Semesta Mendukung: Ketika Motivasi Mengebiri Motivasi

semesta-mendukung_hlgh

Berbarengan dengan silang sunting (crosscut) rancak dan tabuhan tabla serba serempak, kayuhan sepeda Ibu Guru Tari Hayat, dan engah langkah Arif bergantian memasuki layar. Bu Tari senyum pada semua orang, Arif tersaruk lintang pukang, lanskap kota kecil Sumenep duduk tenang di belakang; sebuah pembukaan yang mengesankan.

Sampai di sekolah, Bu Tari menyambut Arif dengan pujian,  “Kamu memang selalu sampai sekolah lebih cepat dari Ibu.” Saya mengernyit, apa hubungan silang sunting rampak dan motivasi untuk sampai cepat di sekolah? Untuk apa Arif berlari seperti dikejar anjing gila? Untuk sampai di sekolah lebih awal dari Bu Tari? Untuk mendapat pujian? Silang sunting rancak tiba-tiba menjadi kurang mengesankan. Itu baru awal. Nantinya, sekuen-sekuen “buntung” serupa bergeletakan hampir di sekujur tubuh film.

Motivasi telah menjadi salah satu komoditas yang paling laris di negeri ini. Laskar Pelangi menembus pencapaian tertinggi jumlah penonton film Indonesia sepanjang masa sebab menjual ironi-penguar-motivasi. Yang beraroma relijius pun tenar karena sedikit-banyak bergelimang janji-janji kesuksesan. Umumnya, film-film ini menggambarkan kesuksesan pribadi tokoh utamanya yang diperoleh lewat kerja keras tak terbatas. Orang berhasil karena rajin, orang gagal karena malas. Keberhasilan tak pernah digambarkan sebagai masyarakat yang berkembang bersama, melainkan sebagai individu yang maju sendirian. Film-film macam ini tak menjanjikan perubahan nasib bangsa, melainkan perubahan nasib pribadi.

Apa yang terjadi bila sebuah film bersikeras ingin mengubah nasib tokoh utamanya sekaligus bangsa muasalnya? Semesta Mendukung adalah bentuk uji coba ini. Dalam salah satu adegan pembuka, Arif menghormat khidmat ke haribaan bendera merah putih, isyarat bahwa sebentar lagi ia akan meniupkan angin segar atas nama bangsa. Satu dua kelebat, kita mengetahui bahwa Arif adalah anak dengan bakat alam dalam ilmu fisika, di lain pihak Arif ditinggalkan Ibunya yang minggat ke Singapura nyaris sewindu silam.  Kesempatan mencari Sang Ibu terbuka lebar, ketika Arif ditawari ikut seleksi tim olimpiade fisika. Yang berhasil, akan bertolak ke Singapura.

Semenjak adegan itu, Arif tak pernah ditampilkan sebagai seorang pejuang. ia adalah anak dengan bakat alam yang mendapatkan segala sesuatunya karena semesta mendukung. Premis yang berkali-kali dilontarkan yang berbunyi “bila kita bekerja keras mewujudkan sesuatu, maka alam akan berkonspirasi mendukung kita,” tak tercermin sama sekali lewat karakter Arif. Ia adalah anak yang tak pernah benar-benar menginginkan sesuatu, ia tak begitu cinta pada sains, ia hanya berusaha mencari uang untuk tahu kabar ibunya yang hilang. Dalam film ini, semesta tidak mendukung orang yang bekerja keras, tetapi mendukung mereka yang punya bakat. Oh, jangan lupakan juga bahwa Arif adalah seorang anak yang soleh. Aroma islam kultural yang menjadi ciri khas film-film Mizan dimasukkan dalam bagian ini.

Alih-alih melihat Arif sebagai pekerja keras yang didukung semesta, saya melihatnya seperti seorang  pendekar kungfu yang didukung banyak sekali kebetulan. Dukungan semesta dalam film ini tampak semata sebagai tuhan-dalam-kotak (deus ex machina) sebab tak didukung oleh penghidangan cerita yang masuk akal. Dalam film kungfu, semalas apapun seorang jagoan, dia tetap bisa menekuk lutut lawan-lawannya atas nama bakat dan kebetulan teknis. Hal serupa terjadi juga dalam Semesta Mendukung, Arif yang awalnya tak mau ikut penataran fisika di Jakarta, memutuskan ikut sebab mencuri dengar obrolan Bu Tari dengan Pak Tio (Pencari bakat untuk tim olimpiade fisika) tentang kehebatan dirinya. Ketika Arif diputuskan tak masuk ke dalam tim yang akan berangkat, tiba-tiba tersiar kabar bahwa dirinya terpilih karena bantuan sebuah sponsor.

Ada sekurang-kurangnya dua tipe narasi tentang motivasi yang marak dalam film-film Indonesia dewasa ini. Pertama, penggunaan motivasi untuk mencapai tujuan tertentu, misalnya, tokoh Ikal yang ingin bersekolah ke Sorbonne, atau tokoh Wahyu yang berkeras ingin main untuk kesebelasan Persema dalam film Tendangan Dari Langit. Kedua, narasi yang begitu tergila-gila pada motivasi per se tanpa peduli untuk apa motivasi itu, Semesta Mendukung contohnya. Dari judulnya saja, kita sudah mafhum bahwa film ini akan berusaha keras menjelaskan mekanisme terwujudnya sebuah motivasi, sementara dalam cerita, tujuan itu tak pernah dipertegas. Mau mencari ibu? Mau berkalung medali? Mau mengharumkan Indonesia? Mau mengharumkan nama sendiri? Atau Semuanya? Ketidaktegasan itu seolah dipandang bukan sebagai masalah sebab konsentrasi film ini terletak pada niatannya menjelaskan konspirasi positif alam semesta, yang sayangnya, hanya terbaca sebagai kebetulan yang tidak istimewa, malahan sebagai lubang besar penceritaannya.

Pada akhirnya, ketika berkaca pada film motivasi sebagai cermin penonton secara umum, Semesta Mendukung jadi tak relevan sebab film ini menyulam kelindan paksa antara kehilangan eksistensial, bakat potensial, dan rahasia magis sang semesta yang mana kombinasinya tak banyak ditemukan dalam kehidupan nyata. Perangkat-perangkat yang dikandung Semesta Mendukung terlalu lemah untuk menjelaskan tema besar yang ingin diangkatnya. Alih-alih menjelaskan semuanya lewat tindak laku Arif, film ini malah memberi nasihat kesana-kemari dalam bentuk verbal yang membuat penonton tak nyaman sebab tak pernah dilaksanakan. Kehendak hati memberi inspirasi, apa daya malah mengebiri motivasi.

Dukungan semesta yang dirancang untuk terlihat magis malah tampak seperti kebetulan yang pandir. Judul agung “Semesta Mendukung” malah tercerap laiknya judul dangkal “Sponsor Mendukung”.

Semesta Mendukung | 2011 | Durasi: 101 menit | Sutradara: John De Rantau | Produksi: Mizan Productions, Falcon Pictures, Surya Institute | Negara: Indonesia | Pemeran: Sayev Muhammad Billah, Lukman Sardi, Revalina S. Temat, Ferry Salim, Helmalia Putri.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend