Somewhere: Liburan ‘Bosan’ Bareng Artis Hollywood Kenamaan

 

somewhere-film_highlight

Teman, pernahkah kalian menonton film yang rasanya biasa-biasa saja tapi selalu terkenang hingga berhari-hari setelah menonton? Somewhere-nya Sofia Coppola adalah film-film semacam ini. Di tiga puluh menit pertama, saya sibuk mengutuk kenapa film sejelek ini bisa menang Golden Lion (penghargaan untuk film terbaik) di Festival Film “bergengsi” Venezia tahun ini. Masih banyak kompetitor lain yang jauh lebih berpotensi macam A Sad Trumpet Ballad (Álex de la Iglesia, Spanyol) atau Essential Killing (Jerzy Skolimowski, Polandia). Tetapi ketika film memasuki durasi dua pertiganya. Saya mulai disekap rasa rindu yang galib. Rindu untuk kembali ke durasi awal dimana saya giat mengutuk tadi. Somewhere membuat kita tersedu-sedan bernostalgia bahkan sebelum filmnya usai. Tak sadar, saya mulai menarik kutukan saya tadi pelan-pelan.

Ceritanya cenderung kurang kerjaan, Johnny Marco adalah aktor Hollywood yang lumayan sukses. Karena ia seorang duda, maka ia tinggal sendirian di apartemennya. Johnny mengisi waktu luang dengan menonton tetarian striptease, sesekali ia juga tidur bersama perempuan tetangga kamarnya. Selain itu, kerjaannya Cuma menonton televisi, berenang, bermain game, intinya ia kurang kerjaan. Suatu hari, ia kedatangan Cleo, anak perempuannya yang baru berusia 11 tahun yang selama ini tinggal dengan ibunya (mantan istri Johnny). Ternyata, Cleo akan dititipkan beberapa hari karena sang mantan istri sedang punya pekerjaan sendiri. Bukannya drama atau perubahan signifikan yang didapat, Johnny hanya mendapatkan satu tambahan orang. Ia tetap berenang, membuat spaghetti di dapur apartemennya, bermain Nintendo Wii, berduel Guitar Hero; tetapi bedanya ia kini main berdua dengan anaknya.

Plot yang dijalin Somewhere seperti menertawai penontonnya yang lagaknya sudah bersiap-siap diselimuti drama yang melunakkan hati dan perasaan. Saya bahkan sudah berseru yakin “Ini drama sedih keluarga, yang merubah hidup karakternya, yang kemungkinan besar berujung pada reunifikasi keluarga”. Celakanya, ternyata saya juga termasuk dalam golongan penonton yang ditertawai oleh film ini. Sedari awal ia telah menjelaskan aturan: No Drama. Sehingga setiap kemungkinan terciptanya ruang-ruang sensasional, dipotong lekat-lekat lalu disingkirkan jauh-jauh.

“Anti-Drama” adalah istilah yang paling tepat untuk menggambarkan film-film semacam ini. Dimana drama dan kejadian spesial dalam hidup justru dianggap sebagai momentum yang klise dan tak dimasukkan kedalam film. Saya mencatat, beberapa kali Johnny maupun Cleo hampir terjebak masuk kedalam drama lalu kemudian balik lagi seperti biasa. Tak ada gambar yang bagus, tak ada dialog cerdas, apalagi trik-trik kamera sinematik yang mengundang decak kagum. Seperti juga Johnny dan Cleo yang tak punya apapun selain kebiasaan manusiawi sehari-hari, treatment sinematografi yang diterapkan Sofia Coppola juga sangat sehari-hari.

Dengan cara yang tidak dramatis, Somewhere justru berhasil menyampaikan pendirian politisnya dengan cara yang terbuka. Film ini bertujuan membantah setiap anggapan klise bahwa apapun yang berhubungan dengan Hollywood itu pasti spektakuler. Secara naratif, Somewhere membasmi semua penanda yang selama ini membenarkan anggapan itu lalu meletakkan Hollywood sebagai arena pekerjaan biasa: seperti juga wartawan, arsitek, tuan pos, pengusaha lahan parkir, yang sama sekali tak punya unsur dramatis apalagi spektakuler. Hollywood dikisahkan sebagai dunia yang bosan luar dalam.

Kekuatan Somewhere lainnya terletak pada kemampuannya memotong sekuens dengan timpang tanpa membuat cerita menjadi pincang. Ada sebuah titik dimana penonton rindu setengah mati untuk kembali melihat Johnny dan Cleo ketemu bersama lagi, meskipun untuk sekedar main Nintendo Wii. Sebab selepasnya kita menonton Somewhere, rasanya kita baru saja pulang ke rumah sehabis liburan bersama seorang aktor profesional dari Hollywood dan anak perempuannya yang imut. Liburan itu sangat menyenangkan; berenang, bikin spaghetti, main Guitar Hero, dan kita ingin sekali kembali kesana, kembali berlibur dan merasa sedih karena kita harus balik lagi ke dunia nyata. Somewhere memang bukan film yang luar biasa, tapi ia adalah tipe film yang piawai memantik rasa kangen untuk kembali menonton filmnya, lagi dan lagi.

Lalu kenapa film yang tidak luar biasa ini berhasi menyabet penghargaan tertinggi di Festival Film Venezia? Tentunya itu sepenuhnya urusan dewan juri, anda tak akan mendapatkan jawabannya dari saya.

Somewhere | 2010 | Sutradara: Sofia Coppola | Negara: Amerika Serikat | Pemain: Stephen Dorff, Chris Pontius, Elle Fanning, Lala Sloatman, Karissa Shannon

Pendapat Anda tentang tulisan ini
  • Mantap! (2)
  • Boleh juga (0)
  • Biasa saja (0)
  • Lupakan (1)
Share

Send this to a friend