negara: Singapura | Pemain: Syamsiah, Suzanne Walker, Jonathan Lim, Henry Thia, Christina Chan, Bosco Francis

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend