Life Cycle: (Narasi + Afeksi) x Promosi = Konsumsi

life-cycle_highlight

Banyak orang bilang kehidupan sejatinya adalah siklus, bergerak memutar. Seperti dalam pelajaran IPA yang kita dapat waktu SD: dari biji akan tumbuh tunas, tunas berkembang jadi pohon, pohon tumbang dan mati, jasadnya terurai dan menyuburkan tanah untuk bisa ditumbuhi pohon lagi. Atau seperti siklus air, bahkan rantai makanan. Ada proses atau perjalanan yang seolah tak henti-hentinya, karena menempuh jalan melingkar. Narasi besar di atas yang coba digunakan sutradara Derek Frankowski dan Ryan Gibb sebagai parabel dalam film mereka, Life Cycle, sebuah esai-dokumenter tentang sepeda dan bersepeda. Pemilihan judul tersebut menjadi poin plus tersendiri. Apabila diterjemahkan secara harafiah, judul tersebut berarti “sepeda kehidupan”. Orang masih mahfum bila film ini ternyata tentang sepeda. Di sisi lain, judul tersebut juga berarti “daur hidup”, satu narasi besar yang mengaluri keseluruhan film ini.

Sebenarnya saya tidak terlalu yakin menyebut film ini dengan istilah esai-dokumenter. Karena saya juga tak paham genre film ini sebenarnya apa. Namun, dua modus penceritaan tersebut yang jalin-kelindan dalam keseluruhan film: antara film dokumenter dengan struktur esai, atau film esai dengan kemasan dokumenter. Saya sebut esai karena, seperti dijelaskan di atas, film ini bicara tentang bagaimana sepeda dan (aktivitas serta pengalaman) bersepeda sesungguhnya merupakan satu daur hidup tersendiri. “Life is a river … A beginning, an end, a million different ways in between,” kata narator di adegan pembuka film. Lalu topik narasi meluas hingga ke soal-soal lain: pengalaman bersepeda saat kecil, invensi dan inovasi sepeda, pembalakan hutan, serta masa ketika sepeda rusak, mati, dan tak bisa diapakai lagi. Sementara narator bicara, gambar-gambar terus berjalan menjadi deskripsi atas narasi. Gambar-gambar itulah yang memunculkan modus dokumentasi dalam Life Cycle. Hal-hal yang berhubungan dengan sepeda dan bersepeda, mulai dari proses pembuatan sepeda di pabrik dengan teknologi mutakhir, aksi para bikers nan akrobatik, pemandangan alam yang sensasional, perubahan musim yang seolah dipercepat (serasa menonton Discovery Channel), hingga para mekanik sepeda yang cekatan menservis sepeda yang habis dipakai, ditampilkan secara apik dan artistik, meski tak cukup informatif dan di beberapa adegan terkesan dibuat-buat.

Dua modus tersebut tampaknya diperhatikan dengan jeli dan digarap dengan rapi oleh Frankowski dan Gibb. Setiap detail kalimat, shot, dan (tak lupa) scoring seperti sudah dipersiapkan sebelumnya. Sehingga antara narasi, gambar, dan suara seolah menjadi satu kesatuan yang utuh. Hasilnya adalah satu rangkaian yang begitu dramatis. Misalnya adegan di pabrik: shot-shot proses pembuatan sepeda yang serba industrialized, dengan latar musik tekno-industrial. Adegan lain: seorang biker melaju cepat sementara musim berganti di sekitarnya dengan sama cepatnya (dari panas ke gugur, dan konon proses produksi film ini memakan waktu dua tahun). Atau: saat dua orang bikers sedang downhill dengan kecepatan tinggi, narasinya “No time to think, just reaction…”, dan lagu latarnya In A Sweater Poorly Knit besutan MeWithoutYou, yang bertempo cepat dengan distorsi gitar yang kental. Di bagian akhir tempo lagu melambat, distorsi lenyap, lalu ditutup petikan harpa yang syahdu dan sendu, sementara kamera mengarah pada dua bikers yang meniti lintasan kayu dengan kecepatan gambar diperlambat.

Menimbang fakta bahwa produksi Life Cycle melibatkan perusahaan besar Shimano (perusahaan sepeda), sekaligus sebagai respon terhadap euforia maraknya komunitas sepeda, apa yang dilakukan Frankowski dan Gibb sebenarnya bisa dibaca sebagai usaha promosi. Pertama, promosi produk. Hal ini dapat terbaca dari logo Shimano yang muncul di credit title sekaligus tercetak di atas gir sepeda dalam adegan di pabrik. Dalam relasi konvensional produser dan sponsor, kedua pihak sama-sama diuntungkan: produser bisa bikin film karena didanai, sedangkan sponsor bisa menumpang promosi. Kalimat narasi tentang invensi dan inovasi produk sepeda menjadi tag-line promosi yang sangat efektif di sini.

Kedua, promosi gaya hidup. Siapapun yang menonton film ini pasti akan berkomentar bagus atau setidaknya menghibur, mengingat kesatuan gambar-narasi-musik yang artistik dan dramatis itu. Apalagi mereka yang memang bagian dari komunitas penyepeda, bisa dipastikan bakal berkomentar “luar biasa!” atas film ini. Mengapa? Satu poin yang disasar film ini sebagai media promosi gaya hidup adalah resepsi afektif penontonnya. Ada kalimat narator tentang satu ikatan batin tertentu antara sepeda, penyepeda, bersepeda, dan lingkungan bersepeda. Nah, para penonton yang sekaligus penyepeda seolah didorong untuk juga memberi makna atas aktivitas bersepeda mereka, tentu seperti apa yang telah ditampilkan oleh film ini: menikmati alam sambil memacu adrenalin. Bisa saja bukan, seorang penyepeda amatiran yang sedang downhill di perbukitan Kaliurang, membayangkan dirinya adalah biker profesional seperti Mike Hopkins dalam Life Cycle? Atau bahkan memaknai bersepeda sebagai suatu wahana relaksasi sekaligus penemuan kembali diri, laiknya yoga, meditasi, traveling, atau backpacking? Bukankah seperti itulah gaya hidup manusia urban jaman sekarang?

Tentu saja relasi antara sepeda sebagai produk dengan sepeda sebagai gaya hidup bakal selalu jalin-kelindan. Bila ada pertanyaan “lebih dulu mana, ayam atau telur?”, justru di sini posisi keduanya dapat saling dipertukarkan. Misalkan ada produk sepeda baru, ambil contoh sepeda lipat, sejurus kemudian wacana tentang gaya hidup bike-to-work bakal dihembuskan. Dengan bonus pengguna sepeda tak perlu repot-repot mencari tempat untuk memarkir sepedanya, di bawah meja kerja pun bisa. Di sisi lain para bikers amatiran yang tersengat oleh pesona film Life Cycle, misalnya, bakal penasaran mencari tahu apa saja perangkat keras yang digunakan para professional bikers, membelinya, membuktikan keampuhannya, memamerkannya kepada sesama biker, lalu entah apalagi. Dari semua ini, apalagi kalau bukan urusan konsumsi?

Life Cycle | 2010 | Sutradara: Derek Frankowski & Ryan Gibb | Negara: Kanada | Narasumber: Graham Agassiz, Mike Hopkins, Matt Hunter, Cam McGaul, Riley McIntosh, Evan Schwartz, Brandon Semenuk, Thomas Vanderham.

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (0)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (0)
Share

Send this to a friend